Penyesalan Sang Veteran

0
8

Agustusan kali ini, apapun yang terjadi, Firman Murtado harus berhasil mewujudkan cita-cita lamanya untuk mendatangkan para veteran ke balai desa untuk memberi petuah kepada semua orang di kampungnya.

Tapi memang tak gampang. Tahun lalu ia hampir jotosan sama ketua karang taruna yang bukan hanya tak setuju dengan idenya, tapi juga ngece-ngece dirinya. Ketua karang taruna yang juga pengurus partai itu bilang, kurang ada faedahnya mengundang para veteran untuk memberi wejangan dalam acara Agustusan. Masyarakat pasti ndak seantusias menyaksikan goyang dangdut seraya merekam paha para biduan dengan HP mereka.

Pak Kepala Desa juga ndak bisa dirunding. Mungkin karena sudah terpengaruh oleh ketua karang taruna, atau karena ijazahnya hanya paket C, beliau bilang kurang menarik kalau ada acara sarasehan sama para veteran. Sebenarnya Firman Murtado ingin misuhi sang Kepala Desa. Tapi karena ingat yang salah bukan yang nyalon tapi yang milih, ia ndak jadi misuhi. Pak Kepala Desa, meski nyalon pakai ijazah paket C ndak layak dipaiduh. Beliau hanyalah salah satu anak bangsa yang ingin tampil memimpin desanya. Yang salah adalah masyarakat dan Firman Murtado sendiri. Salah sendiri ndak cerdas-cerdas meski sudah puluhan kali ikut pemilu. Salah sendiri ndak cerdas memahami bahasa kampanye dan janji-janji tim sukses. Salah sendiri menyewakan desa selama satu periode dengan menerima uang serangan fajar yang murah meriah itu. Kata Ustdaz Karimun, jika ada pemimpin yang ndak pokro sampai terpilih, yang paling bertanggung jawab adalah masyarakat yang menerima serangan fajar.

Maka tahun ini, ia memanfaatkan Gus Hafidz untuk melobi bapak Kepala Desa. Firman Murtado memang ndak pokro. Kiainya kok dimanfaatkan. Tapi begitulah politik. Jangankan memanfaatkan seorang kiai, wong ayat suci dan rakyat saja bisa perjual belikan? Dan Alhamdulillah, meski ndak banyak panitia yang ngerewangi, sarasehan bersama para veteran perang itu berhasil dilangsungkan. Firman Murtado rela kepontal-pontal sendiri. mencari perlengkapan dan dana sendiri. Ahirnya sukses. Maksudnya jadi digelar, meski hanya dihadiri oleh beberapa gelintir manusia. Terutama mereka yang terlanjur akrab dengan Firman Murtado di warung Cak Manap.

Mbah Paiman, Mbah Syafii dan Mbah Dullah dihadirkan sebagai nara sumber. Maksudnya pencerita yang akan mengisahkan pengalaman beliau-beliau pada masa perjuangan dulu. Firman Murtado bertindak sebagai –selain panitia tunggal—juga moderator.

“Mohon diceritakan mbah, bagaimana perjuangan panjengan dulu di zaman revolusi,” pinta Firman Murtado.

Mbah Paiman memegang mikrofon dengan tangan sepuhnya yang gemetar. Lima hingga sepuluh menit belum juga bisa bicara. Tatapannya menerawang. Menatap umbul-umbul Merah Putih yang melambai di teras balai desa.

“Kami sudah memberikan semua yang kami punya, nak. Nyawa yang satu-satunya ini, kami pasrahkan juga. Kalau siang hari kami selamat, malamnya mungkin kami sudah mati. Para penjajah, mulai Belanda sampai Jepang begitu kuat dan lengkap senjatanya. Kami hanya membawa golok, bambu runcing dan jimat pemberian Kiai Musthofa. Yang kami waspadai bukan hanya pasukan penjajah, tapi juga penghianat dari bangsa sendiri. Bedanya, kaum penjajah jelas berbeda warna kulit dan seragamnya. Tapi para penghianat, mana mungkin kami bisa membedakannya. Kadang mereka juga pura-pura ikut gerilya, tapi tiba-tiba markas kami dibumi hangus akibat penghiatan mereka yang memata-matai kami.”

