12:39 - Saturday, 19 August 2017
Monday, 17 July 2017 | 16:36

Sekolah Jurusan Kuli


Naik angkot karena ngeri dengan jeglongan sewu dan takut kena tilang, Firman Murtado malah terjebak dalam konferensi ibu-ibu yang ngecemes bercerita soal pendaftaran sekolah anak-anaknya.

Sebenarnya Firman Murtado ndak ingin kepo alias ngurusi orang lain karena urusan dalam negeri rumah tangganya, terutama di bidang ekonomi, belum beres. Tapi berhubung desel-deselan dan sang sopir yang sepertinya galau karena sepi penumpang jalan pelan-pelan, mau tidak mau konferensi ibu-ibu yang heboh itu ahirnya terekam dengan jelas di kepala Firman Murtado.

“Anak saya daftar ke sekolah anu, ambil jurusan tukang las. Enak nanti kalau lulus bisa masuk pabrik sepur, jadi tukang las,” kata ibu yang mirip gajah duduk.

Ibu yang alisnya tebal dan simetris seperti dicetak dengan penggaris, tak mau kalah.

“Anak saya ambil jurusan tukang ngitung uang, biar nanti kalau lulus bisa jadi kasir mini market.’

Lalu ibu-ibu sosialita yang sepertinya satu majlis ngerumpi itu bercerita dimana dan bagaimana anak-anaknya mendaftar sekolah, secara bergiliran.

“Ya enakan ambil jurusan utek-utek komputer. Anak saya yang nomor dua saya masukkan jurusan utek-utek komputer biar seperti kakaknya yang selalu menang kalau main game online. Apalagi, yang nomor dua ini dari kecil sudah pandai main HP sampai matanya minus. Nanti juga enak, kalau lulus bisa kerja di bengkel komputer,” timpal ibu yang sepertinya sedang sibuk berdiet namun selalu gagal karena tak tahan godaan nyemil.

Dalam hati Firman Murtado membatin, bagaimana mau maju negeri Indonesia Raya ini, wong hampir semua orang bercita-cita jadi kuli, eh karyawan?

Mungkin ini karena televisi hanya menyiarkan sinetron dan berita pelintiran, sehingga meski kiamat sudah mepet, dunia mau kukut pola pikir kita masih saja sederhana.

Cita-cita, visi hidup, kok hanya sebatas membuat kaya investor asing yang mengambil bahan baku, tenaga kerja dan menjual produknya di negara Indonesia Raya?

Cita-cita tertinggi itu idealnya kan, menjadi pemasok buah apel ke seluruh dunia, jualan ayam goreng ke seluruh benua seperti bakul pitik goreng Amerika, menjadi juragan las beken seperti Pak De perajin cikar eropa itu. Atau jualan imajinasi seperti Pak De Spielberg.

Dari sini, Firman Murtado makin kecil hati memikirkan siapa yang akan meneruskan profesi nenek moyang sebagai petani, nelayan, peternak wedus atau pengeksport gedang.

Hampir semua orang kok ya gengsi memilih profesi sebagai petani, padahal yang namanya beras itu, hingga kiamat kurang seminggu pasti akan tetap dibutuhkan?

Ndak ada salahnya menjadi karyawan. Ndak ada yang melarang orang mau kerja jadi kuli pabrik, berangkat pagi pulang pagi dan saat takbiran hari raya belum prei.

Undang-undang pun, mulai UUD 45 hingga Perdes yang disusun Wak Carik dengan mesin ketik ndak melarang orang mau kerja apa, tapi kalau cita-cita hanya mentok menjadi karyawan, apa ndak kasihan sama ibu-ibu yang hamil sembilan bulan dan bapak-bapak yang banting tulang cari nafkah?

Apa ndak kuwalat mbah-mbah pejuang yang telah merebut setiap jengkal tanah lalu kita menjajahkan diri sendiri kepada para investor mulai sumber daya alam, sumber daya alam dan harga diri?

Kata Pak De Bob Sadino, penjual sempol, peternak bebek atau eksportir jangkrik itu adalah BOS karena memanage “perusahaannya” sendiri. Dan meski kita HRD, CEO bahkan office boy di sebuah perusahaan orang lain, kita adalah kuli karena hanya berada di zona aman.

Diam-diam Firman Murtado bersyukur karena meski dirinya hanya lulusan madrasah yang gurunya hanya dibayar di ahirat kelak, ia bukan termasuk kuli dalam arti sebenarnya. Memang benar ia nyambi jualan pitenah pada sebuah agen pitenah, eh berita. Tapi kan, ia bisa ngantor di WC? Setiap kali ia jongkok di atas kloset, setan got berkerumun untuk memberinya inspirasi untuk menulis pitenah ini-itu.

Selesai, ia bisa mengirimnya via WA. Beberapa jam kemudian ia bisa melihat pitenah yang dikirimnya diunggah, dan pada awal bulan ia akan di SMS admin untuk ambil honor. Benar-benar uang karena bisa dibuat nempur beras.

_______
Penulis : Abdur Rozaq (wartabromo)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Gerakan Dilarang Sambat

Syakarotul Maut Urang Windu