“Kredit Murah” Biang Macet

0
3

 

 

MEMILIKI kendaraan pribadi memang menjadi pilihan utama bagi mayoritas masyarakat di Indonesia. Karena dinilai lebih menghemat waktu. Masyarakat tidak perlu menyesuaikan waktu dengan kendaraan umum yang hanya melintas pada jam-jam tertentu dan tempat-tempat tertentu, meski saat ini sudah ada kendaraan berbasis online yang ikut mendominasi jalanan. Namun tetap saja, dengan adanya kepemilikan kendaraan, masyarakat dapat mengakses segala kebutuhan tanpa terpaut waktu.

Hal inilah yang dapat memunculkan strategi marketing “berkedok” memudahkan warga memiliki kendaraan impian. Kredit Murah. Kredit murah telah mencuri perhatian warga, mulai dari ekonomi menengah hingga menengah kebawah. Tidak hanya masyarakat menengah atas yang dapat memiliki sepeda motor lebih dari satu, namun masyarakat dengan keadaan ekonomi menengah kebawah pun dapat memiliki sepeda motor lebih dari satu. Jumlah tersebut tergantung anggota keluarga yang membutuhkan kendaraan untuk memenuhi kebutuhannya.

Sama halnya dengan sepeda motor, kredit murah dengan persyaratan tertentu pun berlaku juga pada mobil. Saat ini orang biasapun sudah mempunyai mobil, bahkan dijadikan “taksi online” yang saat ini bisa dibilang sedang “naik daun”.

Dibalik maraknya kredit kendaraan bermotor murah yang memiliki berbagai kemudahan bagi masyarakat, tersimpan dampak  negatif. Seperti halnya kemacetan. Nafsu memiliki kendaraan pribadi ini secara tidak langsung “menyumbangkan” padatnya kendaraan di jalan. Jangan hanya menyalahkan pemerintah, namun ternyata salah warganya juga.

Coba bayangkan, apabila dalam satu rumah, semua anggota keluarga dengan kepentingan masing-masing membutuhkan kendaraan sendiri-sendiri. Ayah bekerja menggunakan 1 unit mobil, seorang Ibu rumah tangga dengan kesibukannya sendiri pergi ke pasar atau kegiatan ibu-ibu jaman sekarang yang membutuhkan 1 unit sepeda motor, dan seorang anak yang masih sekolah menengah keatas memerlukan 1 unit sepeda motor. Berapa kendaraan yang digunakan dalam satu keluarga? Lalu jika setiap keluarga melakukan hal serupa? Berapa banyak kendaraan dalam satu kampung?

Menurut Priyambodo seorang Peneliti Balitbang Provisi Jawa Timur, jumlah kendaraan bermotor di Provinsi Jawa Timur setiap tahunnya terus meningkat, rata-rata 6-7%. Selama Januari sampai September 2017 jumlah kenaikannya mencapai 7,12 persen. (Badan Pendapatan Daerah Jawa Timur, 2017). Hasil penelitian terbaru dari Balitbang Provinsi Jawa Timur tahun 2017 tentang kepadatan lalu lintas di Jawa Timur menunjukkan bahwa jumlah kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat dari tahun 2015-2017 diseluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur selalu meningkat dan tidak pernah ada penurunan sama sekali. Kecenderungan jumlah kendaraan yang selalu meningkat setiap tahun tersebut tidak sebanding dengan peningkatan pembangunan panjang jalan yang disebabkan karena keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh Pemerintah.

Tidak hanya menyebabkan ruas jalan padat, namun banyaknya kendaraan pribadi juga berakibat kerusakan jalan karena tonase jalan berlebih setiap harinya. Pun juga kebutuhan akan bahan bakar yang selalu meningkat diakibatkan oleh pertumbuhan kendaraan bermotor.

Sebagai konsumen yang turut berkontribusi terhadap kenampakan sosial seperti ini. Kesadaran social perlu ditanamkan sejak dini. Karena kemacetan sekarang tidak hanya terjadi di kota Besar, namun sudah merambah di kota kecil. (*)

Oleh : Meirina Wijayanti

*Mahasiswa Prodi (S1) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.