15:11 - Jumat, 22 November 4497
Sabtu, 22 April 2017 | 13:51

Di-PHP, TPP

Hingga menjelang subuh, Firman Murtado masih ketap-ketip ndak bisa tidur. Mlungker di kursi ruang tamu, berkelahi dengan nyamuk dan pikiran kalut, mangkel dan perasaan ingin melakukan kudeta. Malam ini ia diboikot oleh istrinya. Pintu kamar dikunci dari dalam dan dipasangi garis polisi. Karena takut ketahuan mertua, gencatan senjata ditetapkan sepihak oleh Firman Murtado. Bukan karena emansipasi Kartini telah menggusur harga dirinya sebagai laki-laki, tapi ia memang harus tahu diri karena selama ini belum genah dan pokro memberi uang belanja. Pikenik, wisata kuliner alias wisata badokan dan membelikan istrinya kerudung dari toko online tak pernah, bahkan untuk makan pun, subsidi sembako dari mertuanya masih rutin seakan keluarga kecilnya korban bencana alam yang meringkuk di tenda darurat kehidupan.

Selain dari pada itu, Cak Manap –entah dengaren—menanyakan kapan Firman Murtado nyicil deretan catatan hutang kopi dan rokok eceran di warung. Harapan mendapat rejeki agak besar satu-satunya, yaitu mimpi basah bernama Tunjangan Profesi Pendidik (TPP) masih saja beku, tak tahu kapan cair seperti es batu di dalam kulkas. Buwuhan makin banyak, meski tiap bulan ada saja orang  mantu. Program pengembang biakan rakyat Indonesia makin getol. Tak pandang bulan becik orang mengadakan hajatan. Dan sebagai mahluk sosial, istrinya harus ikut nyelawat, sambang bayi, menjenguk tetangga sakit, ikut arisan Dibaan, jumputan dan memberi sedekah kepada para pengamen yang tiap hari bisa sampai lima rombongan konser di depan pintu rumah mertuanya.

Firman Murtado sudah terbiasa merapalkan ilmu ajian Rai Gedek di hadapan mertuanya. Ilmu ajian Pengasihan atau ajian Panglimunan agar orang ndak tego nagih utang atau yah-yoh saja diutangi lagi,  juga ia kerahkan.

images (76)-650x400

Tapi manusia kan ada apesnya juga? Sepintar-pintarnya Wak Lurah menggelapkan dana desa atau memelihara janda, lama-lama ketahuan juga. Serapi-rapinya orang membuang bayi hasil aborsi,Wak Polisi akan tahu juga. Hanya para sedulur begal yang benar-benar sakti sehingga selalu berhasil main jemblong singit. Malam ini Firman Murtado kalah. Digebloki habis-habisan oleh pentungan kehidupan yang keji. Maka, pihak yang harus bertanggung jawab dan mesti ia paiduh adalah: Pemerintah.

“Kapan TPP cair, pak?” katanya tanpa basa-basi kepada kepala seksi Harapan Palsu Departemen Urusan Pencerdasan Bangsa.

“Wah, saya belum bisa memastikan, mas.”

“Sampeyan dulu bilang paling lambat ahir Maret. Ini sudah menjelang ahir April, pak.”

“Lho, kami kan hanya menunggu pusat?”

“Halah, kadang sudah turun dari pusat tapi masih sampeyan ternak di bank, dianak-pinakkan bunganya.”

“Jangan asal tuduh, wong ndak ada buktinya. Mana datanya?”

“Ya karena teman-teman pekerja rodi ndak berani buka, pak. Sampeyan kan suka ngecing. Kalau kami macam-macam, jangan-jangan berkas kami sampeyan buang, ndak disetor ke pusat agar ndak bisa cair?” kepala seksi Harapan Palsu Departemen Urusan Pencerdasan Bangsa mbrabak abang wajahnya. Tapi Firman Murtado ndak pernah takut pada apapun.

“Kalau protes jangan sama saya dong, mas. Sama pusat sana.”

