17:17 - Kamis, 14 Desember 2017
Jumat, 17 November 2017 | 21:12

Nelayan Kota Pasuruan Masih Didata, Konversi BBM ke Gas Diterapkan Tahun Depan

Pasuruan (wartabromo.com) – Dinas Perikanan Kota Pasuruan, belum menerapkan konversi BBM (Bahan Bakar Minyak) ke BBG (Bahan Bakar Gas) untuk perahu nelayan. Saat ini, upaya pendataan dan pendekatan nelayan masih dilakukan, sehingga tahun 2018, program ini dapat diterapkan.

Masih dilakukannya pendataan nelayan, terungkap saat Dinas Perikanan Kota Pasuruan Sosialisasi Konversi Bahan Bakar Perahu BBM ke BBG di Gedung Gradika Bhakti Praja Pemkot Pasuruan, Jumat (17/11/2017).

Kepala Dinas Perikanan Kota Pasuruan, Sugiharto mengatakan, ribuan nelayan di Kota Pasuruan belum mengikuti program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke elpiji (LGP).
Pasalnya, program inisiasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bekerja Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ini, baru akan diterapkan tahun depan.

Diungkapkan, belum diterapkannya penggunaan BBG (Bahan Bakar Gas) untuk perahu milik nelayan, lantaran pihaknya masih melakukan pendataan terhadap jumlah nelayan yang bakal dijadikan sasaran program.

Selain itu, hal utama juga melakukan pendekatan kepada para petani tentang kemudahan pemakaian BBG daripada BBM.

“Nelayan kita masih menggunakan bensin sebagai bahan bakar kapal atau perahu. Nah, program konversi dari pemerintah pusat ini sangat efektif, tapi belum banyak nelayan yang tahu,” kata Sugiharto.

Sugiharto menyatakan, konversi bahan bakar minyak ke bahan bakar gas (BBM-BBG) mampu menekan biaya operasional para nelayan tangkap hingga 70 persen. Pihaknya, bakal terus melakukan pendekatan dengan memberikan pemahaman terkait keuntungan penggunaan gas bagi nelayan.

Dijelaskan, konversi BBM ke BBG, punya banyak keunggulan. Faktor keamanan adalah yang utama serta efisiensinya, dimana nelayan yang sudah menggunakan bahan bakar gas, sudah tidak perlu lagi ke sentra pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk mengantri solar.

“Keunggulannya yang pertama dari segi keamanan yang terjamin, lebih praktis tidak perlu ke SPBU lagi,”imbuhnya.

Seperti diketahui, jumlah nelayan di Kota Pasuruan mencapai 2070 orang, sedangkan jumlah kapal sebanyak 580 unit, dengan rincian 510 unit motor tempel dan 70 kapal motor. Kata Sugiharto, program konversi akan dimulai tahun 2018 mendatang, sehingga setiap nelayan harus menyerahkan kartu nelayan dan buku catatan kapal. Hal itu, merupakan persyaratan penerima bantuan peralatan seperti converter dan tabung elpiji 3 kg (tabung melon).

“Mereka semua antusias. Dikasih baling-baling saja senang, apalagi dikasih peralatan bantuan lengkap. Maka dari itu, kami harapkan agar para nelayan bisa segera melengkapi seluruh persyaratan tersebut agar program koversi ini berjalan lancar,” terangnya. (mil/ono)

Soal Proyek RSUD M. Saleh, Komisi III Tuding Pelaksana Tidak Kompeten

Forum Anak Kota Pasuruan Deklarasi Tolak Kekerasan dan Eksploitasi