16:45 - Sabtu, 25 November 2017
Jumat, 5 Mei 2017 | 18:00

Jenang Abang Kelulusan

Begitu Gus Hafidz duduk di lincak warung, Cak Manap langsung mengeluarkan beberapa piring Jenang Abang.

“Mohon barokah fatehah, gus. Anak saya selesai ujian nasional. Saya selameti Jenang Abang sebagai rasa syukur. Dan semoga segera dapat pekerjaan” kata Cak Manap. Gus Hafidz mematikan rokoknya, siap-siap membaca fatihah seperti permintaan Cak Manap. Tapi Firman Murtado langsung interupsi.

“Sik cak, salah ini!” katanya.

“Maksudnya?”

“Selametannya salah. Kalau judulnya tahlilan dalam rangka bela sungkawa , ndak apa-apa.” Cak Manap yang tak pernah marah, mbrabak abang wajahnya.

“Saya tersinggug Mas Firman Murtado. Wong niat saya baik, kenapa sampeyan protes? Sampeyan menuduh saya pelaku bid’ah?”

“Ndak ada sangkut pautnya dengan bid’ah, cak. Tapi selametan sampeyan ini salah tempat”

“Salah tempat bagaimana?” Cak Manap muntap.

images (83)-650x500

“Selesai ujian nasional kok selametan tasyakuran? Harusnya berbela sungkawa.”

“Lho, sampeyan ini mabuk kecubung ya? Lha wong selesai ujian kelulusan setelah belasan tahun sekolah, tasyakuran kok malah disalahkan?”

“Aku punya alasan, cak.”

“Alah, alasan tembelek. Sampeyan ini, kalau mau ngisruh jangan sama rakyat kecil seperti saya. Kalau berani, sana, kisruh para pejabat yang ndak pokro itu. Kalau mau ngisruh, kisruh para pegawai yang suka nongkrong di warung saat jam kantor dan suka pungli itu. Kisruh juga pembalak hutan, penambang perusak lingkungan atau orang Korea yang membuang limbah pabriknya ke suangai sehingga tambak hancur, petani dan nelayan njerit karena ikan almarhum.”

“Jangan ngamuk dulu, cak.  Saya kasihan sampeyan karena sampeyan ini nyelameti hal yang seharusnya ditangisi.”

“Ngawur.”

“Anak sampeyan itu memang sudah lulus SMA, tapi itu artinya dia akan menjadi calon pengangguran.” Cak Manap meneng cep! Tolah-toleh sama Gus Hafidz, Ustadz Karimun dan menatap Arif yang bertahun-tahun lontang-lantung dan status kemahasiwaannya ndak jelas. Terahir ia menatap Firman Murtado yang –nuwun sewu—sarjana tapi hanya jadi kembange embong.

“Apa benar, gus?” tanya Cak Manap kepada Gus Hafidz.

“Sepertinya ada benarnya juga, cak. Tapi Gusti Allah itu loman, asal tawakkal insya Allah ada jalan.” Jawab Gus Hafidz. Cak Manap pucet.

“Kalau ndak percaya, bawa sini Hendri, anak sampeyan itu” tantang Firman Murtado.

“Sini, le” panggil Firman Murtado.

“Ada apa lik”

“Sini, duduk. Aku pingin ngobrol.”

“Sik, lik. Nanggung, game saya mau naik level” katanya masih melototi HP-nya. Entah apa dosa Cak Manap. Wong sudah bersih rejeki yang disuapkan, kenapa kok anaknya seperti anak DPR?

“Sudah selesai Ujian Nasional, ya le?” tanya Firman Murtado.

“Ya, lik.”

“Gimana?”

“Apanya, lik.”

“Lancar ujiannya?”

“Ndak tahu, lik. Wong tinggal oret-oret LJK, kok”

“Lha masa ndak mikir blas, ndak milih jawaban yang paling benar?”

“Kata kepala sekolah pasti lulus, kok, lik. Tiap pagi diberi “kunci T”, lapo mau ruwet-ruwet?”

“Oo, begitu ya?”

“He em” dari tadi Hendri masih menatap HP-nya, menjawab obrolan Firman Murtado seraya main game, kadang ia misuh juga.

“Setelah lulus ke mana rencanya, le?”

“Kerja, lik.”

“Kerja apa kira-kira?”

“Ngelamar ke PIER sana, lik.”

“Lho, ndak kuliah?”

