17:16 - Kamis, 14 Desember 2017
Rabu, 22 November 2017 | 13:07

Kaligrafi Cantik Dari Limbah Serbuk Kayu di Probolinggo

Probolinggo (wartabromo.com) – Seni kaligrafi umumnya digurat dengan cat dan tinta, ada juga yang diukir pada kayu utuh. Namun, kaligrafi karya Kholili, warga Desa Jatiurip, Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo ini, berbeda dari yang lain, yaitu terbuat dari limbah serbuk kayu.

Pria berusia 39 tahun ini, mulai menjalani usaha tersebut sejak 3 tahun lalu. Namun, karyanya mulai banyak yang melirik, setahun terakhir. Awalnya, Kholili sekedar ingin menuangkan hobinya. Satu set produknya dijual dengan harga variatif, mulai Rp 150 ribu hingga Rp 3,5 juta. “Jadi saya coba tawarkan lewat media sosial. Alhamdulillah, responnya baik,” ujar Kholili.

Inspirasi itu muncul tahun 2014, ketika ia mengingat masa kecilnya dulu. Kholili kecil sangat menyukai bermain di tempat pemotongan kayu. Namun, sering diusir sama orang karena dianggap mengganggu pekerjaannya. Ia suka memperhatikan ketika ada kayu yang berlubang maka ditambal menggunakan serbuk dengan dicampur lem kayu.

Dari itulah, ia kemudian berencana menuangkan hobi kaligrafi dengan bahan anti mainstream. Awalnya, dia menggambar motif kaligrafi di sebuah kertas, dengan ukuran yang beragam. Lalu motif di kertas itu dilubangi dan ditempelkan ke styrofoam. Bahan sejenis gabus itu, kemudian dilubangi juga. Nah, styrofoam yang berlubang itu yang nanti diisi sama serbuk kayu yang masih basah.

Namun, proses membuat satu karya tidak terhenti sampai disitu. Proses selanjutnya adalah  pengeringan yang dilakukan sebanyak dua kali. Yakni pengeringan cetakan serbuk yang masih basah dan pengeringan pasca serbuk dilapisi lem kayu. Proses itu, setidaknya memakan  waktu sekitar 15-30 hari tergantung ukuran damotif. “Baru setelah itu dipasang di figura dan dipasarkan. Karena prosesnya lamanya dan butuh kesabaran, untuk itu saya namakan Seni Kaligrafi Kalijaga,” tutur guru SMKN 1 Kotaanyar ini.

Biasanya kaligrafi yang dibuat oleh warga Dusun Krajan 2 RT 3 RW 3, Desa Jatiurip ini, berupa lafadz Allah-Muhammad, Asmaul Husna, Alhamdulillah, Bismillah, Ayat Kursi. Ada juga Kalimat Tauhid hingga yang terumit yaitu Kiswah Ka’bah. Selain lafadz , ia juga menerima pesanan, seperti lambang NU (Nahdlatul Ulama).

Untuk mendapatkan limbah serbuk kayu, alumni STIH Zainul Hasan Genggong ini, tak mengalami kesulitan. Ia cukup mendatangi pemotongan kayu sesuai pulang dari mengajar. Satu karung serbuk kayu, biasanya ia beli seharga Rp. 5 ribu saja. “Alhamdulillah, hobi ini mampu memberikan penghasilan tambahan bagi keluarga dan waktunya juga tidak mengganggu pekerjaan maupun untuk keluarga,” terang ayah 4 anak ini.

Karya seni kaligrafinya sangat disukai oleh pelanggan, salah satunya adalah Nurul Huda. Selain bagus, harga yang ditawarkan juga cukup murah. “Saya salut dengannya. Jarang sekali orang yang punya visi memanfaatkan limbah untuk dijadikan karya seni. Karyanya bagus dan murah, top markotoplah,” ujar pria yang berprofesi sebagai advokat ini.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, terus melakukan pendampingan bagi pelaku usaha mikro. Baik itu berupaya pelatihan keahlian, manajemen, dan juga pemasaran. Dengan bekal ketrampilan diharapkan mampu meningkatkan pendapatan serta meningkatkan perekonomian keluarganya.

“Untuk memberikan bekal ketrampilan kepada masyarakat agar bisa bersaing dalam perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Sebab jika tidak memiliki keterampilan, maka tentunya akan menjadi penonton di negeri sendiri,” kata Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Nanang Trijoko Suhartono. (**/saw)

Terjatuh, Pemotor Asal Singosari Terlindas Bus

Lima Rumah di Probolinggo Tertimpa Tanah Longsor