17:15 - Kamis, 14 Desember 2017
Senin, 10 Juli 2017 | 15:00

Pertama Kali Di Indonesia, Upacara HUT Bhayangkara di Lautan Pasir Bromo

Sukapura (wartabromo.com) – Untuk kali pertama, upacara Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara dilaksanakan di lautan pasir Gunung Bromo Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura. Gelaran unik tidak lazim ini, dilaksanakan oleh Polres Probolinggo, pada Senin (10/7/2017).

Jajaran korps coklat ini menggelar hari lahir Polri di lautan pasir dengan latar eksotika Gunung Bromo. Menariknya, selain jajaran internal, prosesi upacara juga diikuti pasukan berkuda.

Bahkan sejumlah Dukun Tengger pun tidak ketinggalan ‘berhormat’ meskipun telah memimpin rangkaian ritual Yadnya Kasada.

Upacara HUT Bhayangkara ke-71, dilakukan hamparan pasir diatas ketinggian 2.329 meter diatas permukaan laut. Dengan berlatar Gunung Bromo dan Gunung Batok.

Tentunya ini telah menyuguhkan nuansa berbeda jika dibandingkan jika peringatan dilakukan lapangan terbuka lainnya.

PicsArt_07-10-02.57.02

Selain lebih khidmat, ternyata berdiri di lautan pasir, membutuhkan kekuatan fisik lebih karena butiran pasir mengubur kaki hingga lebih lima sentimeter.

Upacara ini selain diikuti oleh Polres jajaran dan puluhan pasukan berkuda. Ada juga TNI, Kejaksaan, Pengadilan Negeri, Satpol PP dan tokoh adat suku tengger lainnya.

“Bromo mempunyai daya tarik tersendiri, destinasi internasional. Kami ingin membangun dan menjaga keguyuban di sekitar Gunung Bromo. Kami berharap masyarakat semakin percaya pada kami dan selanjutnya kegiatan-kegiatan semacam ini akan kami laksanakan di wilayah laiin,” ujar Kapolres Probolinggo AKBP. Arman Asmara Syarifuddin.

Upacara HUT Polri kali ini merupakan kali pertama dilakukan Polres Probolinggo, bahkan disebut-sebut juga se-Indonesia. Tidak hanya memperingati hari jadi Polri, manfaat lainnya adalah menjaga kebhinnekaan di kawasan Bromo, mengingat kawasan ini dihuni oleh berbagai kalangan atau kelompok agama.

“Kami mengapresiasi apa yang dilakukan oleh polres. Semoga kegiatan-kegiatan ini semakin memupuk toleransi yang sudah terpelihara selama ini di wilayah Tengger,” kata Supoyo, salah satu tokoh Suku Tengger.

Karena keunikkannya, upacara bendera ini juga menjadi pusat perhatian sejumlah wisatawan yang tengah berlibur. Upacara sekaligus menutup rangkaian Ritual Yadnya Kasada yang puncaknya telah dilakukan Senin dinihari tadi. (cho/saw)

Ini Makna Ongkek Dalam Yadnya Kasada

Paguyuban Pedagang Kecil Merasa Dianak-tirikan Disporaparbud Probolinggo