20:04 - Senin, 11 Desember 2017
Selasa, 21 November 2017 | 14:56

Miarso Hadi, Mantan Sales Ini Sukses Kembangkan Ternak Lebah Madu

Probolinggo (wartabromo.com) – Kabupaten Probolinggo dianugerahi kekayaan alam yang sangat melimpah, berbagai jenis flora yang tumbuh subur. Menyadari kondisi alam ini, Miarso Hadi (45), warga Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, pun banting stir dari pekerjaannya sebagai sales menjadi peternak madu.

Pilihan itu ternyata bukanlah sebuah perjudian, karena kini ia sukses menjadi pengusaha. Sejak beralih menjadi peternak madu sekitar 8 tahun lalu, kini Miarso memiliki 200 kotak rumah lebah madu. Dalam 6 bulan, ke 200 kotak ini mampu menghasilkan sekitar 10 ton madu alami. Dengan kisaran harga 80 ribu per botol ukuran 330 mililiter, setidaknya Miarso mampu meraup pendapatan kotor sekitar Rp. 500 juta.

“Saya usaha ternak lebah madu ini sejak 8 tahun silam. Terinpirasi oleh keberhasilan kakak saya yang lebih dulu melakukan usaha ternak lebah madu ini. Sementara penghasilan saya sebagai sales makanan ringan dan minuman tidak seberapa. Sehingga saya kemudian banting stir beralih sebagai peternak lebah madu, dan berhenti menjadi sales,” tutur Miarso kepada Wartabromo.com, Selasa (21/11/2017).

Miarso mengatakan, kadar air madu Lumbang hanya mencapai 24% – 25%, angka ini lebih rendah dibanding wilayah lainnya yang mencapai mencapai 35 % – 40%. Dengan kadar air madu lebah dari daerah lain di Indonesia, madu Lumbang sangat disukai konsumen. Saat ini, pemasarannya sudah sampai ke luar daerah, seperti Semarang, Solo, Jogyakarta, Surabaya, Malang hingga Bali.

Ia menjelaskan, usaha ternak madu lebah di daerahnya musiman. Dimana 6 bulan musim panen dan 6 bulan musim paceklik. Musim panen itu, adalah ketika banyak pohon berbunga, semisal randu, apokat, kesambi, sengon, mangga dan lain-lain. Sementara musim paceklik adalah ketika pohon-pohon itu sudah tak berbunga. Juga saat angin kencang atau erupsi Gunung Bromo. “Usaha ternak lebah madu ini sangat prospektif, karena geografis alamnya sangat mendukung. Rencananya, saya akan memperluas usaha ini, karena mampu menyerap tenaga kerja lokal,” kata warga Dusun Kunci ini.

 

Camat Lumbang, Bambang Heriwahyudi menerangkan, di wilayah hampir disetiap desa ada peternak lebah madu. Tercatat ada 240 peternak dengan produksi madu mencapai 500 ton per tahunnya. Jumlah produksi ini, memasok sepertiga produksi peternak madu nasional. Sementara berdasarkan penelitian ITB, kebutuhan madu secara nasional antara 3500 – 4000 ton, namun baru tercukupi 1000 – 1500 ton, sisanya masih impor.

Oleh karena itu, Pemkab Probolinggo melakukan kerjasama Universitas Surabaya (Ubaya) melakukan pelatihan dan bimbingan teknologi kepada peternak. Tujuannya ada peningkatan produksi madu untuk mengisi pangsa pasar yang sangat terbuka. “Arahnya, selain menyuport kebutuhan madu secara nasional, juga ada produk turunan dari madu ini yang bisa dikomersialkan. Seperti untuk sabun cair, padat maupun untuk kecantikan,” ujar Camat Bambang.

Pada awal tahun 2018 nanti, ada bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Ubaya untuk peternak lebah madu berupa mesin standart kualitas madu dan kebersihannya. “Mengenai pemasaran atau penjualannya nanti melalui Koperasi yang sudah dibentuk peternak lebah. Saat ini di Kecamatan Lumbang ada 10 kelompok peternak lebah madu yang sudah bergabung di Koperasi peternak lebah,” pungkasnya. (**/saw)

Srempetan Dengan Truk, Karyawan Sampoerna Ini Tak Tertolong

Terlihat Diabaikan, Perbaikan Jalur Pantura Kota Pasuruan Bikin Lalin Kacau