Ini Tanggapan Warga Kota Probolinggo Terkait Ojek Online

0
308

Probolinggo (wartabromo.com) – Kehadiran layanan ojek online di Kota Probolinggo menghadirkan pro-kontra di kalangan warganya. Pemerintah pun diminta bersikap bijak dalam menyikapi hadirnya moda transportasi alternatif itu.

“Kehadiran ojek online sebenarnya bagus. Saya sudah merasakan layanannya. Bagi kaum perempuan seperti saya, ojek online itu bagi perempuan dan anak-anak cukup nyaman dan lebih aman, karena pake GPS Maps. Sehingga, ortu, pasangan bisa kontrol ojek lewat mana dan sudah sampe mana,” ujar Chintya Dewi, warga Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Mayangan, Jumat (11/8/2017).

Namun, menurutnya pemerintah kota (Pemkot) dan Polresta Probolinggo harus bersikap bijak dalam menyikapi munculnya ojek online. Apalagi, saat ini mulai mendapat tentangan dari Organda dan ASAP.

“Ya gimana deh caranya pemerintah menyikapinya agar semuanya enak. Ya baik ojek, angkot dan juga warga,” tutur ibu satu anak ini.

Hal senada juga diungkapkan oleh Tony Lukman, warga Kelurahan/Kecamatan Kedopok. Pria berkacamata itu, juga menyarankan angkutan kota (Angkot) untuk berbenah. Tujuannya untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada penumpang.

“Banyak armada atau mobil yang sudah tua, sehingga perlu peremajaan armada. Pada sisi lain, aplikasi ojek online juga peluang bagi yang masih menganggur untuk memperoleh penghasilan,” kata Tony.

Sementara itu, salah satu pengemudi Go-Jek yang dijumpai wartabromo.com di halte Jalan Panglima Sudirman mengatakan, ia tak tahu jika keberadaan Go-Jek ditolak oleh pengemudi angkutan konvensional. Apalagi, dari pengelola Go-Jek sendiri, tak ada informasi mengenai hal itu.

“Saya kurang tau masalah itu. Baiknya langsung saja ditanyakan ke kantor yang ada di ruko Jalan Panglima Sudirman,” kata pria yang enggan namanya disebutkan ini.

Ketika wartabromo.com mendatangi kantor Go-Jek sekitar pukul 12.00 WIB, tak satu pun manajemen yang bisa ditemui. Menurut Saiful, sekuriti kantor, manajemen tengah istirahat. Ia meminta wartawan untuk datang sekitar pukul 13.00 WIB. Hanya saja, ketika didatangi kembali sekitar pukul 13.15 WIB, manajemen juga tak ada di kantor.

Meski begitu, Saiful mengaku jika persoalan terkait adanya penolakan ini, sudah diselesaikan.

“Kalau detailnya saya kurang tahu. Tapi, atasan saya pernah bilang kalau masalah itu sudah diselesaikan,” terangnya. (fng/saw)