“Buat apa kuliah, lik. Nanti lulus ya nganggur.” Dalam hati Firman Murtado misuh. Memang benar ucapan nyambek kecil anak Cak Manap itu. Toh dirinya juga hanya jadi pekerja rodi setelah jadi sarjana. Sok pahlawan mencerdaskan bangsa sekaligus memperkaya pemilik PT. Lembaga Pendidikan.

“Tapi sekarang angel masuk pabrik, le. Tesnya rumit, outsourching dan saingannya banyak.” Hendri diam. Sepertinya ia juga pernah mendengar kalau cari kerja itu ndak gampang. Maka, Firman Murtado punya kesempatan untuk mengadili generasi penerus bangsa itu. Sekaligus membuktikan ucapannya di hadapan para hadirin selametan Jenang Abang.

“Durasi paling enak dalam hidup ya masa sekolah itu, le. Gaya, pakai seragam, naik motor, disangoni, ndak mikir biaya, pikiran belum ada beban, bisa dulinan wedokan bahkan bisa njotosi guru dan ngepil juga. Makanya nanti jangan kaget kalau sudah kerja.”

“Kaget kenapa, lik.”

“Lho, alamnya beda, le. Setelah kerja kamu akan tahu mbulete susur. Dunia kerja itu keras, le. Kalau selama ini kamu bisa cengengesan, di dunia kerja nanti kamu bisa nangis.”

“Jangan meden-medeni, lik”

“Siapa yang meden-medeni. Beberapa bulan lagi kamu akan tahu. Setelah lulus dan buat surat lamaran, kamu akan tahu kalau setiap mata pelajaran di sekolah dulu ada gunanya.” Hendri mulai menyimak Firman Murtado. HP-nya diletakkan di meja.

“Buat surat lamaran saja, sudah menggunakan materi pelajaran bahasa Indonesia. Kamu sudah bisa membuat surat lamaran kerja dalam bahasa Indonesia?”

“Sudah lupa, lik.”

“Sudah lupa apa belum tahu?”

“Belum tahu, lik.”

“Belum diajari sama gurumu?”

“Ndak tahu, lik.”

“Ndak tahu bagaimana?”

“Saya jarang masuk, lik”

“Kemana?”

“Mbolos, yang sering ya ke warnet, main game.”

“Kira-kira kalau sudah lulus nanti, apa keahlianmu main game berguna di kehidupan nyata?” Hendri terdiam.

“Kamu jurusan informatika, kan?”

“Ya”

“Sudah bisa bikin animasi?”

“Ndak bisa, lik.”

“Lho kamu sekolah belajar apa saja?”

“Gurunya ndak gena, lik.”

“Jangan menyalahkan guru terus, kasihan. Lagi pula makin kuwalat bangsa ini kalau semua orang menyalahkan guru. Yang ndak pokro itu kamu apa gurumu?” Hendri terdiam.

“Mbuh, lik. Saya jarang masuk sekolah.”

“Lha tiap hari kamu berangkat naik motor? Minta sangu, minta bikinkan sarapan, kamu kemana saja?”

“Main game, lik.”

“He he he, nanti jangan kaget, ya? Kamu sudah memanjakan dirimu saat harusnya dirimu kau siksa dengan kerja keras. Nanti jangan ngersulo kalau kehidupan keji terhadapmu.” Hendri terdiam.

“Selamat datang di kehidupan nyata, le. Hobimu main game, balapan, mengkoleksi dan mempermainkan kimcil, coba-coba pil kucing biar dianggap kekinian, nanti ndak ada gunanya di kehidupan nyata. Selamat datang di dunia persaingan yang keji. Selamat datang di dunia dimana orang ingin nempur beras harus menjual apa saja!”

“Jangan gitu, Mas Firman!”  ujar Hendri.

“Kemarin kamu konvoi, pakai orat-oret seragam dengan cat semprot itu apa maksudnya?”

“Biasa lah, lik. Anak muda. Merayakan kelulusan.”

“Sudah pengumuman kelulusan ta?”

“Secara formal belum.”

“Le, le. Kamu harusnya tirakata sekarang, biar gampang dapat kerja. Lagi pula wong ujian nasional dapat “kunci T “ dan pasti lulus saja pakai corat-coret, konvoi. Ndeso, le. Harusnya kita malu merayakan kelulusan yang bukan asli hasil usaha kita.”

Semua orang terdiam. Jenang Abang dikerubut laler.

“Selametan calon pengangguran, al faaatihah!” gurau Arif, lalu cengengesan.
Penulis : Abdrur Rozaq (wartabromo.com)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Super Buruh, Dibayar Yen

Gerakan Ngakak Regional