17:18 - Kamis, 14 Desember 2017
Minggu, 26 November 2017 | 11:21

Sebelum Ada Biogas, Warga Balunganyar Kerap Bertengkar Gara-gara Limbah Ternak

Lekok (wartabromo.com) – Sebelum teknologi biogas, diujicoba dan diterapkan di Desa Balunganyar, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, beragam polemik pernah terjadi. Warga kerap bertengkar, bahkan bisa saling melukai, gara-gara pembuangan limbah ternak sapi.

Problematika sosial terkait limbah ternak itu dikemukakan oleh Kepala Desa Balunganyar, Sholeh (41) kepada wartabromo.com beberapa waktu lalu.

Diceritakan, pertengkaran warga itu bukan tanpa alasan. Sebab, limbah ternak dengan volume ratusan ton itu memenuhi sungai hingga berceceran di saluran air pemukiman.

Terlebih bila memasuki awal-awal musim penghujan kala itu. Sholeh menyebutkan, hampir tiap waktu dalam satu hari, harus melerai warga bertengkar.

“Kalau dulu, kotoran sapi kan dibuang sekenanya, langsung ke sungai melalui saluran-saluran. Nah, tetangga yang nggak terima kena (limpahan) kotoran akhirnya bertengkar,” ujar Sholeh.

Tidak sedikit, pertengkaran bermula hanya cekcok mulut, dipungkasi dengan saling melukai. Sehingga beberapa kali pihak desa kalang kabut, pun kepolisian harus turun tangan dan memprosesnya secara hukum.

Masalah-masalah sosial itu membuat pening, karena Sholeh juga harus memutar otak, bagaimana mencari solusi agar lingkungan desa Balunganyar terbebas dari limbah ternak.

“Aduuh, kalau baunya sudah nggak bisa dibayangkan. Kesehatan warga juga terganggu, karena kotoran sapi,” lanjut Sholeh.

Namun, sejak diujicobakannya teknologi biogas memanfaatkan limbah ternak, saat ini cerita pertengkaran warga soal limbah ternak sudah tidak terdengar.

Bahkan dengan melimpahnya limbah ternak, diperkirakan instalasi biogas akan merata dibangun ke pelosok Desa Balunganyar. Sehingga untuk beberapa tahun kedepan, seluruh warga dapat terbebas dari beban membeli elpiji.

Dijelaskan sebelumnya, Desa Balunganyar memiliki penduduk sebanyak 7225 jiwa tersebar di delapan dusun. Tapi yang menjadi perhatian adalah terdapat 7825 ekor sapi diternak warganya.

Sehingga sejak 2009, Desa inipun mulai mengujicobakan sistem instalasi biogas untuk warga, dengan memanfaatkan Anggaran Dana Desa (ADD).

Tahun 2015, instalasi sudah dilakukan pembaharuan menggunakan sumber dari dana desa (DD), berupa bak penampungan limbah seluas 4×4 meter dilengkapi penutup mirip kubah, dengan investasi Rp 22 juta tiap unit.

Secara sederhana dijelaskan, dari penampungan itu, selanjutnya dipasang pipa dan didistribusikan ke rumah-rumah warga. Tiap satu titik bangunan instalasi, biogas disalurkan ke lima kepala keluarga (KK).

Instalasi biogas dikelola BUM Desa Balunganyar sebanyak 11 unit, tersebar di sejumlah dusun. Dusun Krajan terpasang 7 instalasi, terbilang paling banyak dibandingkan dari tujuh dusun lainnya. (ono/ono)

Korban Tipu-tipu Modus Perdukunan Bertambah, Korban Lain Diminta Lapor

Pembunuh Duda Asal Tulupari, Dicurigai Masih Orang Dekat