Agustusan Terahir

0
38

Wak Carik, Kepala Desa, Gus Hafidz dan beberapa tokoh desa masih jandoman selepas rapat Agustusan. Rapat memutuskan kampung Cak Manap akan menggelar berbagai macam kegiatan dalam rangka mengisi acara Agustusan. Makanya, sebulan penuh mereka akan mengadakan kegiatan.

Nah, saat jandoman santai itu tiba-tiba datang seorang pemuda tampan ikut nimbrung bersama mereka.

“Maaf bapak-bapak, saya terlambat. Habis ikut rapat Agustusan di berbagai kampung,” katanya seraya bersalaman kepada semua orang.

Semuanya mengangguk maklum.

“Bagaimana tadi rapatnya, kita mau mengadakan kegiatan apa saja?” tanya pemuda lencir, berwajah tirus dan berkulit putih itu.

“Ya seperti biasanya, mas. Malam Tujuh Belasan kita akan mengadakan istighotsah, kirim fatihah kepada semua arwah pejuang. Selebihnya ya seperti biasanya. Panjat pinang, lomba kelereng, lomba makan kerupuk. Puncaknya, para pemuda ingin menggelar orkes dangdut,” jelas Kepala Desa.

“Waduh, kalau bisa jangan pakai acara begituan, pak. Bagaimana kalau nanti ada tawuran lagi? Paling tidak, takutnya anak-anak nguntal pil koplo sebelum joget,” kata pemuda berbibir merah itu.

“Ya ndak bisa, mas. Kalau ndak dituruti mereka bisa purik. Bagaimana kalau ndak mau jadi panitia, masa kita yang sudah tua ini yang usung-usung terop dan masang umbul-umbul?”

“Ya, tolong disampaikan sama kawan-kawan dengan halus, pak.”

“Sampeyan ini, kayak ndak tahu watak anak muda saja. Lagi pula, biar ndak kalah meriah dengan desa-desa lain, apa salahnya wong cuma nanggap orkes? Setahun sekali, mas. dananya sudah ada, dialokasikan dari dana desa,” jelas Wak Carik,  mrengut.

“Jadi, nanggap orkesnya dianggarkan dari dana desa?” ujar pemuda berambut andan-andan itu kaget.

“Iya, kenapa? Sampeyan sih tadi ndak ikut rapat. Kalau sekarang tiba-tiba dibatalkan bisa dipaiduh wong akeh, mas,” sergah Pak RT.

“Saya tadi ikut rapat di tiga desa, pak. Maaf jadi terlambat ikut rapat di sini.”

Kepala Desa mulai ndak omes sama pemuda ganteng itu. Kakean macem. Nyalahi adat. Wong wes mbiyen rutin nanggap orkes kok mau dibatalkan. Awakmu iku sopo? Batinnya.

“Saya punya usul, pak. Bagaimana kalau orkes dangdut itu dibatalkan, dananya digunakan untuk memberi modal kepada para veteran perang yang ndak satupun diopeni negara? Soal lomba-lomba, saya juga punya usul bikin lomba yang lebih bermanfaat.”

Wak Carik yang sudah gregeten dari tadi langsung maiduh.
“Sampeyan ini mau ngowahi adat?”

“Kalau adatnya kurang mendidik, ya mesti dirubah, pak. Dari dulu kalau Agustusan kita hanya mengadakan lomba dan kegiatan bersifat hiburan. Mulai saat ini, kita harus mengadakan lomba-lomba yang bermanfaat seperti lomba reboisasi, lomba menanam tanaman besar di pekarangan, lomba merawat sungai, lomba fotografi pegawai negara mbolos, lomba audit dana desa, lomba pelayanan publik tercepat, lomba melestarikan hutan, lomba mendemo pabrik pembuang limbah. Bahkan di Jakarta, saya mengusulkan lomba OTT koruptor tapi ndak ada yang setuju.”

“He he he, kenapa harus mengadakan lomba aneh-aneh begitu, mas,” cibir Wak Carik.

“Karena ini sepertinya Agustusan terahir kita, pak. Ke depan, saya khawatir Agustusan sudah tidak ada lagi.”

“Kenapa?”

“Tanya sendiri sama Gus Hafidz.”

 “Sik talah, sampeyan ini siapa, tinggal di RT berapa?”

“Saya Untung, pak. Saya Untung Suropati. Saya tinggal di relung hati setiap orang di kota ini. Tapi sepertinya saya sudah ndak kerasan sekarang.”

Spontan Gus Hafidz menjerit mendengar jawaban pemuda itu. Semuanya hanya bisa melongo, dan pemuda itu tiba-tiba lenyap entah kemana.

 _____

Penulis : Abdur Rozaq (wartabromo)

Catatan : Tulisan ini hanya fiksi semata. Kesamaan nama dan tempat hanya demi menyampaikan pesan moral. Mohon maaf kepada ahli waris Mbah Sadiman, ahli waris para tokoh dan segenap masyarakat.