Merayakan Lebaran Bersama Komunitas Lintas Kepercayaan

0
1

 

LINTAS AGAMA: Takbir keliling saat Idul Fitri di Desa Balun, Lamongan yang diikuti komunitas lintas agama, Kamis (14/6/2018) malam. (Foto: M. Asad Asnawi)

Lebaran di Desa Balun, Turi, Lamongan bukan hanya ‘milik’ pemeluk Islam. Umat dari pemeluk agama lain pun ikut merayakan moment hari kemenangan itu. Seperti apa suasananya?

*)Laporan: M. Asad Asnawi

SUARA bedug terdengar bertalu-talu di sela takbir di masjid Miftahul Huda, Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Kamis (14/6/2018) sejak pukul 19.00 WIB Malam itu, selepas isya, jamaah masjid memang mengagendakan takbir keliling guna merayakan malam hari raya yang jatuh pada Jumat (15/6/2018).

Jadilah suasana di sekitar masjid ramai oleh warga. Suasana yang tak kalah ramai juga tersaji di lapangan depan masjid. Anak-anak terlihat begitu asyik bermain kembang api di kedua sisi lapangan. Begitu juga di tengah lapangan. Beberapa kelompok pemuda dari lintas agama sibuk mempersiapkan diri untuk berbagai atraksi dan pertunjukan yang biasa digelar selepas takbir keliling.

Deretan lampu obor yang membentuk gapura dan kuba masjid mulai dinyalakan. Sementara di sebelahnya, spanduk bertuliskan ‘Pelangi Berbeda Warna Tapi Tetap Indah’, lengkap dengan tatanan kembang api di depannya, selesai dipasang. Itu merupakan hasil kreasi dari kelompok pemuda Hindu desa setempat.

Begitu juga dengan spanduk berisi ucapan selamat hari raya Idul Fitri dalam bahasa Jawa di sisi timur lapangan. Spanduk milik kelompok pemuda dari jamaah Gereja Jawi Wetan (GKJW) di Balun, juga sudah terpajang memanjang. Semuanya berjajar rapi di pinggir lapangan. Termasuk juga milik Karang Taruna, komunitas Persela, dan juga kelompok kepemudaan lainnya.

Bagi masyarakat Desa Balun, hari raya memang tak ubahnya moment untuk meningkatkan kebersamaan antar elemen masyarakat setempat. Maklum, desa berjuluk Desa Pancasila ini memiliki lebih dari satu agama yang dianut penduduknya. Ada Islam, Kristen, hingga Hindu. Ketiganya pun hidup damai berdampingan, tanpa ada gesekan.

Saat Idul Fitri tiba, seperti biasa, masyarakat dari kelompok manapun, ikut bahu-membahu berbagi peran. Jika kelompok Islam sibuk dengan takbir kelilingnya, masyarakat dari kelompok agama lain menyiapkan rangkaian acara pendukung setelah takbir keliling itu digelar. Seperti pesta kembang api, hingga kegiatan pendukung lainnya. Selain itu, sebagian lainnya juga ikut berkeliling.

Kepala Desa Balun, H. Khusaeri, mengatakan, kebersamaan yang ditunjukkan warganya merupakan bentuk toleransi paling nyata. Tak peduli dari latar belakang agama manapun, saat ada perayaan agama tertentu, kelompok masyarakat dari agama lainnya ikut membantu.

“Memang biasa begitu. Semua elemen dan unsur yang ada di masyarakat ikut terlibat,” kata Khusaeri.

Ia menambahkan, praktik tersebut sudah berlangsung sejak dulu. Bahkan, sebelum ia menjabat sebagai kepala desa, lima tahun silam.

“Dari dulu ya begini, guyub. Tidak pernah ada masalah,” imbuhnya di sela kegiatan tersebut.
Desa Balun sendiri adalah satu dari 19 desa yang ada di Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Dengan jarak sekitar 4 kilometer dari pusat kota Lamongan, desa ini bisa ditempuh dalam waktu 10-15 menit. Terdiri dari tiga dusun, Balun dihuni sekitar 4.644 jiwa.

Menurut Khusaeri, dari ribuan penduduknya itu, 75 persen diantaranya adalah pemeluk Islam. Sisanya, terbagi dalam dua kelompok. Kristen (sekitar 18 persen) dan Hindu (sekitar 7 persen). Yang menarik, meski Kristen dan Hindu baru masuk ke Balun pada dekade 60-an, belum pernah terjadi gesekan antar pemeluk agama di tempatnya. Tempat tinggal para pemeluk agama ini pun tersebar merata.

