Darurat Sanitasi, Akses Jamban Bersih di Pasuruan Masih 67%

0
110

Pasuruan (wartabromo.com) – Kabupaten Pasuruan menempati peringkat 34 dari 38 kota/kabupaten di Jawa Timur untuk sanitasi berupa akses jamban bersih. Dengan posisi itu, tercatat 67% telah mengakses jamban bersih, terkategori darurat sanitasi, sebagaimana terungkap di situs Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).

Digambarkan, sanitasi dan air bersih merupakan dua unsur yang tidak bisa dipisahkan, lantaran kerap disebut sebagai pemicu terjadinya penyakit di tengah masyarakat.

Berbicara soal air bersih, masyarakat di perKotaan maupun wilayah pedesaan pun memiliki hak mendapatkannya. Namun, apakah semua masyarakat mendapatkan air bersih? Lantas bagaimana kesadaran masyarakat khususnya perempuan terhadap sanitasi dan kebutuhan air bersih.

Dari penelusuran, muncul beberapa fakta mengejutkan. Mulai dari perilaku masyarakat yang sebenarnya sudah memahami pentingnya sanitasi, tapi enggan berubah dengan tetap melakukan pencemaran lingkungan.

Termasuk juga minimnya perhatian dari pemerintah daerah terhadap sanitasi. Dengan jumlah penduduk sekitar 1.746.089 jiwa (435.056 KK), tersebar di 365 desa dan 24 kecamatan ini, sekitar 67% sudah mendapatkan akses sanitasi yang bersih.

Sisanya, masih belum bisa disebut layak, karena lebih memilih buang air di sungai menggunakan toilet tradisional atau yang umum disebut WC helikopter.

Konsultan Sanitasi dan Air Bersih, Rediston mengatakan, telah mencatat beberapa perilaku masyarakat kota/kabupaten Pasuruan.

Ia menyimpulkan tingkat kesadaran masyarakat terhadap kebutuhan sanitasi dan air bersih sudah terdapat peningkatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Hanya saja,  peningkatan itu belum signifikan. Sebab, kenaikan kesadaran ini, masih pada perbandingan 50:50. Ada sebagian yang sudah sadar. Ada juga yang sudah meninggalkan kebiasaan buruk, tapi akhirnya kembali lupa dan tidak sadar, jika kebutuhan sanitasi dan air bersih penting untuk tetap dijaga agar lingkungan tidak tercemar.

Salah satu indikator hingga masyarakat kembali berprilaku tidak sehat karena minimnya perhatian. Kata dia, orang sadar, itu karena terbiasa. Semakin diingatkan, pola pikir masyarakat itu akan mudah sadar.

“Cenderung hanya sekali saja, dan tidak berkelanjutan. Dan ini yang membuat akhirnya mereka memilih ya sudahlah, lebih enak seperti dahulu tidak repot,” kata Rediston.

Menurut dia, perilaku masyarakat di Kota dan Kabupaten Pasuruan ini memang belum baik. Mereka tetap mengandalkan sungai untuk membuang air besar, ataupun untuk kebutuhan air bersih. Kebiasaan itu sampai sekarang tetap dipertahankan. Padahal, mereka tidak mengetahui air yang mereka gunakan itu tidak higenis.

Rediston menyampaikan, indikator lain yang membuat masyarakat ini mudah goyah dan kembali ke perilaku lama itu karena fasilitas. Ia mencontohkan, pemerintah kota dan kabupaten Pasuruan sudah memberikan bantuan berupa air bersih dalam bentuk sumur bor. Namun, kendala mereka adalah jarak yang dianggap terlampau jauh.

“Mereka akhirnya kembali, ya biarkanlah ada sumur bor dengan air bersih, toh nyatanya mau mengambil ke sana juga susah. Lebih baik ambil di sungai saja daripada kesana. Lebih dekat, dan tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan airnya,” imbuhnya.

Persoalan teknis, sepatutnya juga wajib diperhatikan bagaimana bantuan sumur bor dan tandon air yang bersifat komunal itu, bisa terdistribusikan dengan baik sampai ke rumah warga.

Dituturkan, mengubah perilaku itu tidak mudah, sehingga sosialisasi harus diimbangi dengan pendampingan. Menurut dia, pendampingan ini menjadi kunci sukses untuk mengubah perilaku masyarakat.

“Jadi, saya pernah temukan kasus di sebuah daerah di Pasuruan. Daerah di sini, hampir semua masyarakat desa itu mengaku tidak pernah mendapatkan sosialisasi ataupun pendampingan. Mereka buta akan apa itu sanitasi dan air bersih. Padahal, dalam laporan dan informasinya, daerah yang dikunjunginya itu pernah mendapatkan pelatihan dan sosialisasi,” tambahnya. (man/ono)