12:38 - Saturday, 19 August 2017
Tuesday, 18 July 2017 | 01:09

Syakarotul Maut Urang Windu  


Kiamat itu, seakan-akan kitalah panitianya. Gusti Allah seakan tinggal meng-ACC. Segala ikhtiar dan tim suksesnya adalah kita, ras manusia. Kok kita?

Ya, karena se-nggragas-nggragasnya gajah atau sapi, ndak pernah sampai membakar hutan. Se-kemproh-kemprohnya bebek, ndak pernah tercatat kalau kotorannya bikin sungai beracun apalagi sampai tambak jadi bak limbah raksasa. Se-ndablek-ndableknya tikus, nyambek atau ulo, ndak pernah menggali lubang yang bisa membuat gunung jugrug.

Sayangnya, meski kita ini orang Jawa yang dulu sama mbah buyut diajari untuk nerimo ing pandum, sekarang malah ikut-ikutan bermutasi menjadi semacam Yakjuj-Makjuj yang merusak alam dalam rangka menuruti kesenangan, eh kebutuhan.

Dari pantai hingga ke gunung kita ramban. Dilek sepisanan seakan besok anak-cucu bisa makan plastik. Jangankan sepuluh tahun ke depan, sekarang saja sudah mulai terasa kalau alam sudah laep, bangkrut dan di sebagian sisi sudah mulai syakaratul maut.

Sambang ke Lekok dalam rangka ngelimput dari ngantor di PT. Masa Depan Suram, Firman Murtado mau nyubo Cak Sarip. Minta bandeng atau urang Windu sebanyak yang bisa ia bawa.

“Bandeng dan urang windu? Ndak ada, cak. Sudah punah belasan tahun lalu,” ujar Cak Sarip lesu.

“Sing gena? Sampeyan tak jaluki ini dalam rangka saya suwuk, biar panen sampeyan melimpah nantinya,” ujar Firman Murtado.

“Sampeyan seperti wong liyo saja. Kapan saya pernah medit sama sampeyan? Jangankan cuma bandeng atau urang Windu, endas sampeyan jaluk, saya berikan. Sumpah, cak, urang Windu sudah punah.”

“Wkkk, sampeyan iki, belum jadi dewan kok sudah mulai belajar nggedabrus. Petani itu ndak ilok nggedabrus. Yang boleh nggedabrus itu hanya tukang partai,” kilah Firman Murtado cengengesan.

Seraya menyalakan rokok Ars merah kesukaannya, Cak Sarip mengajak Firman duduk di bawah pohon tinjang biar enak jandomannya.

“Longgoh sik, kita omong-omong sing enak biar ndak salah paham,” kata Cak Sarip.

Firman Murtado nurut. Ikut duduk. Sepatu butut yang ia kenakan dan membuatnya nampak seperti mindring titil ia lepas buat alas duduk.

“Sampeyan ndak pernah dengar kalau tambak dan laut sudah rusak akibat limbah?,” kata Cak Sarip.

“Sepertinya ya”

“Nah, sudah belasan tahun terakhir ini urang Windu menjadi satwa langka. Semua keturunan urang Windu sudah almarhum, minimal syakaratul maut karena air tambak beracun,”

“O, itu? Temenan ta iku?,” ujar Firman Murtado sangsi.

“Aku duduk politisi lho, cak. Aku ndak ngedabrus,”

“O ya, ya?,” Firman Murtado manggut-manggut.

“Sudah belasan tahun lalu, bandeng jadi puret seperti orang kena gizi buruk. Ya seperti sampeyan yang dipulosoro menteri pencerdasan bangsa itu. Kalau biasanya nener sudah jadi bandeng dalam beberapa bulan, sekarang, hingga hampir setahun tetap sak upile gondoruwo. Sedangkan urang Windu yang memang dari sananya sudah kemenyek, pilih-pilih habitat, salah sedikit sudah almarhum, sekarang sudah menjadi satwa langka, justru di habitat aslinya,” jelas Cak Sarip metenteng.

“Ya itu, gara-gara ibu-ibu makin hobi buang sampah ke sungai. Mulai sampah plastik, botol minuman perusak ginjal hingga popok bayi dibuang ke sungai koyok wong dialem,”

“Katanya yang paling merusak kan limbah pabrik yang mambune badek itu?” sela Firman Murtado.

“He he, kami ndak berani bilang, takut bantuan dicabut, takut dituduh jadi provokator,” balas Cak Sarip nyengir.

“Lho, katakan saja, cak. Kalau bisa didemo,” Firman Murtado mulai gawe pitenah.

“Ndak, kami sudah didumi beras, dibuatkan langgar, dibuatkan pipa saluran air, diberi lengo keltik dan micin,” ujar Cak Sarip tolah-toleh.

“Memangnya mau makan keltik micin terus? Sampeyan ini, diberi keltik micin saja sudah ikhlas mata pencaharian, nyawa kearifan lokal bahkan budaya mapan sampeyan dibumi hangus. Jangan pragmatis kayak tukang partai gitu, cak. Lawan!,” Firman Murtado makin semangat ngobong-ngobongi.

“Jarno wes. Kami ndak mau dicap sebagai propokator. Lak wes ketok nek petani tambak terkena busung lapar, lingkungan sekarat, anak-cucu minggat jadi TKI, dan kami kelenger,” Balas Cak Sarip, marah kepada dirinya sendiri.

“Wkkk, dasar wong Jowo!” ketus Firman Murtado, mengutuk kaumnya sendiri.

________
Penulis : Abdur Rozaq (WartaBromo)

Catatan : Tulisan ini hanya fiksi semata,
Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan.

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Sekolah Jurusan Kuli

Pikenik Alas Kobong