Badai Pasir Landa Bromo

0
6

Probolinggo (wartabromo.com) – Memasuki musim kemarau, lautan pasir atau kaldera Gunung Bromo diterpa badai dalam beberapa hari terakhir ini. Wisatawan tetap bisa berkunjung ke lokasi, namun harus menggunakan masker atau penutup wajah.

Cuaca panas disertai hembusan angin kencang terjadi di kawasan wisata Gunung Bromo di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Kondisi ini tentu membuat pasir yang ada di Kaldera Bromo mengering. Sehingga saat ada angin kencang, pasir beserta debu mudah terangkat oleh hembusan angin kencang. Akibatnya badai menerbangkan pasir bercampur silika abu vulkanik Bromo.

“Tadi waktu di lautan pasir, ada badai pasir yang cukup kencang dengan membawa debu. Untung tadi pake helm teropong sehingga tidak terkena wajah. Tapi kalau baju, kotor semua. Ya secepatnya naik ke sini (cemoro lawang, red) supaya tidak terkena lagi,” tutur Anton Hartono, wisatawan asal Probolinggo, Senin (18/6/2018).

Menurut Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Probolinggo, M Sidik Widjanarko, badai pasir terjadi karena sudah memasuki musim kemarau. Debu vulkanik di sekitar gunung mudah berterbangan akibat terpaan angin kencang. Material vulkanik Gunung Bromo yang mengandung silika, bisa mengganggu pernafasan.

“Kunjungan ke Bromo tetap dibuka meski ada badai pasir. Untuk itu wistawawan lebih berhati-hati. Selain itu harus memakai makser atau penutup hidung lainnya saat berkunjung. Gunakan air untuk membasuh jika terkena paparan badai pasir,” ujar Sidik.

Bagi wisatawan yang enggan turun ke lautan pasir dan padang savana, menurut Sidik masih bisa menikmati keindahan Bromo. Salah satunya dengan berkunjung ke Bukit Mentigen, Cemoro Lawang dan Serui Poin. Di tempat ini, wisatawan bisa menikmati keindahan Bromo dari kejauhan dan juga pemandangan alam pegunungan Tengger.

“Ada alternatif lain jika mereka tidak ingin terpapar badai pasir. Dari tiga obyek itu, wisatawan juga dimanjakan dengan view yang sangat bagus. Bisa swafoto dengan latar belakang Gunung Bromo atau perumahan penduduk,” tandas mantan Kadisperindag ini. (cho/saw)