Motif Batik Probolinggo Angkat Potensi Daerah

1200

Probolinggo (wartabromo.com) – sepuluh tahun lalu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo getol menggiatkan kerajinan batik. Corak batik Kabupaten Probolinggo yang berbeda dengan daerah lain, meningkatkan perekonomian masyarakat.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Probolinggo, Heri Sulistyanto, mengatakan batik sangat mengangkat potensi daerah. “Motif batik khas harus melambangkan seni, budaya, dan tradisi masyarakat Probolinggo, sehingga melalui batik, nama Kabupaten Probolinggo dapat dikenal luas,” tuturnya

Menurut dia, pihaknya berusaha mengangkat potensi batik khas daerah, sehingga untuk mewujudkan hal itu dibentuk kelompok-kelompok batik di Kabupaten Probolinggo.

Awalnya, ada tiga kelompok batik yang bisa dibentuk dan eksis, yakni Batik Prabulinggih di Desa Bulujaran Lor, Kecamatan Tegalsiwalan; Dewi Rengganis, Desa Jatiurip, Kecamatan Krejengan; dan Laweyan Asri, Desa Muneng Leres, Kecamatan Sumberasih.

 

Dari tiga kelompok batik tersebut, lanjut dia, lahirlah beberapa kelompok batik lain seperti Batik Ronggomukti, Kelurahan Sidomukti, Kecamatan Kraksaan; Batik Senandung Bromo Dringu, Batik Selowati, Desa Selogudik, Kecamatan Pajarakan; Batik Arasy, Kecamatan Karanganyar, Kecamatan Paiton; Batik Balqist, Desa Kedungsari, Kecamatan Maron; Pasir Berbisik Sukapura dan Joko Seger Sukapura.

Kemudian ada juga Batik Ronggojalu, Leces; Pelangi, Batik Desa Bulu, Kecamatan Kraksaan; Batik Elbahirah, Desa Pegalangan, Kecamatan Maron, Batik Pancor Mas, Kecamatan Pakuniran, Batik Probotanjung, Desa Muneng, Kecamatan Sumberasih; dan Batik Legundi, Deaa Legundi, Kecamatan Bantaran.

“Motif batik diharapkan memiliki makna dan mempunyai cerita, sehingga tidak hanya sekedar motif saja. Dari beberapa pengrajin itu, ada 13 yang sudah eksis dan mandiri, sementara yang lain masih butuh bimbingan dan pembinaan lebih lanjut,” katanya.

Ia mengatakan pemberdayaan rumah tangga miskin melalui batik tulis sudah dilakukan para pengusaha batik, salah satunya Batik Tulis Dewi Rengganis di Desa Jatiurip yang membuat terobosan mengangkat legenda rakyat, budaya dan keindahan Kabupaten Probolinggo.

“Pemberdayaan rumah tangga miskin melalui usaha batik akan memudahkan organisasi perangkat daerah (OPD) dalam memfasilitasi hak paten, hak merk, dan hak cipta sehingga motif yang ada di Kabupaten Probolinggo akan terlindungi,” paparnya.

Saat ini, lanjut dia, pasar batik sudah mulai diperhitungkan para peminat batik, apalagi motif batik Kabupaten Probolinggo sudah terdaftar dalam batik khas Jawa Timuran.

“Saat ini para pengusaha batik mulai bersemangat dalam menghasilkan karya dan inovasi dalam membuat motif batik, bahkan Bupati Probolinggo P. Tantriana Sari selalu memakai batik khas Kabupaten Probolinggo dalam berbagai kegiatan resmi,” tutur Heri.

Ia berharap para pengusaha batik tulis membuat motif yang mampu mengangkat potensi daerah, sehingga dengan banyaknya pengusaha batik, maka akan mengurangi angka kemiskinan. (saw/saw)