04:18 - Minggu, 22 Oktober 2017
Selasa, 11 Juli 2017 | 15:24

Tabur Bunga Jeglongan Sewu

Tiap hari, eh tiap jam terjadi kecelakaan di jalanan kota Cak Manap. Sayangnya itu di alam nyata, bukan dalam game balapan. Jadi begitu der, korban bisa benar-benar game over. Ndak bisa bangun lagi.

Yang hanya lecet atau kendaraannya rusak, masih alhamdulillah. Lha yang sampai cedera apalagi dijemput malaikat Izrail, bagaimana nasib kelurganya? Apalagi kalau almaghfurlah merupakan tulang punggung keluarga, ndak punya NIP, warisannya hanya surat-surat penting bertanda tangan manager leasing, bagaimana? Apa ndak menambah panjang daftar tragedi?

Orang sudah lama marah entah kepada siapa. Bahkan rakyat jelata semacam Wak Takrip, sampai ikut bereaksi sesuai kadar kearifan alam pikirnya.

Siang tadi, dengan membawa satu kresek besar kembang nyekar, Wak Takrip yang ndeso alam pikir sekaligus potongannya, keliling kampung naik sepeda ontel. Road show.

Tak ada satupun perapatan jalan yang dilewatkannya. Di setiap perapatan, pertelon atau jalur tengkorak Wak Takrip berhenti, komat-kamit sebentar lalu nyawur kembang, kepingan uang receh dan menyan.

Ia membuat deal dengan sang Mbahu Rekso Prapatan atau Pertelon agar ndak tersinggung dengan rakyat Indonesia yang kian hari makin ugal-ugalan berkendara.

Dan yang paling penting, agar para dedemit tidak bermukim di setiap jeglongan sewu dan “bikin celaka” para pengendara.

PicsArt_07-11-03.20.04

Prapatan terahir yang ia sawuri kembang adalah perapatan dekat sungai depan warung Cak Manap. Maka kontan seluruh pelanggan bertanya-tanya dengan aksi nyeleneh tukang ngarit profesional itu.

“Ada apa kok nyawur kembang segala, Wak?,” heran Firman Murtado.

“Ngerukat, mas. Biar ndak makin banyak yang celaka,”

“Memangnya, apa betul nyawur kembang bisa mengurangi angka kecelakaan? Bid’ah lho itu,” Komentar Mas Bambang.

Sementara Gus Hafidz yang sebenarnya lebih “berwenang” hanya senyum-senyum mendengarnya.

“Saya ndak minta sama danyang, kok. Minta sama Gusti Allah seraya mengadakan MoU agar para Mbahu Rekso ndak ngganggu pengguna jalan,”

“Lha itu malah bisa syirik,” sergah Mas Bambang.

“Kembangnya masih banyak, wak?,” tukas Firman Murtado menyelamatkan Wak Takrip.

“Masih banyak, mas,”

“Ayo ikut saya,”

Tanpa banyak omong, Firman Murtado langsung starter jaran wesi bututnya. Wak Takrip naik, sekejap kemudian keduanya lenyap entah kemana.

Mengendara seperti setan, dalam sekejap keduanya sudah sampai di depan kantor wakil rakyat.

Tanpa babibu, apalagi mengisi buku tamu, Firman Murtado langsung menabur bunga tepat di depan pintu masuk utama kantor wakil rakyat. Maka tak heran jika sekuriti menanyakan maksudnya

“Apa maksud bapak? Bapak dari mana?,” tegur sang sekuriti.

“Saya Firman Murtado, perwakilan dari aliansi masyarakat loro ati,”

“Maksud bapak menabur bunga di sini, apa?,”

“Saya bermaksud melakukan rukatan biar jumlah kecelakaan lalu lintas tidak makin bertambah,” tegas Firman.

Sang Sekuriti tersenyum geli, rupanya ia sedang berhadapan dengan pasien RSJ yang berkeliaran, ucul.

“Maaf ya pak, sebaiknya tabur bunganya jangan di sini. Mungkin di perempatan atau di jalur-jalur tengkorak sana. Bapak salah tempat,” Sekuriti kembali tersenyum geli.

“Ndak, wong di sini kok pusat mahluk yang bikin celaka di jalanan itu” jawab Firman seraya semakin banyak menaburkan bunga.

“Bapak di rawat di mana?,” ujar sekuriti, mulai tegas.

“Mas, saya menabur bunga di sini biar wakil kita yang selalu rapat di dalam sana, segera membahas perbaikan jalan, menghentikan proyek perusakan alam yang mobil pengangkutnya membuat jalan nyenyek itu. Sampeyan kan tahu, setiap jam saudara-saudara kita celaka di jalanan. Penyebabnya karena wakil kita di dalam sana belum pokro bekerja.” Sang sekuriti hanya melongo karena orang sempel di hadapannya ternyata lebih waras dari yang ia duga.

Firman lalu menyeret Wak Takrip yang hanya mengongo memegang kresek berisi kembang. Mereka lalu meluncur ke kantor urusan perjalan rayaan, mau bikin kesroh di sana.
Secepat kilat, keduanya sudah sampai dan langsung menabur bunga tepat di depan bapak-bapak berseragam biru yang sedang jagongan.

“Mas, ada apa kok menabur bunga di sini, sampeyan siapa, dari mana?,” tegur seorang bapak yang brengosnya nampak beracun saking seringnya digunakan usel-usel pipi janda.

“Saya Firman Murtado dari aliansi masyarakat loro ati. Maksud saya menabur bunga di sini ya untuk ngerukat jeglongan sewu yang tersebar mulai dari pelosok hingga pusat kota. Korban terus berjatuhan, kerugian materi bahkan jiwa tak terselamatkan terjadi hampir setiap jam,”

“He he, jangan hanya di sini yang ditaburi bunga, mas. Sebaiknya sampeyan juga mengadakan ruatan massal setiap kendaraan, mengadakan program ruqyah massal agar masyarakat terbebas dari halusinasi punya nyowo rangkep, sabar di jalanan, melek rambu jalan, dan perlu sampeyan kampanyekan gerakan, nek kesusu budal wingi,”

“Lha sampeyan digaji buat apa?,” protes Firman Murtado, menutupi rasa malunya.

_______
Penulis : Abdur Rozaq (wartabromo)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Tragedi Usum Buwuh

Umbulan dan Ajian Mati Raga