Tuntutan Tak Dipenuhi, Warga Klampok Istighasah dan Blokir Lokasi Proyek Tol Paspro

0
129

Probolinggo (wartabromo.com) – Warga Desa Klampok, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo menuntut pelaksana proyek tol Pasuruan-Probolinggo (Paspro), membangun jalan akses ke sawahnya. Selain memblokir proyek dengan membangun tenda, mereka juga menggelar istighasah di lokasi proyek tol Paspro.

Dibawah guyuran hujan, Istighasah ini digelar di lahan Tol Paspro, usai menjalankan shalat Jumat di masjid desa. Lokasi yang ditempati adalah lahan selama 2 minggu terakhri mereka blokir. Selama itu pula, disebutkan ibu-ibu hingga kelompok pemuda, setia menunggui tenda yang didirikan.

“Kami berharap istighasah dengan memanjatkan doa akan membuka mata hati para pemegang kekuasaan. Supaya Tuhan memberikan kelancaran kepada kami dalam memperjuangkan jalan akses ke lahan pertanian kami. Ini salah satu upaya kami, karena usaha kami meminta kemana-mana gak dilayani, selalu ada jalan buntu,” tutur Jumadi, salah satu tokoh petani Desa Klampok.

Jumadi menuturkan keheranannya, mengapa pelaksana proyek yakni PT. Waskita Karya maupun Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Tol Paspro enggan memenuhi permintaan warga. Meski warga hanya meminta satu jalan setapak untuk akses ke lahan pertanian mereka. Padahal, ketinggian uruknya 4,93 meter, sementara secara tehnis yang dibutuhkan hanya 4,5 meter.

“Dulunya ada empat jalan setapak, sekarang minta satu jalan tembus biar orang tani tidak disengsarakan. Kok malah sulit sekali. Orang Waskita bilang itu bukan wewenangnya, sementara ketika kami ke PPK, malah tidak ditanggapi. Secara teknis itu malah ada kelebihan sekitar 43 sentimeter,” terang JUmadi lebih lanjut.

Salah satu pemuda desa, Eka Septian mengatakan, dengan tidak adanya jalan akses ini, diperkirakan ada sekitar 400 petani dirugikan. Untuk ke lahan persawahan dengan luas puluhan hektar itu, mereka harus berputar sekitar 3 kilometer.

Selain itu, meski jalan itu hanya jalan setapak, tetapi menjadi jalan alternatif bagi warga Desa Klampok, Desa Pamapatan, dan Wates Tani.

“Warga sebenarnya sudah gelisah sekitar lebih tujuh bulan silam. Dikatakan, saat itu rencana pembangunan tol diketahui bakal menutup akses utama menuju areal persawahan, yang berada di bagian utara pemukiman warga,” ujarnya.

Ia mengatakan akses jalan yang dituntut warga, sangat diperlukan untuk mempermudah warga. Karena bisa langsung menuju ke sawah yang bakal digarapnya, seperti sebelum ada kegiatan pembangunan tol. “Kami bukannya mau mengganggu pembangunan proyek nasional ini. Tapi bagi kami, hanya meminta jalan akses langsung, bukan berputar. Sebab, jika memutar akan menyusahkan kami para petani,” katanya.

Meski tak mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah (Pemda) setempat, warga akan terus memperjuangkan hak-hak mereka yang telah diingkari pelaksana proyek tol Paspro. (saw/saw)