15:54 - Wednesday, 26 July 2017
Sunday, 9 July 2017 | 08:45

BNP2TKI : Perawat Indonesia Kalah Bersaing


Gading (wartabromo.com) – Tenaga keperawatan Indonesia dinilai kalah bersaing di kancah internasional, karena tidak menguasai kemampuan bahasa Inggris, terutama terkait dengan kegiatan medis. Sehingga Indonesia tidak mampu memenuhi kuota yang disediakan negara-negara penempatan, meski peluangnya dikatakan sangat besar.

Berdasarkan data yang dimiliki Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), tiap tahun Indonesia setidaknya menghasilkan 43.150 lulusan tenaga perawat, namun hanya 14 ribuan saja yang terserap dunia kerja di dalam negeri.

“Sehingga terjadi pengangguran tenaga kerja profesional yang sangat banyak ini,” ujar Direktur Pemetaan dan Peningkatan Kualitas Tenaga Kerja Luar Negeri BNP2TKI Yana Anusasana, kepada wartabromo.com, Minggu (9/7/2017).

PicsArt_07-09-08.41.57

Untuk itu, BNP2TKI mendorong tenaga perawat untuk bekerja di luar negeri, karena peluangnya sangat besar. Lulusan akademi perawat Indonesia sangat dibutuhkan di negara-negara tujuan seperti Amerika Serikat, Australia, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Uni Arab Emirat (UAE), Jepang dan Taiwan.

Di beberapa negara di Timur Tengah bahkan membutuhkan mencapai 5 ribu perawat tiap tahun. Sayangnya, peluang itu malah mampu direbut semisal Filipina, Kamboja dan India.

“Di sejumlah negara, seperti Jepang dan negara-negara Timur Tengah, perawat Indonesia sangat disukai dan menjadi favorit. Tapi kuota itu tak dapat kita penuhi karena lemahnya perawat kita dalam berbahasa Inggris. Karenanya itu, kami melakukan upgrading skill (peningkatan kualitas, red), baik bahasa maupun keahlian lainnya,” lanjut Yana.

Lemahnya kemampuan tenaga perawat Indonesia berbahasa Inggris dalam bidang medis, sebelumnya juga sempat diungkap oleh ketua Dewan Pengurus Wilayah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Timur, Prof. DR. Nur Salam, dalam satu kesempatan menjadi pembicara sebuah acara berkaitan dengan dunia medis.

“Sejauh ini hanya sedikit perawat Indonesia yang lulus tes Prometric-RN,” ujarnya.

Pria yang juga Dekan Fakultas Keperawatan Unair Surabaya ini, mengatakan pihaknya menekankan pada lembaga-lembaga pendidikan keperawatan untuk meningkatkan kualitas.

Selain itu, calon perawat diharap juga dapat mengikuti pelatihan-pelatihan untuk mendapatkan sertifikat kompetensi.

“Nah, disinilah tugas organisasi untuk menyiapkan perawat yang handal,” tandas Profesor Nur Salam. (saw/saw)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

20 Ribu Tenaga Perawat Baru di Jatim Menganggur Tak Terserap

Ribuan Gay di Pasuruan Telah Bentuk Ikatan Komunitas dan Grup di Media Sosial