18:29 - Sabtu, 25 November 2017
Selasa, 9 Mei 2017 | 16:32

Gerakan Ngakak Regional

Firman Murtado berbinar wajahnya seperti mendapat rapelan gaji buta. Senyumnya lepas seakan mendapat kabar gajinya mundak seribu persen, dan ia tak perlu lagi bingung mencari utangan buat nempur beras.

Cak Manap mengira ia dipecat dari PT Masa Depan Suram dan terlepas dari perbudakan atas nama perjuangan.

“Lihat ini, gus” katanya seraya menunjukkan HP-nya kepada Gus Hafidz.

Kiai muda itu membaca berita dari media online di HP Firman Murtado, kemudian ikut girang.

“Wah ini baru jos gandos” katanya.

“Ada apa sih, Mas Firman Murtado mau cair ya?” terka Cak Manap.

“Bukan! Maksud saya tak mungkin, Cak Manap. Budak seperti saya ini tak mungkin mendapat kejutan berupa uang. Kalau pemilik perusahaan pendidikan sih, tiap tiga bulan sekali mayoran dana BOS.” Jawab Firman Murtado ketus.

“Ada kabar baik, Cak Manap. Di kota ini bakal diadakan audisi santri lucu, biar bangsa ini ndak spaneng” jelas Gus Hafidz.

“Wkkk, makanya sampeyan berdua girang seperti Wak Takrip dapat togel.”
“Coba bacakan beritanya, Mas Firman” pinta Ustadz Karimun.

“Warta Bromo bekerja sama dengan IPNU mau mengadakan audisi santri lucu, ustadz” jelas Firman Murtado.

PicsArt_05-10-08.15.51

“Begitu kok kabar baik? Tak kira koruptor mau tobat massal” ujar Ustadz Karimun, malah nampak sedih.

“Lho kenapa, ustadz?” tanya Cak Manap.

“Banyak ketawa itu kurang baik. Membuat teledor dari mengingat mati, ahirat dan berdzikir kepada Gusti Allah.”

“Ah, ustadz, jangan spaneng dong. Sesekali kita anut fiqih dan istirahat dari ketatnya tasawwuf. Umat butuh hiburan, ustadz. Dagelan para pemimpin di Jakarta sana ndak lucu, bahkan megelno ati. Hiburan di televisi juga lebih kental nuansa murtadisasinya dari pada menghibur,”

“Lha kalau santri yang ndagel kan ya ndak saru?” ujar Gus Hafidz menengahi.

“Ya benar sih, gus. Tapi apa ndak bikin hati kita semakin mati karena terlalu banyak tertawa?” sergah Ustadz Karimun.

“Insya Allah ndak. Zaman Kanjeng Nabi saja sudah ada sahabat yang ndablek dan kenemenen kalau guyon. Ketika sahabat yang lain mengadu kepada Kanjeng Nabi kan, beliau ndak melarang asalkan hati tetap berdzikir?”

“Ya sudah kalau begitu. Sampeyan beri fatwa saja biar guyonnya diselingi dzikir dalam hati.” Ujar Ustadz Karimun, sedikit legowo.

“Umat sudah puyeng, ustadz. Permasalahan hidup makin kompleks, sementara pemerintah yang saat pemilu berjanji begini –begitu terkena insomnia berjamaah.”

“Indonesia ini masih utuh, karena kita punya santri, komunitas yang pandai menertawakan segala hal. Jangankan masalah keseharian pesantren yang unik, masalah politik, budaya bahkan makar pun mereka anekdotkan.” Tambah Firman Murtado.

“So, mari kita dukung Gerakan Ngakak Regional ini.”

“Humor memang tak sederhana dimensinya. Bahkan di tangan para sufi seperti Mbah Abu Nawas serta Nasruddin Hoja, memesrai Gusti Allah pun bisa dengan sentuhan humor. Syiir Al I’tiraf, pujian yang kita baca di langgar setiap malam Jum’at, adalah bentuk “kenakalan” Mbah Abu Nawas ketika “merayu” Gusti Allah. Kan repot, mengaku ndak pantas mendapat sorga tapi ndak sanggup kalau berada di neraka?” ulas Gus Hafidz.

“Contoh sukses anekdot dalam mengolah jiwa juga ditunjukkan oleh Mbah Abdurrahman Wahid. Andai beliau ndak menggunakan humor dalam mengkritik rezim orba, ndak pakai humor dalam menyentil “lawan-lawan” politik serta ideologi beliau, sudah jotosan sak koncoan kita. Konon Mbah Dur berkali-kali disantet namun ndak mempan karena beliau orangnya santai, ndak ambil pusing dengan apapun. Bahkan mantera beliau masih kita gunakan hingga kini. Itu, ajian Gitu Aja Kok Repot, kan sakti juga?” tambah Gus Hafidz.

“Dakwah kan juga butuh sentuhan humor asal proporsional? Contoh suksesnya seperti Mbah Yai Zainuddin MZ dan Kiai Bro Anwar Zahid pemilik jargon Qulhu Ae Lek. Pengajian jadi hidup namun tetap ilmiah.”

“Dulu pernah kok ada kiai yang cara dakwahnya loncat-loncat seperti kera. Tapi kenapa kok ndak sukses, gus?” protes Cak Manap.

“Karena humornya ndak ilmiah. Dibuat-buat dan pengajiannya lebih mirip dagelan. Kalau hanya sebagai pemanis bisa sukses.”

“Kalau ustadz lucu yang tiap pagi berkicau-kicau di TV itu bagaimana?”

“Lucunya hanya di wajah dan posturnya, cak. Itu ndak lucu. Saya malah marah kalau melihatnya. Itu dagelan atas nama dakwah namanya” tegas Gus Hafidz.

“Yang jelas, humor sangat kita perlukan karena hampir setiap orang koleng gara-gara cicilan kredit, wabah laep nasional, gonjang-ganjing bumi datar, sumbu pendek dan hari raya kuda atau entah apa lagi. Manusia yang paling gembira itu ya Mas Firman Murtado. Sebab meski didholimi sama pemerintah, jeragannya di PT Masa Depan Suram bahkan sampai menderita busung lapar, tetap cengengesan. Tapi tolong Cak Manap, jangan nagih utang kopi dan rokok eceran di hadapan banyak orang, Mas Firman Murtado bisa ngambul nanti.”

Penulis : Abdur Rozaq (wartabromo.com)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Jenang Abang Kelulusan

Tirakat Buang Sial Nisfu Sya’ban