Merayakan Lebaran Bersama Komunitas Lintas Kepercayaan

0
274
Lebaran di Desa Balun, Turi, Lamongan bukan hanya milik pemeluk Islam. Umat dari pemeluk agama lain pun ikut merayakan moment hari kemenangan itu. Seperti apa suasananya?

Laporan: M. Asad Asnawi

SUARA bedug terdengar bertalu-talu di sela takbir di masjid Miftahul Huda, Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Kamis (14/6/2018) sejak pukul 19.00 WIB. Malam itu, selepas isya, jamaah masjid memang mengagendakan takbir keliling guna merayakan malam hari raya Idul Fitri yang jatuh pada Jumat (15/6/2018). Jadilah suasana di sekitar masjid yang biasanya lengang, ramai oleh warga sekitar.

Suasana yang tak kalah ramai juga tersaji di lapangan desa, tepat di depan masjid. Anak-anak terlihat begitu asyik bermain kembang api di kedua sisi lapangan. Begitu juga di tengah lapangan. Beberapa kelompok pemuda dari lintas agama sibuk mempersiapkan diri untuk berbagai atraksi dan pertunjukan yang memang biasa digelar selepas takbir keliling.

Deretan lampu obor yang membentuk gapura dan kuba masjid mulai dinyalakan. Sementara di sebelahnya, spanduk bertuliskan Pelangi Berbeda Warna Tapi Tetap Indah, lengkap dengan tatanan kembang api di depannya, juga sudah selesai dipasang. Yang menarik, spanduk tersebut merupakan hasil kreasi dari kelompok pemuda Hindu desa setempat.

Begitu juga dengan spanduk berisi ucapan selamat hari raya Idul Fitri dalam bahasa Jawa di sisi timur lapangan. Spanduk milik kelompok pemuda dari jamaah Gereja Jawi Wetan (GKJW) di Balun itu, juga sudah terpajang memanjang. Semuanya berjajar rapi di pinggir lapangan. Bukan saja dari kelompok agama. Beragam ucapan yang dibuat kelompok pemuda, seperti Karang Taruna, komunitas Persela, dan juga kelompok kepemudaan lainnya juga berjajar memenuhi area lapangan. Malam itu, suasana di lapangan desa yang memiliki penduduk sekitar tiga ribu jiwa lebih ini benar-benar begitu meriah.

Ya, bagi masyarakat Desa Balun, hari raya memang tak ubahnya moment untuk meningkatkan kebersamaan antar elemen masyarakat setempat. Maklum, desa berjuluk Desa Pancasila ini memiliki lebih dari satu agama yang dianut penduduknya.

Ada Islam, Kristen, hingga Hindu. Dan, ketiganya agama ini pun hidup damai berdampingan, tanpa ada gesekan.
Tidak mengherankan, jika tatkala Idul Fitri tiba, seperti biasa, masyarakat dari kelompok manapun, ikut bahu-membahu berbagi peran. Seperti yang terlihat malam itu. Jika kelompok Islam sibuk dengan takbir kelilingnya, masyarakat dari kelompok agama lain menyiapkan rangkaian acara pendukung yang biasa digelar setelah takbir keliling itu berlangsung. Seperti pesta kembang api, hingga kegiatan pendukung lainnya. Meskupun, sebagian dari mereka juga ikut berkeliling.

Kepala Desa Balun, H. Khusaeri, mengatakan, kebersamaan yang ditunjukkan warganya merupakan bentuk teleransi paling nyata dalam kehidupan beragama di desaya. Tak peduli dari latar belakang agama manapun, saat ada perayaan agama tertentu, kelompok masyarakat dari agama lainnya ikut membantu. Bahu membahu.

“Memang biasa begitu. Semua elemen dan unsur yang ada di masyarakat ikut terlibat,” kata Khusaeri, yang ditemui seusai melepas rombongan takbir keliling. Ia menambahkan, praktik tersebut sudah berlangsung sejak dulu. Bahkan, sebelum ia menjabat sebagai kepala desa, lima tahun silam. “Dari dulu ya begini, guyub. Tidak pernah ada masalah. Sebelum saya jadi kepala desa sudah seperti ini,” imbuhnya di sela kegiatan tersebut.
Desa Balun sendiri adalah satu dari 19 desa yang ada di Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Dengan jarak sekitar 4 kilometer dari pusat kota Lamongan, desa ini bisa ditempuh dalam waktu 10-15 menit dengan mengendarai sepeda motor. Terdiri dari tiga dusun, Desa Balun dihuni sekitar 4.644 jiwa dengan mayoritas pekerjaan sebagai petani.

Menurut Khusaeri, dari ribuan penduduknya itu, 75 persen diantaranya adalah pemeluk Islam. Sisanya, terbagi dalam dua kelompok. Kristen (sekitar 18 persen) dan Hindu (sekitar 7 persen). Yang menarik, meski Kristen dan Hindu baru masuk ke Balun pada dekade 60-an, belum pernah terjadi gesekan antar pemeluk agama di tempatnya. Untuk urusan tempat tinggal para pemeluk agama di desa ini, juga tersebar merata. Tidak terkonsentrasi di satu titik.