“Kami melakukan perlawanan tanpa kenal lelah. Tak siang tak malam. Kami sudah terbiasa melihat kawan-kawan kami meregang nyawa demi kemerdekaan kita. Kematian bisa terjadi kapan saja. Luka, kesedihan dan kehilangan tak sempat kami tangisi, karena yang ada dalam hati kami hanyalah kemerdekaan kalian. Kawan-kawan yang gugur kami kebumikan di mana saja, lalu tinggalkan untuk meneruskan perlawanan atau mengatur siasat. Anak-anak dan istri kami sering kali diculik dan dibunuh para penjajah. Tak jarang istri dan anak-anak perempuan kami diperkosa, tapi kami tak boleh menyerah. Merelakan itu semua terjadi demi terus bergerilya memberikan perlawanan. Para penghianat seringkali membocorkan identitas kami sehingga para penjajah bisa mengancam kami dengan menculik bahkan membunuh keluarga kami. Tapi perjuangan tak boleh berhenti.”

Selanjutnya Mbah Dullah yang mendapat giliran berbicara.

“Yang tak pernah saya lupakan, tentara Jepang beramai-ramai memperkosa anak kepala desa lalu membunuhnya. Saya tepat berada di balik rimbun bambu saat itu. Dengan mudah saya bisa menghabisi mereka dengan granat rampasan. Tapi komandan saya melarang demi keselamatan kompi kami. Andai saya melempar granat saat itu, mungkin para pemerkosa itu akan mati semuanya. Tapi resikonya, puluhan truk berisi pasukan Jepang pasti akan memburu kami dan membumi hanguskan seluruh desa. Dalam hati saya dendam. Maka setiap kali berhasil membunuh pasukan Jepang, saya rusak jasadnya hingga hancur.”

“Kalian enak. Saat ini anak-anak gadis bisa keluyuran seenaknya. Siang- malam bisa ke mana-mana. Dulu zaman Jepang, gadis-gadis dalam rumah pun akan diculik untuk dijadikan pemuas nasfu pasukan biadab itu. Makanya, saya geram dengan gadis-gadis sekarang. Kenapa mereka tak pandai menghargai dirinya sendiri? Untung mereka ndak hidup di zaman Jepang.”

“Kalian ini enak..” sambung Mbah Syafii. Bisa sekolah, bisa makan kenyang dan setiap bulan bisa bergonta-ganti pakaian. Kami dulu hanya makan tiwul, pepaya mentah bahkan banyak penduduk mati kelaparan karena beras dan apa saja diangkut ke Jepang. Melihat anak sekarang yang suka sekali menghambur-hamburkan rejeki, sekolah ndak serius dan setiap minggu ganti membeli pakaian baru padahal masih banyak orang ndak mampu, ingin rasanya saya lempar dengan granat biar ndak menjadi benalu di negeri ini.” Para hadirin yang hanya beberapa gelintir orang itu menghela nafas dalam-dalam.

“Kadang, ada penyesalan di hati saya. Bukan menyesal karena telah bertaruh nyawa mengusir penjajah, tapi menyesal karena negeri harus diwarisi oleh generasi seperti kalian. Melihat pencuri uang negara senyum-senyum di televisi, melihat orang menjual madat tidak dihukum tegas, melihat kemiskinan yang makin parah, melihat para pemimpin yang semena-mena, saya menyesal telah bertaruh nyawa demi mereka.”

Forum sepi. Anak-anak muda entah kemana. Mereka tak nampak batang hidungnya sama sekali. Para pejabat desa nampak ramai minum kopi di warung Cak Manap. Tapi ucapan-ucapan para veteran itu terlanjur menggaung ke seantero desa dari sound system yang disewa Firman Murtado dengan menjual kalung istrinya.

_________
Penulis : Abdur Rozaq (wartabromo)