Saat Setiyono “Keluar” Kota

0
1624
Setiyono. Sumber : Instagram @setiyono_untukkotapasuruan
Warga kelihatannya sudah “senang”, pembangunan dimana-mana. Alun-alun Kota diperbaiki. Banyak event bergulir selama 2 tahun kepemimpinan Setiyono.

Oleh : Maya Rahma

KOTA Pasuruan hampir tak pernah ada gonjang-ganjing. Adem ayem. Kelihatannya, semua tenang. Dari jajaran Pemerintah Kota, warga, sampai netijen.

Sampai adanya berita Ruangan Plh Kadis PUPR Kota Pasuruan Disegel KPK. Pemkot mulai riyuh. Pemburu berita juga gaduh. Warga masih adem ayem. Netijen mulai bertanya-tanya. Ada apa di Kota Pasuruan?

Walikota dicari-cari, bahkan Setiyono dikabarkan hilang. Wakil Walikota bilang, Bapak tak bisa dihubungi. Lost contact.

Media sudah mulai mengantongi berbagai isu. Ternyata ada 5 ruangan yang disegel KPK, termasuk ruangan Walikota Pasuruan.

Lalu, redaksi WartaBromo berusaha menghubungi Kabidhumas Polda Jatim dan bertanya dimana posisi Pak Setiyono. Ia bilang, Bapak memang lagi diperiksa. Media mulai menyimpulkan, Setiyono sekarang lagi di Polda Jatim untuk diperiksa KPK. Tapi ternyata keliru.

Kita balik ke Pak Teno. Katanya, Bapak lagi ada di luar kota. Lah, kemana?

Bingung. Akhirnya ada kabar, Bapak diperiksa di Mapolres Pasuruan. Sampai petang, kira-kira jam 19.10 lah keluar. Out dari Mapolres, terbang ke Jakarta. Ke kantor KPK, bersama ketiga kawannya. Dag dig dug.

Pemberitaan terus berlanjut. Warga mulai tak terkendali. Pak Yon ikut rombongan ke Jakarta naik Bus tahanan milik kepolisian. Masih tak menyangka, Walikota yang disanjungnya, turut diperiksa KPK.

Netijen sudah mulai mengetik, menanyakan kebenaran “musibah” ini. Serangan KPK cukup mengagetkan mereka.

Sudah dibilang, Kota Pasuruan itu adem ayem. Warga kelihatannya sudah “senang”, pembangunan dimana-mana. Alun-alun Kota diperbaiki. Banyak event bergulir selama 2 tahun kepemimpinan Setiyono.

Tidak ada yang menyangka, media lokal pun kaget mendapat topik pemberitaan sebesar ini. Netijen masih tidak percaya. Mereka menyangka pemberitaan sebanyak itu, HOAX. Netijen mengira, kejadian ini menimpa Kabupaten Pasuruan. Yang sedikit saja pergerakannya, sudah bikin heboh.

Bupati dilantik, netijen gaduh. Bupati komentar, netijen bersuara. Sampai-sampai, ada berita Bupati syok karena dikiranya Kabupaten Pasuruan yang kena OTT KPK, kegaduhannya mengalahkan pemberitaan OTT KPK di Kota Pasuruan. Seramai itu ternyata Kabupaten Pasuruan.

Proses hukum terus bergulir. Setiyono, yang pernah menjabat sebagai Sekda, Wakil Walikota, sampai sekarang menjadi Walikota Pasuruan, ditetapkan sebagai tersangka. Kasusnya, suap proyek PLUT pada Dinas Koperasi dan UMKM Kota Pasuruan.

Beliau tidak sendiri, ada 3 temannya yang turut ditetapkan sebagai tersangka. Ada Pak Dwi, Plh Kadis PUPR! Wahyu “encuz” sang tenaga kontrak kelurahan; dan pihak pelaksana M. Baqir. Ya, rombongan tadi itu.

Kata KPK, Setiyono terbukti mendapatkan fee proyek, besarnya Rp 120 juta. “Kanjengnya” masih menerima beberapa “apel”. Keburu kena KPK.

Oh iya, Genk Setiyono pakai sandi “apel” sebagai fee, “campuran semen” sebagai proyek infrastruktur, dan “kanjengnya” itu Setiyono. Kalau lagi sama mereka, ada kata-kata seperti itu, berarti sedang ada pembicaraan rahasia.

KPK juga menemukan ada “Trio Kwek-kwek”. Bukan penyanyi cilik. Tapi mereka itu tangan kotor Bapak. Jadi gini, hampir semua proyek di Kota Pasuruan, yang kita lihat dan rasakan pembangunannya itu, dimainkan oleh “Trio Kwek-kwek” ini. Masih belum pasti, masih diduga. KPK yang menduga.

Ya begitulah. Diam itu bukan berarti emas. Ademnya Kota Pasuruan ternyata menyimpan sesuatu yang mengejutkan. Netijen masih dibuat syok, tapi mereka sudah mulai menghujat. Meski beberapa diantaranya ada yang “membela” tersangka. Ya, sepertinya belum sepenuhnya menyangka. Sosok sebijaksana ini terkena OTT KPK.

Tunggu saja. Semua sekarang masih diselidiki. Tidak menutup kemungkinan, bakal ada yang terungkap lagi. Tapi bisa saja, beberapa “oknum” sekarang lagi bersih-bersih. Supaya hmm.. tidak anu.. ikut terseret.

Nge-jus dulu. Biar adem. (*)

_______

Artikel berupa opini pribadi, disusun oleh jurnalis WartaBromo.