“Sebelum saya maiduh pusat, rasanya ndak lego kalau ndak maiduh sampeyan. Sebab sampeyan ndak pernah gati membayar kami. Seperti mbayar DPR gitu lho, pak. Gampang cair, ndak pakai pemberkasan yang sulitnya ngalah-ngalahi syarat masuk sorga, meski mereka sering bolos kalau rapat.”

“Hush, ndak ilok!”

“O, begitu, ya pak? Oke pak, sampeyan kan kepanjangan pemerintah pusat, tolong sampeyan sampaikan usul saya, ya? Nama saya Firman Murtado. Sudah belasan tahu saya mengabdi, eh menumbalkan diri kepada pemerintah, khususnya kementerian Pencerdasan Bangsa. Saya mewakili teman-teman pekerja rodi sektor Pencerdasan Bangsa, merekomendasikan, eh memerintahkan agar pemerintah lebih serius memperhatikan apakah kami bisa nempur beras atau tidak?”

“Pakai surat resmi aja, mas.”

“Halah, nanti jangan-jangan dibuang ke tempat sampah.”

“Sampeyan ini suudhon terus sama kami.”

“Lha wong selalu dihiananti, di-PHP, bagaimana kami bisa yakin?”

“Pokoknya saya ndak mau kalau hanya laporan lisan.”

“Oke, pak. Tolong ketik rekomendasi saya. Dan jangan  disabotase. Ingat, suara rakyat suara Tuhan! Saya rekomendasikan kepada pemerintah untuk segera membayar tunjangan profesi secepatnya. Kalau bisa PNS-kan seluruh guru swasta biar konsen mengajar, ndak ngajar sambil cari sampingan buat beli beras.”

“Ngawur! Bangkrut negara kalau semua guru diangkat sebagai PNS.”

“Lha wong tukang nguras got saja lama-lama dikasih NIP, kenapa guru yang membantu negara biar rakyat ndak bloon nggak di-PNS-kan? Sampeyan jadi calak begini karena jasa guru, kok?”

“Saya birokrat, mas. Bukang calak atau tukang sunat.”

“Sampeyan itu tukang sunat, wong dana TPP saja sampeyan sunat, kok?”

“Ngawur!”

“Begini, pak. Pemerintah itu punya nurani ndak sih?”

“Sampeyan ini……”

“Lha kalau punya nurani, daripada uang negara habis buat pilkada, lalu yang terpilih malah korupsi. Daripada dirampok pejabat atau hambur-hambur ndak jelas, lebih baik buat mbayar guru yang hampir di seluruh negeri menderita busung lapar. Mau produktif dan inovatif bagaimana kalau kurang gizi? Mau konsentrasi ngajar bagaimana kalau nyambi kerja sampingan biar bisa nempur beras? Terus juga, audit perusahaan-perusahaan pendidikan yang pengelolanya makin kaya tapi para gurunya menderita gizi buruk.”

“Jangan terlalu banyak saran, mas.”

“O, jadi ndak mau dikritik, ya? Kalau memang ndak siap, nulis surat pengajuan pensiun dini saja, pak. Biar produktif kan juga perlu regenerasi? Sudah sepuh itu memang ingatan dan etos kerja cenderung menurun.”

“Saya masih segar bugar dan belum stroke, mas. Wong saya masih sanggup kok ngopeni para janda? Tiap dua minggu sekali pijat ke selatan Pandaan sana. Sampeyan jangan ngapes-ngapesno saya.” Bapak pejabat Urusan Pencerdasan Bangsa menggebrak meja. Firman Murtado sudah nyincing lengan baju. Saling tuding pun terjadi dan braaakkkk!!! Firman Murtado terjatuh dari atas kursi. Kemul dan bantalnya ikut jatuh, Firman Murtado terjaga dari tidurnya. Memang sebatas mimpi, tapi ia sudah lego bisa nduding-nduding bapak tadi. Kalau di alam nyata memang ndak mungkin, ia takut makin dipersulit.

Penulis : Abdur Rozaq (wartabromo.com)

Komentar Anda

Komentar

Gerakan Ngambul Nasional

Teknologi Pemanenan Selamatkan 7,3 Juta Ton Gabah