Khusaeri mengakui, tidak mudah menjaga kebersamaan di tengah kemajemukan masyarakat yang dipimpinnya. Tetapi, sikap adil dan tanpa diskriminasi yang diterapkannya membuktikan, bahwa hal tersebut bukan tidak mungkin. Nah, hal itu pula yang selama ini coba ia terapkan. Sebagai contoh ketika ia mengalokasikan sebagian tanah desa untuk makam Islam, kebijakan yang sama ia terapkan pada kelompok agama lain.

Bukan itu saja. Potret keberagamaan juga tercermin dalam struktur pemerintahan desanya yang dihuni dari berbagai kelompok agama di desanya. Misalnya saja, posisi Kepala Urusan Pemerintahan yang dihuni oleh Heri Sulistiono, seorang pemeluk Kristen yang taat. “Dan hal itu tidak pernah jadi masalah di masyarakat,” terang Khusaeri.

Sudarno, salah satu penganut Kristen yang ditemui WartaBromo mengatakan, menjaga kebersamaan memang sudah menjadi semangat hidup warga Balun. Tak hanya kegiatan keagamaan, praktik tersebut juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Tempat ibadah ketiga agama juga berdekatan. Tepat di depan masjid, adalah GKJW. Sedangkan pura, di belakang masjid.

Sebagai masyarakat desa yang rata-rata berpenghasilan dari tani, antar pemeluk agama sudah terbiasa untuk bekerja sama. Misalnya, ketika seorang petani yang kebetulan berbeda agama sedang membutuhkan bantuan untuk menggarap sawah, masyarakat dari agama lain tak segan untuk membantunya.

“Yaapa ya istilahnya. Ya, masyarakat sini sudah menganggap itu (perbedaan agama, Red) sudah urusannya sendiri-sendiri. Soal hubungan sosial atau pekerjaan, ya tetap jalan seperti biasa,” jelasnya.

Karena itu, tidak sedikit pula dijumpai dalam satu rumah, anggota keluarganya berlatar belakang dari agama berbeda.

Contoh lainnya adalah ketika ada warga yang sedang menggelar hajatan nikah atau khitanan. Warga yang lain biasanya berdatangan ke pemilik hajat dengan mengenakan kerudung untuk yang perempuan, dan songkok untuk yang laki-laki. Padahal, tidak semua yang datang adalah pemeluk Islam.

Malam itu, Sudarno tidak sendirian. Bersama rekan-rekannya sesama jamaah GKJW Balun, pria 45 tahun ini membantu pengamanan kegiatan takbir keliling. Ia pun berharap, kebersamaan yang berlangsung di desanya bisa terus terjaga hingga ke anak cucu. Hidup tentram dalam damai, tanpa gesekan hanya karena beda keyakinan.

Balun adalah potret kecil negeri ini. Keberhasilannya merawat perbedaan yang ada di dalamnya menjadikan desa yang berada di sisi barat Kota Lamongan ini mendapat julukan sebagai Desa Pancasila, sebuah julukan yang akhirnya seolah menjadi dogma bagi warga setempat.

Miftahul Akhyar, salah satu remaja masjid yang ditemui di lokasi bahkan cukup bangga dengan sebutan itu. Gara-gara julukan itu, desanya acapkali menjadi jujukan berbagai media untuk melakukan peliputan. “Sudah sering masuk TV,” selorohnya sembari tersenyum.

Dikatakannya, sebagai seorang muslim, sudah selayaknya hidup berdampingan dengan penganut agama lain. Baginya, tidak ada satupun alasan pembenar seorang muslim untuk mencederai pemeluk agama lain. Karena itu, ia pun mengecam aksi pelaku teror yang mengatasnamakan agama. Seperti yang terjadi di sejumlah tempat belakangan ini.

Baginya, apa yang dilakukan para pelaku, jauh dari ajaran-ajaran Islam. “Islam kan mengajarkan kedamaian, kebersamaan, biar pun dengan pemeluk agama lain. Bukan malah menebar teror,” ujarnya. Karena itu, apa yang dilakukan warga Balun, bisa menjadi inspirasi bagi masyarakat yang lain di negeri ini. (*)