13:00 - Kamis, 19 Juli 2018
Sabtu, 16 Desember 2017 | 16:20

Bayi Kembar di Probolinggo, Satu Diantaranya Idap Hidrosepalus

Probolinggo (wartabromo.com) – Sungguh malang nasib Fahira, bayi perempuan berusia 7 bulan warga Desa Brumbungan Lor, Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo ini. Betapa tidak, sejak berusia 2 bulan kembaran dari Fandra (laki-laki) ini, sudah mengidap penyakit Hidrosefalus.

Saat lahir pada 25 Mei 2017, Fahira yang merupakan putri dari pasangan Sanimin (40) dan Suniatin (31), tak terlihat ada kejanggalan. Meski lahir prematur dengan berat badan 1,5 kilogram, sementara Fandra dengan berat badan 1,25 kilogram, ia tampak sehat-sehat saja.

Ketika berusia 2 bulan, Suniatin menemukan kejanggalan pada pertumbuhan anaknya. Selain berat badannya hanya 4,2 kilogram, kepala Fahira terlihat benjolan. Lama kelamaan, kepala Fahira semakin membesar.

“Waktu saya curiga karena perkembangannya tidak seperti kembarannya. Kepalanya membesar, sementara badan seperti mengecil. Bahkan berat kepalanya lebih berat dibandingkan badannya dan lehernya lemas,” tutur Suniatin kepada wartabromo.com, Sabtu (16/12/2017).

Karenanya, wanita yang biasa dipanggil Sun ini, membawa Fahira ke bidan desa. Namun, oleh bidan tersebut dianggap tidak bermasalah. Tetapi naluri keibuannya berbicara, sehingga ia kemudian membawa putri pertamanya itu ke bidan lain di wilayah Kecamatan Maron.

“Ternyata oleh ibu bidan itu, anak saya dideteksi menderita penyakit Hidrosefalus. Namun, untuk lebih jelasnya saya diminta untuk berkonsultasi ke bidan desa saya agar mendapatkan rujukan ke rumah sakit,” kata Sun.

Berbekal surat rujukan dan BPJS, Fahira kemudian dibawa ke RSUD Waluyojati Kraksaan oleh Kepala Desa Brumbungan Lor Erik Wahyudi. Setelah diperiksa oleh dokter, Fahira kemudian dirujuk kembali ke RS. dr. Soetomo Surabaya untuk dioperasi. Pada 11 Oktober lalu, ketika Fahira belum genap berusia 5 bulan, menjalani operasi untuk mengambil cairan yang menumpuk di kepalanya.

“Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Sejak operasi sampai sekarang baru sekali ngontrol ke Surabaya. Sekarang pertumbuhan badannya cukup baik, beratnya sudah enam kilo satu ons,” terang istri Sanimin tersebut.

Wanita yang pernah menjadi karyawan di SPBU Brumbungan Lor ini, mengaku terpukul setelah anaknya dinyatakan menderita Hidrosefalus. Pasalnya, semenjak berhenti bekerja, penghasilan keluarganya berkurang, karena hanya mengandalkan pendapat suami yang hanya buruh tani. “Ya ndak tahulah, kalau suami kerja ya masak,” kata warga Dusun Sumber itu.

Ilham Dwi Candra, tetangga depan rumah Suniatin, menuturkan saat ini keluarga kecil itu harus hidup di sebuah rumah yang tidak layak huni. Mereka menempati rumah berukuran 4×6 yang berdinding bambu milik nenek Suniatin. “Sangat memprihatikan, penghasilan mereka tidak seberapa dan harus merawat bayi yang menderita Hidrosefalus,” tuturnya prihatin. (saw/saw)

Kasihan, Pemulung Ini Terkena Ledakan Bondet

Enam Remaja Punk Diamankan Pol PP