Agresi Dangdut Ngeres

0
125

Semakin ahir, semarak Agustusan makin menggempita. Setiap desa adu semarak kegiatan Agustusan dengan menggelar orkes dangdut.

Entah bagamana reaksi Mbah Sakerah atau Mbah Untung Suropati di dalam kubur. Yang jelas Mbah Sakerah suka tayub, bukan dangdut. Dan Mbah Untung Suropati pasti lebih menyukai tari Bungbung karena beliau asli Bali. Tapi bagi Ustadz Karimun yang saklek menjaga moral, fenomena agresi dangdut ngeres yang menggelegar di bulan kemerdekaan ini membuat beliau ndak bisa tidur. Resah.

Tapi yang mampu dilakukan Ustadz Karimun hanya wadul sama Wak Carik. Barangkali menjadi pertimbangan dan disampaikan dalam forum paguyuban carik, entah kapan.

“Kenapa, ustadz?” tanya Wak Carik tanpa merasa segan.

“Bukan sok lancip, bukan sok suci, saya juga manusia normal. Sebagai laki-laki normal saya juga suka dengan lenggak-lenggok biduan di atas panggung. Masalahnya, kok ya kurang pantas merayakan rasa syukur dengan cara seperti ini. Bagaimana kalau pesta yang kita gelar ini malah menjadi bentuk kufur nikmat kita kepada Gusti Allah? Dan, bagaimana kalau seandainya Mbah Sakerah, Panglima Soedirman dan Bung Hatta bangkit dari kubur, apa beliau-beliau sudi menghadiri resepsi Agustusan yang kita gelar dengan biaya dana desa ini?”

“Rakyat butuh hiburan, ustadz. Hidup sudah ibarat uji nyali. Beras, tarif listrik, BBM, gas, bahkan garam mahal. Lagian ini setahun sekali, kok?”

“Kalau memang tujuannya hiburan, kenapa ndak nanggap wayang, ludruk, jaran kencak, reog, kuda lumping atau barongsai saja? Dan kalau sudah tahu setahun sekali, kenapa ndak diadakan semacam seminar, sarasehan, pelatihan atau sekalian pengajian?”

“Panitianya anak-anak muda, ustadz. Kalau  ndak dituruti nanggap dangdut masa kini yang kata sampeyan liriknya bikin pingin wayuh itu, mereka bisa purik.”

“Itu salah kita yang tua-tua, ndak pernah dialog sama mereka.” keduanya terdiam

“Ke depan, bolehlah kita nanggap musik, tapi mohon jangan dangdut yang ngeres begitu. Kan ada dangdut yang liriknya sopan?”

“Kenapa, ustadz?” ujar Wak Carik heran.

“Karena dangdut masa kini rata-rata kurang santun. Ya dari goyangan dan kostum biduannya, terutama lirik-lirik lagunya.” Karena Wak Carik nampak ndak nyambung, Ustadz Karimun terpaksa menjelaskannya.

“Dari semua jenis musik, yang cenderung paling hot aksi panggungnya kan dangdut? Dan dangdut masa kini, liriknya masya Allah. Kok ya kita ini kalah kreatif sama musisi kuno yang begitu pandai mengajarkan kearifan dalam lirik-lirik lagu?”

“Saya ndak anti dangdut. Saya hanya menyayangkan kalau kasus pembuangan bayi, kasus rajapati karena perselingkuhan dan maraknya perceraian kian meningkat,” jelas Ustadz Karimun.

Wak Carik tersenyum penuh arti mendengar ucapan Ustadz Karimun.
“Wong cuma syair lagu, ustadz. Apa ada efeknya?” katanya.

“Lho, lagu itu akan jadi unen-unen lho, Wak Carik. Kalau semua lirik lagu bercerita soal perselingkuhan, cinta terlarang, pergaulan bebas, apalagi sekarang ada yang bercerita soal ajian pengasihan ilmu hitam segala, lama-lama akan membekas dalam pikiran kita. Kita takkan lagi beranggapan kalau merusak pager ayu atau mempraktekkan hubungan terlarang sebagai hal tabu. Apalagi, bocah-bocah sekarang makin pandai meniru apa saja yang kita lakukan. Kalau kita belum yakin, mari kita hitung berapa kali orang menemukan bayi di buang dalam setahun ini. Berapa banyak kasus perceraian, perselingkuhan bahkan pembacokan gara-gara moral makin longgar.”

Wak Carik terdiam mendengar paparan Ustadz Karimun.

“Tapi masa iya?” ujar Wak Carik masih ragu.

“Kita bandingkan saja bagaimana moral masyarakat sekarang. Dulu,  ketika kisah cinta disyairkan dengan santun dalam lagu, kita tidak merasa bangga jika berhasil merusak pager ayu seseorang. Sekarang, merusak pager ayu kita anggap sebagai sebuah kemenangan besar. Sekarang kita ndak sungkan bilang I Love You Bojone Wong, ndak merasa sungkan diciduk di hotel melati. Syair lagu bisa meresap ke dalam hati, lalu menjadi unen-unen, dan pada ahirnya menjadi ideologi. Apa ndak gawat kalau ideologi kita mencintai istri tetangga?”

“Sik talah, lagu yang mana yang kata sampeyan kata-kata tabunya?” Wak Carik masin penasaran.

“Sampeyan cari sendiri contohnya. Sampeyan cari lagu yang bercerita soal hamil di luar nikah, soal cinta sesaat, soal perselingkuhan, soal gaya sunnah malam Jumat instant, dan yang terahir bercerita soal ajian pengasihan paling hitam dalam sejarah leluhur untuk merusak pager ayu. Sampeyan pasti tahu maksud saya.”

“Lagi pula, pagelaran goyang dangdut yang aduhai itu membuat kita berlomba menjadi para penyawer yang begitu dermawan seakan anak istri sudah kita jamin hidupnya. Di panggung, saat nyawer kita lupa kalau uang kreditan belum kita bayar, listrik nunggak dan stok beras tinggal besok. Kita juga sering nyawer dan berjoget sambil mabuk di depan umum, di depan hidung anak-anak kita.  Jangan-jangan anak kita menganggap itu semua sebagai suatu kewajaran.”

________
Penulis : Abdur Rozaq (WartaBromo)

Catatan : Tulisan ini hanya fiksi semata,
Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan.