11:56 - Rabu, 18 Juli 2018
Selasa, 26 Desember 2017 | 15:26

Reskrim Polres Probolinggo Klaim Kasus Pencurian Hewan Menurun

Probolinggo (wartabromo.com) – Jajaran Satreskrim Polres Probolinggo mengklaim pencurian hewan (Curwan) di wilayah hukumnya menurun dibanding tahun sebelumnya. Meski begitu, polisi meminta warga di wilayah Barat Kabupaten Probolinggo waspada terhadap Curwan ini.

Dari data Polres Probolinggo, kasus curwan di kabupaten menurun selama tiga tahun terahir. Tercatat, Pada 2015 ada 27 kasus, pada 2016 sebanyak 10 kasus dan tahun ini hanya 5 kasus. Penurunan itu dikatakan karena Satreskrim Polres Probolinggo melakukan sejumlah upaya-upaya pencegahan sehingga pelaku tidak melakukan tindakan kriminal di wilayahnya.

“Kami telah menekan mantan-mantan pelaku curwan dari Kabupaten Pasuruan, agar mereka tidak masuk ke wilayah hukum KabupatenProbolinggo. Karena tidak menutup kemungkinan para pelaku curwan saling berhubungan. Baik di Kabupaten Lumajang, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Probolinggo,” kata Kasatreskrim Polres Probolinggo, AKP. Riyanto.

Selain menekan pelaku Curwan, polisi juga memburu DPO yang belum tertangkap. Hal itu untuk mengungkap kasus Curwan yang telah terjadi dan belum terungkap. “Kami dari tim buser Polres Probolinggo selalu berupaya menangkap pelaku. Bahkan, pelaku-pelaku yang masuk daftar pencarian orang (DPO) banyak yang tertangkap,” terangnya.

Kasatreskrim juga menghimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada. Terutama pada wilayah yang dinilai sebagai daerah rawan curwan. Terutama empat kecamatan. Yaitu, Bantaran, Sumber, Tegalsiwalan, dan Leces. Sebab menurutnya, memberantas pencurian hewan merupakan tugas bersama.

“Jadi harus bekerja sama. Sebagai antisipasi jangan mengandangkan sapi sembarangan. Letakkan di tempat yang tidak mudah dimasuki pencuri. Seperti kandang yang bagus dan digembok,” tandas mantan Kasatreskrim Polres Pasuruan Kota ini.

Berbeda dengan klaim Satreskrim, faktanya banyak kasus pencurian hewan yang tidak dilaporkan ke polisi. Salah satunya adalah di Desa Kramat Agung, Kecamatan Bantaran. Di desa ini, sepanjang 2017, tak kurang dari 12 warga yang kehilangan sapi.

“Memang banyak warga yang enggan melaporkan curwan yang mereka alami. Mereka lebih suka mencari sendiri sapi mereka yang hilang,” terang Kapolsek Bantaran, AKP. Sujianto. (cho/saw)

Pilu, Ini Kisah Bayi Dalam Kardus di Beranda Serambi Musala Panti Asuhan

Sudah 3 Korban Meninggal, Dinkes Belum Nyatakan KLB Difteri