Peduli Pelestarian DAS Rejoso, Gerakan RejosoKita Gelar FGD

0
48

Rejoso (wartabromo.com) – Gerakan RejosoKita kembali melakukan kegiatan focus discussion group “Merumuskan Strategi Kolaborasi Multipihak dalam Pengelolaan DAS Rejoso” yang digelar di gedung BPDAS-HL Brantas Sampean, Kamis (26/4/2018).

Kegiatan focus discussion group ini merupakan tindak lanjut dari focus discussion group yang telah dilaksanakan sebelumnya. kegiatan tersebut bertujuan merumuskan model kelembagaan yang tepat untuk pelestarian DAS Rejoso dengan prinsip harus mewakili seluruh kepentingan, tidak bertentangan dengan peraturan perundang undangan yang berlaku serta perlunya sinkronisasi dengan beberapa flatform multistakeholder.

Hadir dalam acara tersebut Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Dinas Lingkungan Hidup PDAB Jawa Timur, BPDAS-HL Brantas Sampean, Dinas PU Cipta Karya Prov. Jawa Timur, Global Water Partnership South East Asia, Forum DAS Pasuruan, sektor swasta dan Pegiat Lingkungan.

Focus Group Discussion ini dibuka oleh Gerakan RejosoKita yang diwakili Direktur Eksekutif Yayasan Social Investment Indonesia (YSII) Pitono Nugroho” yang membahas tentang Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) Rejoso secara terpadu dan berkelanjutan dan untuk kegiatan kali ini lebih memfokuskan kepada pembentukan model kelembagaan dari pelestarian DAS Rejoso agar tercapainya pengelolaan DAS Rejoso yang berkelanjutan.

“Dalam kelembagaan jangan mengedepankan ego sektoral tetapi harus multistakeholder dan bersinergi bersama sesuai peran masing-masing,” ujar  Ir. Alrasyid, M.Si Kepala BPDAS-HL Brantas Sampean.

Menurutnya, adanya proyek SPAM Umbulan yang merupakan salah satu proyek strategis Nasional di DAS Rejoso menjadi pemicu untuk pengelolaan DAS Rejoso secara keberlanjutan. Penerima manfaat dari SPAM Umbulan tidak hanya di Pasuran saja tetapi lintas kabupaten, sehingga diperlukan sinergi yang kuat untuk mengelola DAS Rejoso di tingkat Provinsi Jawa Timur.

“Pengelolaan DAS harus dilaksanakan secara tepat yaitu melalui perencanaan, kelembagaan, implementasi dan monitoring & evaluasi” tambah Ir. Alrasyid, M.Si.

Turut hadir dalam acara ini Ir. Sasmitohadi, M.Si ketua Forum DAS Brantas Sampean memaparkan perencanaan pengelolaan DAS harus dilakukan secara holistik, komprehensif dan terpadu sesuai peran masing-masing stakeholder.

Pengelolaan DAS juga perlu melibatkan masyarakat secara partisipatif (Pemberdayaan) yang nantinya akan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas, kepedulian dan peran serta masyarakat dalam pengelolaan DAS.

“Gerakan RejosoKita harus terus menerus mengajak sebanyak mungkin pihak untuk turut bergabung dalam pengelolaan dan pelestarian DAS Rejoso. Kemudian kelembagaan yang bentuk nantinya dinaungi oleh SK Gubernur.” tegas Eko Prasetyo perwakilan dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Fany Wedahuditama dari Global Water Partnership South East Asia. Menurutnya, untuk kelembagaan yang nanti akan dibentuk harus memiliki misi dan pengelola yang jelas juga membuat analisis multistakehoder.

Pada kegiatan diskusi, peserta diarahkan untuk memilih struktur kelembagaan yang tepat untuk pengelolaan DAS Rejoso. Semua peserta menyepakati untuk membentuk sebuah forum sebagai struktur kelembagaan yang di implementasikan di DAS Rejoso dengan nama lengkap yaitu Forum Peduli DAS Rejoso atau yang disingkat FPDR. Selain itu, dibentuk pula tim kecil untuk membahas lebih lanjut model dan bagan struktur sebagai pola koordinasi dari FPDR itu sendiri.

Anggota tim kecil berisikan 9 orang dari berbagai sektor baik dari sektor pemerintah, swasta dan masyarakat.

Kegiatan FGD ini akan terus berlanjut hingga terbentuknya sebuah payung hukum untuk menjadi patokan atau acuan kegiatan Forum Peduli DAS Rejoso kedepannya. Kegiatan FGD ke 3 akan lebih merumuskan rencana strategi dari Forum Peduli DAS Rejoso. (*/**)