Hadapi Musim Haji, Produksi Songkok Meningkat 3 Kali Lipat

0
133

Beji (wartabromo.com) – Memasuki musim haji tahun ini, produktifitas perajin songkok mengalami peningkatan hingga tiga kali lipat, dibandingkan dengan hari-hari biasa. Jika sebelumnya tiap minggu hanya membuat 100 kodi, kali ini perajin harus menggenjot produksinya mencapai lebih 300 kodi songkok, dengan omset puluhan juta rupiah.

Peningkatan tersebut salah satunya diketahui pada rumah perajin songkok H Abdullah, yang terletak di Dusun Grogolan, Desa Kenep, Kecamatan beji, Kabupaten Pasuruan.

Tampak sejumlah pegawai sibuk bekerja, mulai dari mempersiapkan bahan dari kain, dengan mengukur dan memotongnya, yang kemudian dibawa untuk dijahit membentuk seperti songkok.

Di satu sisi, seorang lainnya fokus menyetrika, menyatukan kain dengan bahan plastik, hingga beberapa pegawai diantaranya mengemas dan menata songkok beragam bentuk atau motif siap jual, di sudut ruangan rumah.

Dikatakan oleh Abdullah, bahwa aktifitas ini sudah terjadi selama dua pekan terakhir, bahkan ia harus melempar sebagian proses pekerjaannya ke ibu-ibu rumah tangga seputaran rumahnya, dengan cara borongan.

Dijelaskan oleh Abdullah, bahwa suasana sehari-hari yang ramai dengan aktifitas pekerjaan saat musim haji tiba sudah biasa dihadapi.

Tingginya aktifitas produksinya itu, lantaran ia harus tepat waktu agar dapat segera melayani pesanan sejumlah toko grosir di wilayah Jawa Timur.

“Syukur alhamdulillah, hari ini saja, saya harus secepatnya kirim ke Surabaya,” kata Abdullah, Selasa (25/7/2017).

Dilanjutkan, jika sebelumnya songkok haji yang dibuat tiap minggu berkisar 100 kodi, kini harus ditingkatkan menjadi tiga kali lipat atau memenuhi hingga 300 kodi.

Meroketnya pesanan itu, dituturkan oleh Abdullah diantaranya selain kualitas songkok yang tidak kalah dengan hasil pabrikan, penerapan harga yang ia patok ke pemesan juga terbilang cukup murah dan bersaing cukup jauh dengan lainnya.

“Di sini, harganya murah, kami memasang harga mulai Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per kodi,” tambahnya.

Dengan jumlah produksi sebesar itu, omset penjualan yang ia hasilkan dalam sebulan diperkirakan mencapai Rp 40 juta sampai Rp 50 juta.

Namun tingginya omset dan penghasilan diakui masih belum berbanding lurus dengan ongkos produksi yang ia keluarkan, terutama pada ongkos pegawai yang disebut melampaui hampir separuh dari total penghasilan.

“Kalau dihitung-hitung hasilnya sebenarnya juga tidak sebanding dengan ongkos yang harus dikeluarkan,” pungkas Abdullah. (fik/ono)