Begini Tanggapan Tetangga Tentang Sosok Gembong Teroris, Dita Oepriarto

0
81

Surabaya (wartabromo.com) – Sosoknya jauh dari yang dibayangkan orang. Penampilannya kalem, ramah dengan tetangga, juga tidak tertutup dengan semua orang.

Begitulah gambaran sosok Dita Oepriarto (48), gembong teroris yang menjadi figur sentral dalam rangkaian peledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo, 13-14 Mei lalu. “Orangnya baik kok, ramah dengan tetangga,” kata Wery Trikusuma, tetangga sebelah Dita.

Berambut gondrong, selalu tampil klimis saat ke musala adalah hal yang paling diingat oleh Wery. Saat ke musala, Dita tidak pernah pakai kopiah atau sarung. Begitu juga dengan dua anak lelakinya.

Mengawali pagi dengan jamaah subuh di musala tak jauh dari rumah, Dita biasanya melewati hari dengan menunggu pembeli. Di rumahnya di komplek Wisma Asri Blok K 22 Wonorejo, Surabaya itu, Dita memang berjualan minyak herbal.

Karena itu, jika beberapa kali ada orang yang datang, bagi Wery, mereka adalah pembeli. “Kebanyakan belinya dalam jumlah banyak,” kata Wery.

Pagi sebelum kejadian, Wery sempat bertemu dan bertegur sapa dengan Dita. Ketika itu, ia hendak mengantar istrinya ke pasar. Tak disangka, pertemuan itu adalah kali terakhir.

Sebab, saat kembali dari pasar, Dita dan keluarganya sudah tidak ada. Mereka melakukan aksi bom bunuh diri di tiga gereja berbeda.

Dita mengebom Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno. Istrinya, Puji Kuswati, dengan melibatkan dua putrinya, kebagian GKI di Jalan Diponegoro sebagai sasarannya. Sedangkan dua putranya yang pertama, menyasar Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya. Total 18 nyawa melayang dalam insiden ini.

Anang, tetangga Dita yang lain tak pernah menyangka dengan aksi nekat Dita dan keluarganya. Selain cukup terbuka dengan tetangga, tak satupun dijumpai Dita sebagai penganut faham ekstremisme-radikalisme.

“Tapi, kita kan nggak ngerti apa yang ada di pikiran dan hati orang-orang. Cuma nggak nyangka aja,” ujar Anang. (asd/ono)