13:37 - Selasa, 21 November 2017
Senin, 13 November 2017 | 08:00

Cerita Cantiknya Kaligrafi Serbuk Kayu di Probolinggo

Probolinggo (wartabromo.com) – Seni kaligrafi umumnya digurat dengan cat dan tinta, atau bahkan diukir pada kayu utuh. Namun, kaligrafi karya Kholili, warga Desa Jatiurip, Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo ini, berbeda dari yang lain, karena terbuat dari limbah serbuk kayu.

Pria berusia 39 tahun ini, mulai menjalani usaha kaligrafi sejak 3 tahun lalu. Namun, karyanya mulai banyak yang melirik, sejak setahun terakhir. Awalnya, Kholili sekedar ingin menuangkan hobi saja.

“Tetapi perasaan saya produk ini layak dijual. Jadi saya coba tawarkan lewat media sosial. Alhamdulillah, responnya baik,” ujar Kholili.

Dijelaskan, satu set produknya dijual dengan harga variatif, mulai Rp 150 ribu hingga Rp 3,5 juta.

Ceritanya, inspirasi muncul tahun 2014, ketika ia mengingat masa kecilnya dulu. Kholili kecil suka bermain-main di tempat pemotongan kayu. Namun, ia sering diusir karena dianggap mengganggu pekerjaannya.

Ia suka memperhatikan ketika ada kayu yang berlubang, ditambal menggunakan serbuk dengan dicampur lem kayu.

Dari itulah, ia kemudian berencana menuangkan hobi kaligrafi dengan bahan anti mainstream. Awalnya, dia menggambar motif kaligrafi di sebuah kertas, dengan ukuran beragam. Lalu motif di kertas itu dilubangi dan ditempelkan ke styrofoam. Bahan sejenis gabus itu, kemudian dilubangi juga. Nah, styrofoam berlubang itu, yang nanti diisi dengan serbuk kayu basah.

Namun, membuat satu karya tidak terhenti sampai disitu. Proses selanjutnya mengeringkan, ketika cetakan serbuk masih basah serta setelah serbuk dilapisi lem kayu. Proses pengeringan itu, setidaknya memakan waktu sekitar 15-30 hari, tergantung ukuran dan motif.

“Kalau serbuk kayu dilumuri lem, pasti jadinya nanti keras. Baru setelah itu dipasang di figura dan dipasarkan. Karena prosesnya lama dan butuh kesabaran, untuk itu saya namakan Seni Kaligrafi Kalijaga,” tutur guru SMKN 1 Kotaanyar ini.

Biasanya kaligrafi yang dibuat oleh warga Dusun Krajan 2 RT 3 RW 3, Desa Jatiurip ini, berupa lafadz Allah-Muhammad, Asmaul Husna, Alhamdulillah, Bismillah, Ayat Kursi. Ada juga Kalimat Tauhid hingga yang terumit yaitu Kiswah Ka’bah. Selain lafadz , ia juga menerima pesanan, seperti lambang NU (Nahdlatul Ulama).

Untuk mendapatkan limbah serbuk kayu, alumni STIH Zainul Hasan Genggong ini, tak mengalami kesulitan. Ia cukup mendatangi pemotongan kayu saat pulang dari mengajar. Satu karung serbuk kayu, biasanya dibeli oleh bapak empat anak ini, seharga Rp. 5 ribu saja.

Sepulang mengajar, Kholili selalu menyempatkan diri membeli serbuk kayu di beberapa tempat industri. “Alhamdulillah, hobi ini mampu memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga. Selain itu, waktunya juga tidak mengganggu pekerjaan maupun untuk keluarga,” katanya.

Karya seni kaligrafinya terbilang disukai oleh pelanggan, salah satunya adalah Nurul Huda. Selain bagus, harga yang ditawarkan juga cukup murah. “Saya salut dengannya. Jarang sekali orang memanfaatkan limbah untuk dijadikan karya seni. Karyanya bagus dan murah, top markotoplah,” ujar pria yang berprofesi sebagai advokat ini. (saw/saw)

Komentar Anda

Komentar

Masih Peringkat 4, Mangga Indonesia Diyakini Jadi Jawara Dunia

Petani di Bantaran Mengeluh, Harga Cabai Turun Tak Sebanding Ongkos Produksi