Pikenik Alas Kobong

0
5

Namanya juga pengangguran terselubung, maka tak heran kalau kanjeng Firman Murtado masih keluyuran meski kantor PT. Masa Depan Suram sudah beroperasi.

Purik karena gaji tak juga naik dan amat rutin tersendat, maka ia sak enake udele dewe ngantor. Jangankan dia, wong yang punya NIP saja begitu, batinnya.

Negara ini begitu loman sampai-sampai orang cangkruk, kemul-kemul sarung sampai jongkok di jamban pun digaji. Dari hasil ngutang sama Bank Dunia.

Mbuh karepe yoopo? Firman Murtado tiba-tiba ingin ngelimput ke kaki gunung. Pikenik tipis-tipis jare arek nom-noman.

Bensin aman, tadi malam sudah utang bensin di warung Cak Manap. Ban tipis, semoga ndak bocor. Rem blong sedikit, semoga selamet budal moleh. Ngelimput memang bukan ibadah, tapi Firman Murtado sudah niat ingsung cuci mata biar ndak budrek oleh omelan sang manajer.

Tapi, Firman Murtado rupanya kuwalat. Rencana pikenik tipis-tipisnya buyar karena gunung di sekitar kaki Semeru, sudah ndak seperti lima tahun lalu saat ia gemar tirakat berburu akik atau jenglot pesugihan.

Apalagi ini musim kemarau, maka yang nampak adalah hamparan gunung Jabal Rahmah yang gersang, kering kerontang. Ia malah teringat situs sejarah dibombardirnya umat Nabi Luth, pelaku LGBT itu oleh Gusti Allah.

Kekeringan di kaki gunung, itu hanya terjadi di kota Firman Murtado.
Dulu sekali, embun menetes dari pucuk-pucuk godong pring dan pinus. Kini, jangankan embun, wong hutan pinusnya sudah rata dengan tanah. Hutan sudah berubah menjadi hamparan padang tandus, dan mungkin tak lama lagi akan menjadi gurun pasir.

Di ujung desa sana tadi Firman Murtado melihat penduduk antri air bersih sumbangan pemerintah. Sebagian hutan nampak habis terbakar, eh dibakar.

Dicuklaki mau ditanami jagung. Tanah mengering, rerumputan kerontang seperti rondo ndak kerumat.

Sapi dan kambing penduduk kurus, hampir mirip jomblo merana. Para penduduk, sepertinya sudah jarang mandi karena harus menghemat air.

Semua itu, terjadi di sebuah desa di kaki gunung Semeru, tak jauh dari sumber mata air terbaik di dunia; Umbulan dan Banyu Biru.  Bahkan, beberapa hari yang lalu, api unggun raksasa nampak berkobar hingga terlihat dari warung Cak Manap.

“Kenapa begini, cak?” tanya Firman Murtado kepada Cak Said.

“Lha wong memang kita upayakan seperti ini,” jawab Cak Said, teman Firman Murtado.

“Lho, maksudnya?” Firman Murtado heran.

“Katanya, hutan digundul karena kayunya dibuat mbangun gedung pemerintahan, bangun villa tempat pejabat kita ‘istirahat’, buat mbangun kantor-kantor instansi, tempat ibadah bahkan sekolah dan rumah sakit.”

“Hmm, kalau cuma buat mbangun fasilitas-fasilitas seperti itu, masa sampai menghabiskan hutan? Apa ndak diangkut truk tronton, dieksport ke luar negeri dan hasilnya buat biaya manicure-pedicure ibu-ibu pejabat?” sergah Firman Murtado, tukang pitenah itu.

“Jangan buruk sangka, mas. Nanti sampeyan kena pasal ujaran kebencian atau pasal pitenah,” lerai Cak Said.

“Heran, hanya sejengkal dari mata air Umbulan dan Banyu Biru, malah gersang dan kering kerontang seperti rondo frustasi begini,” Firman Murtado geleng-geleng kepala.

“He he he, kita ini ndak egois, mas. Kita patuh sama amanat Undang-Undang Dasar, bahwa kekayaan yang diberikan Gusti Allah di desa kita ini ndak boleh kita kempit sendiri. Harus digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat. Kita punya hutan, batu, pasir, mata air, harus kita bagi-bagi kepada daerah lain agar kesejahteraan dan pembangunan merata,” ujar Cak Said bijak.

“Ini bukan pemerataan pembangunan namanya, namun semacam penumbalanan,” Firman Murtado marah.

“Lha terus bagaimana, wong kita sudah sepakat menjadi negara industri?” sergah Cak Said.

“Lha itu gendenge kita. Kenapa ndak menjadi negara agraris sekaligus maritim saja? Lahan pertanian dan perikanan yang luasnya sak ambran-ambran kita persilahkan untuk diumek-umek investor lalu kita sudah merasa gembira dengan menjadi kuli di sana,”

Cak Said terdiam beberapa saat.

“Ndak usah begitu, mas. Ini sudah kersaning Gusti Allah. Kita harus menghargai pemerintah yang bekerja keras untuk meratakan pembangunan,” tambah Cak Said.

“Ya ndak begini konsepnya, cak. Pembangunan kok konsepnya ndak jelas? Di lain sisi kita membangun, di sisi lain kita malah merusak alam bahkan menjadi panitia kiamat.”

“Terus menurut sampeyan bagaimana seharusnya konsep pembangunan yang ideal?” tantang Cak Said.

“Ya ndak tahu, wong saya bukan pemerintah. Saya rakyat jelata yang ndak pernah direken,”

“Sebagai warga negara yang baik kan lebih baik menyumbang gagasan daripada hanya maiduh,” ujar Cak Said.

Firman Murtado kelincutan, malu.

________
Penulis : Abdur Rozaq (WartaBromo)

Catatan : Tulisan ini hanya fiksi semata,
Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan.