Pemkot Probolinggo Klaim Bebas Difteri

0
76

Probolinggo (wartabromo.com) – Sepanjang tahun 2017 ini, setidaknya sudah ada 12 anak meninggal dunia akibat penyakit Difteri. Meski berada di daerah sebaran Difteri, Pemerintah Kota (Pemkot) Probolinggo mengklaim daerahnya bebas dari penyakiti difteri.

“Sampai hari ini belum ada laporan dari petugas kesehatan terkait adanya penyakit Difteri di wilayah kami. Yang kami dengar malah di kabupaten ada,” kata dr. Taufiqurrahman, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Probolinggo, Selasa (12/12/2017).

Dokter Taufiq menjelaskan pihaknya sudah meminta laporan dari fasilitas pelayan kesehatan (fasyankes) yang ada di Kota Mangga ini. Baik itu, Puskesmas, rumah sakit, maupun klinik kesehatan lainnya.

“Difteri terakhir yang dilaporkan ke dinas itu sekitar tujuh atau enam tahun yang lalu. Kalau gak salah di daerah Jrebeng. Hingga saat ini belum juga ada laporan lagi,” katanya.

Ia mengatakan bebasnya wilayah kota dari penyakit Difteri karena langkah-langkah pencegahan dilakukan secara intensif. Misalnya imunisasi lengkap kepada balita yang dilaksanakan secara periodik. Imunisasi itu diberikan pada anak-anak usia kurang dari satu tahun, usia 1- 2 tahun. Serta kelas 1, 2 dan 5 SD untuk melakukan imunisasi Difteri.

Imunisasi Difteri itu antara lain DPT HIb atau DT atau Td. “Imunisasi lengkap ini sudah mencapai 90 persen tahun ini. Didalamnya ada vaksinasi mati difteri,” ungkap Taufiq.

Meski terbebas dari Difteri, pihaknya juga perlu upaya-upaya pencegahan yakni melalui sosialisasi penyakit ini. Masyarakat perlu mengetahui gejala-gejala awal penyakit difteri. Selain itu, masyarakat diminta untuk menjaga kesehatan, kemudian meningkatkan gizinya.

“Kami susah mengeluarkan imbauan untuk masyarakat agar membawa anak-anak bila ada keluhan deman dan nyeri telan ke Fasyankes terdekat,” tandas mantan Wakil Direktur RSUD dr. Mohammad Saleh ini.

Diketahui Provinsi Jawa Timur selama 2017 ini mencatat sebanyak 318 kasus penyakit Difteri. Dari kasus tersebut 12 anak meninggal dunia. Berdasarkan peta lokasi, ada 187 lokasi (tingkat Desa atau Kelurahan) yang tersebar di 35 Kabupaten yang sudah menyatakan KLB Difteri. Kasus terbanyak terjadi di Kabupaten Pasuruan dengan jumlah kasus 46 anak. (fng/saw)