15:11 - Sabtu, 22 November 4481
Senin, 17 April 2017 | 11:32

Tragedi Tahu Bulat

Tragedi terbakarnya kompor penjual tahu bulat di Grati, bagi Firman Murtado adalah sebuah duka mendalam. Ngalah-ngalahi seandainya pesawat rombongan anggota dewan nyemplung di Segi Tiga Bermuda. Tapi anehnya, media lokal tidak meliputnya, apalagi nasional. Padahal bagi Firman Murtado, ini bencana ekonomi, sosial sekaligus kemanusiaan. Media zaman sekarang memang konon kurang objektif, sarat kepentingan dan memberitakan sesuai isme pemiliknya. Itu katanya. Firman Murtado ndak tahu apa-apa meski ia sendiri punya kerja sampingan jualan pitenah di sebuah media. Musibah yang menimpa rakyat kecil, termasuk terbakarnya mobil penjual tahu bulat, perlu ditandai dengan pengibaran bendera setengah tiang menurut Firman Murtado.

“Kenapa begitu, mas?” tanya Arif seraya kebal-kebul rokok eceran-utangan di warung Cak Manap.

“Karena mereka, penjual tahu bulat keliling itu adalah korban kekurang merataan kesejahteraan nasional, Rif. Kita ini kaya, investor leluasa mayoran kekayaan alam kita, namun rakyat kecil seperti kita, selalu ndak uman berkat.”

“Tapi itu artinya mereka kreatif, mas.”

“Benar, tapi nanti, saya berani taruhan, pasti pemerintah ngeriwuki. Dulu sedulur-sedulur tukang becak berinovasi dalam rangka menghemat tenaga dan meningkatkan pelayanan terhadap penumpang dengan memodivikasi becak motor, pemerintah kemudian melarang mereka beroperasi di jalan raya. Kalau dipikir-pikir, becak motor diharamkan sementara rombongan moge dikawal dan sak enake dewe melarang pengendara lain –yang mungkin punya keperluan mendesak—disuruh minggir, sepertinya ingin kudeta saja.” Firman Murtado menyeruput kopi Arif, joinan karena ia tak mampu beli kopi sementara utangnya di warung sudah memalukan.

“Saya salut dengan ekspansi tahu bulat yang menasional itu. Ke makam Gus Miek di Kediri, saya menemukan mereka di jalan. Ke makam Gus Dur di Jombang, saya ketemu mereka. Ke Gresik, juga ada mereka. Bahkan kata teman-teman di Banyuwangi, tahu bulat sudah berekspansi ke sana. Padahal, kalau didengar dari logat halo-halo di megaphone mereka, sepertinya dari Jawa Barat.”

“Tahu, bulat, digoreng di mobil, dijual lima ratusan, ennnak!”  Arif cengengesan meniru jingle pedagang tahu bulat keliling itu.

tahu

“Ini namanya gerakan ekonomi kreatif. Anak-anak muda, menjual tahu keliling Nusantara dengan modal operasional besar, ini suatu keberanian yang jarang terjadi. Bayangkan, perbutir tahu mereka jual hanya lima ratus rupiah, pakai mobil pick up, pakai elpiji yang secara rutin diam-diam dinaikkan harganya. Apa dapat laba? Bensinnya berapa, biaya makan, minum, rokok, belum lagi kalau kena tilang? Lha kalau terjadi musibah seperti yang terbakar di Grati  kemarin, bagaimana?” Firman Murtado sebenarnya ngiler ingin ngampung rokok, tapi ndak tega.

“Iya ya, ternyata kita ini belum merdeka secara ekonomi?” Arif manggut-manggut.

“Belum merdeka di segala bidang, Rif. Kemerdekaan dan tujuan kemerdekaan hanya bagi orang berkeki dan bersafari, rakyat jelata seperti kita masih terjajah.”

“Jangan asal jeplak mas. kena HAM nanti sampeyan.”

“He he he, pengesahan HAM itu memang dalam rangka melindungi kaum seperti itu. Jadi kalau punya akal bulus, diprotes, jurus silat lidah dan rompi antipeluru bernama HAM sudah tersedia.”

“Sudah, mas. Ndak ilok ngerasani mereka terus. Nanti dikira iri.”

“Ya, lagi pula kaum otot kawat balung wesi dan rai cor ndak akan rumongso meski kita pledingi.”

“Kalau menurut saya, Mas Firman, ekspansi tahu bulat itu adalah perintis waralaba lokal yang patut kita contoh. Bahwa mencari rejeki, tidak harus terus ngenger sama program-program ndak jelas pemerintah, ngenger sama pemilik pabrik apalagi makelari bongso dewe. Kalau setiap orang punya inisiatif membikin lapangan kerja sendiri, lambat laun roda perekonomian akan bergeser secara perlahan. Ini patut kita tularkan kepada anak-anak kita yang akan lulus dari SMA, biar ndak terbiasa menyebar lamaran kerja untuk menjual murah potensi diri mereka yang masih hot jos gandos.”

“Itu bagi anak-anak yang saat sekolah serius, Rif. Tapi bagi mereka yang hanya rajin membolos, menelan pil buat kucing apalagi pernah njotosi guru, profesi yang cocok mungkin menjadi pengurus partai, bukan wiraswasta begitu.”

“Ah, sampeyan mas. Kok ndak omes temen sama anak-anak alay.”

“Lha bagaimana lagi, wong dieman ndak mau?”

“Lha menurut sampeyan, bagaimana cara menularkan semangat berwiraswasta seperti sedulur-sedulur penjual tahu bulat itu?”

“Sulit, Rif. Perlu adanya hidayah nasional untuk merubah mind set menjadi petarung begitu. Kita ini adalah bangsa yang suka mlungker di zona aman. Makanya, profesi idaman setiap manusia Indonesia adalah pegawai yang ada NIP nya. Aman dari pemecatan meski kerja sak enake dewe, ndak ada target, bisa ngopi atau ke swalayan kapan saja sementara bayaran rutin mundak. Tunjangan ini-itu, bahkan anak –istri yang ndak ikut “berkontribusi” apapu terhadap negara, kalau pilek dirawat negara. Mungkin, kita perlu gembar-gembor kalau wiraswasta itu asyik. Ndak dipisuhi keragan, targetnya hanya pada diri sendiri dan kalau untung, seratus persen kita kesak dewe.”

“He he,benar mas. Saya lihat sampeyan saja, kalau buka lapak potong rambut sak enake dewe. Kalau ndak mood dan semangat ingin keluyuran sedang tinggi, sampeyan bisa tutup sak enake dewe.”

“Na, ini yang ndak benar. Jangan ditiru cara saya mengelola lapak cukur rambut. Sebab itu hanya kamuflase agar mertua ndak rutin “khotbah Jum’at” karena masih saja berperan sebagai semacam IMF. Kita tiru ekspansi tahu bulat itu. Ya kerja kerasnya, mental bajanya, ya berani resikonya.”

“Sayangnya satu, mas.”

“Apa?”

“Penyakit latah kita parah. Nanti, pasti semua orang akan ikut-ikut jual tahu bulat, sehingga kalau bangkrut, ya juga berjamaah.”

“Bangsa tukang bajak!”

Penulis : Abdur Rozaq (wartabromo)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Bikini di Pantai Lekok

Kartini, Eh Kartono