Pasuruan Solidarity Team, Komunitas Berbagi Lintas Profesi

0
280
PEDULI: Pengurus PST saat menyerahkan donasi rutin kepada Mbah Sayik.
Tak perlu kaya jika hanya untuk berbagi. Beranggotakan lintas profesi, dari anggota dewan hingga abang becak, Pasuruan Solidarity Team (PST) memberi contoh bagaimana berbagi antarsesama.

Laporan: Maya Rahma

ADALAH Mochammad Niam, sosok dibalik terbentuknya Pasuruan Solidarity Team atau disingkat PST. Ditemui pertengahan April lalu, lelaki yang tinggal di komplek Perum Pesona Candi IV Blok AB 25, Kelurahan Sekargadung, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur ini tengah bersantai di sebuah warung kopi, tak jauh dari rumahnya.

“Ya begini ini. Santai, ngopi, ngumpul-ngumpul dengan tetangga,” katanya sembari mempersilakan WartaBromo duduk. Secangkir kopi hitam, tak terlalu manis menjadi suguhan malam itu.

Usai menyulut sebatang diantaranya, Niam yang bertubuh subur ini lantas menceritakan ihwal terbentuknya PST ini. Menurut Niam, semua bermula dari kegelisahannya akan kondisi lingkungan sekitar. Maklum, Kelurahan Bugul Kidul, tempat dimana ia sebelumnya tinggal adalah kawasan permukiman padat.

Beberapa warga bahkan didapatinya menghuni rumah yang sempit, dengan perabot rumah seadanya. Celakanya, mereka yang secara ekonomi kurang beruntung itu justru kurang mendapat perhatian. Bukan hanya dari pemerintah, tapi juga masyarakat sekitar.

Prihatin dengan kondisi itu, ia pun berinisiatif untuk menyisihkan sebagian rezekinya untuk diberikan kepada mereka yang disebutnya sebagai kaum miskin-papa itu. Ada janda miskin, dan juga anak-anak yatim.

Memang, bagi Niam, apa yang diberikannya itu tidak seberapa. Tetapi, paling tidak, usahanya itu cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan mereka. Sekadar untuk membayar listrik bulanan atau yang lainnya.

Pelan tapi pasti, kebiasaannya untuk berbagi rezeki kepada yang kurang mampu itu terdengar oleh beberapa temannya. Melalui obrolan yang ringkas, mereka pun sepakat untuk bergabung dan melakukan hal serupa. Bahkan, saban seminggu sekali, mereka menghimpun dana untuk kemudian didistribusikan kepada mereka yang tak mampu.

“Ya, awalnya hanya ada sekitar 13 orang,” kata Niam yang sehari-hari bekerja sebagai wiraswasta ini.

Hingga saat itu, yang dilakukannya hanya sekadar berhimpun, mengumpulkan duit, untuk kemudian dibagikan kepada orang tak mampu. Akan tetapi, belakangan, mereka lantas mendeklarasikan diri dalam sebuah paguyuban, yang belakangan diberi nama; Pasuruan Solidarity Team (PST).

Dideklarasikan Juni 2016 dengan anggota belasan orang, kini, PST sudah memiliki lebih dari 250 anggota. Mereka tersebar di sejumlah kelurahan di wilayah Kota Pasuruan. Seperti Kelurahan Bugul Kidul, Tapaan, Petamanan. Dalam seminggu, mereka berhasil mengumpulkan donasi sekitar Rp 1-1,5 juta. Tidak besar memang. Itu karena selain tidak mengikat, besaran donasi juga tidak terbatas alias sukarela.

Sebagai komunitas yang berorientasi sosial, latar belakang anggotanya pun cukup beragam. Ada tukang becak, pemungut sampah (pemulung), guru atau dosen, anggota dewan, dan lintas profesi lainnya.

“Ini seolah menegaskan, tidak perlu menunggu kaya untuk bisa membantu sesama. Komunitas kami yang kalau dipikir berapa sih pendapatan tukang becak, ternyata juga bisa bergabung,” jelas Niam.

Dikatakan Niam, kendati berasal dari lintas profesi berbeda, komunitas ini terbilang cukup kompak. Untuk rapat-rapat pertemuan yang dihelat seminggu sekali misalnya. Tidak ada undangan resmi. Undangan hanya dilakukan melalui pesan pendek atau chat di grup WhatsApp. Biarpun begitu, anggota selalu menyempatkan diri untuk berkumpul.

“Kami butuh berkumpul untuk menghitung jumlah donasi yang didapati setiap pekan,” jelas Niam.

Untuk jamuan atau suguhan ketika pertemuan berlangsung pun, kewajiban tuan rumah untuk menyediakan. Tidak diambilkan dari dana yang terkumpul. Begitu pula biaya bensin atau tenaga saat membagikan donasi kepada yang berhak. Alasannya, sejak awal dibentuk, perkumpulan ini bersifat sukarela.

Menurut Niam, donasi yang terkumpul itu selanjutnya didistribusikan sebulan sekali. Tidak banyak memang. Jika dirata-rata, masing-masing penerima ‘hanya’ mendapat Rp 20-100 ribu. Namun, tidak jarang pula ketika komunitas mendapati penerima ada yang dirasa sangat membutuhkan, mereka tak segan-segan untuk memberinya lebih.

Sebagai contoh adalah Artini Sayik (Mbah Sayik), 80 tahun, seorang janda renta yang tinggal seorang diri di Kelurahan Bugul Kidul, Rt 5 Rw 3. Beberapa waktu lalu, atap rumah perempuan yang sehari-hari berjualan nasi bungkus ini ambruk diterjang angin. Oleh komunitas ini, atap yang rusak itu pun diganti cuma-cuma. Bahkan, untuk bantuan modal, juga diberi.

“Untuk tambahan modal misalnya, kalau dibutuhkan, juga kami bantu meski tidak banyak,” jelas Sarwoko, 49, pengurus PST lainnya.

Mbah Sayik sendiri bukanlah satu-satunya warga yang rumahnya sempat diperbaiki oleh komunitas ini. Dalam setahun kemarin, tercatat ada dua rumah milik warga kurang mampu yang dibenahi oleh komunitas ini. Satunya lagi, milik Bidah, 30. Bahkan, atap rumahnya yang ambruk total juga diperbaiki seluruhnya.

Ahmad Rozi, pengurus PST lain kepada WartaBromo menuturkan, dalam sebulan, uang yang didistribusikan mencapai Rp 5 juta lebih. Dengan sasaran penerima terdiri dari janda, 86 orang. Sedangkan sisanya, anak-anak yatim sebanyak 26 orang.

Bagaimana dengan pertanggungjawaban dana yang terkumpul itu? Soal ini, pertanggungjawaban dibikin laiknya catatan keluar-masuk kas. Selain mencatatnya dalam pembukuan, saat memberikan donasi, panitia juga mendokumentasikannya guna di-share di grup WA.

Menurut Rozi, foto-foto dokumen hal itu juga sebagai bukti bahwa donasi yang diberikan sudah didistribusikan kepada yang berhak. Bukan saja kepada anggota komunitas. Dikatakan Rozi, dokumen-dokumen tersebut juga diteruskan kepada para donatur sebagai wujud transparansi atas penggunaan dana yang telah terkumpul.

Warta Bromo sempat mewawancarai Kusen, anggota PST yang berprofesi sebagai pemungut sampah.

“Senang aja bisa ikut berbagi,” katanya saat disinggung alasannya bergabung di komunitas ini. Tercatat sudah satu tahun ini ia rutin mendonasikan sebagian rezekinya seminggu sekali.

Sabilal Rosyad, anggota DPRD Kota Pasuruan yang juga tergabung di komunitas ini mengungkapkan alasannya aktif di komunitas ini. Semula, ia mengaku sempat sangsi. Maklum, sejumlah kasus penipuan dengan modus sumbangan dana acapkali meresahkan warga. Karena itu, ia lebih dulu mengamati sebelum memutuskan untuk menjadi donatur rutin.

“Setelah kami pantau, ternyata ya baik. Prinsipnya kan tidak memaksa, bahkan tidak memberipun tidak masalah. Dan yang terpenting, donasi itu langsung diantar langsung ke alamat penerimanya,” terang Bilal, sapaan akrabnya.

Untuk mengetahui seperapa jauh peranan komunitas ini, WartaBrmo sempat mengkroscek langsung beberapa penerima donasi komunitas ini. Selain Mbah Sayik, dua penerima yang sempat dikunjungi masih berstatus pelajar. Satu masih duduk di bangku SD, satunya lagi, SMP. Keduanya merupakan anak yatim.

“Total ada sekitar 26 anak yatim yang kami beri,” jelas Niam.

Niam menjelaskan, pemberian donasi bukanlah satu-satunya kegiatan komunitas yang dipimpinnya itu. Sebab, khusus kepada mereka yang berstatus pelajar, juga berkesempatan mengikuti bimbingan pelajaran secara gratis. Bahkan, setelah lulus nanti, mereka juga dibantu untuk mendapatkan pekerjaan. Penyediaan kendaraan bagi warga yang sakit, serta pengobatan gratis juga bagian dari layanan komunitas ini.

“Prinsipnya, kami memang ingin membantu meringankan beban. Sekecil apapun uluran tangan kita, sangat berarti buat mereka,” jelas Niam.

Setali tiga uang. Sulihati, 39, orang tua siswa mengaku cukup terbantu dengan keberadaan komunitas ini. Apalagi, saat ini, sekolah di lingkungan Kota Pasuruan tidak lagi gratis. Ada biaya SPP yang harus dikeluarkan setiap bulannya. Persoalan ini pula yang menjadi PR bagi komunitas untuk membantu meng-collect dana agar anak-anak yatim tersebut tidak sampai putus sekolah.

Bagi Niam, apa yang dilakukannya bersama rekan-rekannya relawan PST merupakan bagian dari upaya menyiasati kesenjangan sosial di kalangan masyarakat. Sebab, dengan kemampuan pemerintah yang terbatas, sedikit uluran tangan sesama, akan sangat berarti bagi mereka yang membutuhkan. (*)