Kenapa Harus Villa di Songgoriti?

0
1705
Puluhan siswa SMK saat berunjuk rasa di halaman sekolahnya, Kamis (11/10/2018)
Waduh!! Saya langsung suudzon. Mereka yang masih belasan tahun tahu darimana harga villa? Di Songgoriti lagi. Kok nggak di wilayah Pasuruan. Tretes misalnya. Dan banyak lagi prasangka buruk lain.

Oleh : Maya Rahma

UNJUK rasa sudah menjadi hal yang lumrah di Indonesia. Baik dari warga biasa, maupun kalangan mahasiswa. Biasanya, demo ini terjadi setelah proses audiensi tidak sesuai harapan, atau bahkan ditolak. Jadilah mereka mengeluarkan uneg-unegnya dengan membawa spanduk, orasi, meneriakkan yel-yel dengan Toa, di tempat sasaran aksi.

Kayak adik-adik di SMKN 1 Rembang. Mereka rupanya mulai menyerap pendidikan anti korupsi yang sudah digencarkan di sekolah-sekolah. Kepala Sekolahnya kali ini sebagai sasarannya. Mereka menyebutnya “tikus berdasi”.

“Itu (Kepala Sekolah, red) tikus berdasi,” kaya Ikhwanudin, siswa.

Mereka bercerita, penyebutan itu bukan tanpa alasan, namun karena beberapa hal. Pertama, mereka keberatan biaya SPP yang dikeluarkan tiap bulannya lebih mahal ketimbang sekolah lain. Katanya, tidak sesuai aturan, yang menyebutkan biaya SPP itu sebenarnya hanya Rp 135 ribu/bulan. Sementara mereka harus membayar Rp 200 ribu per bulan.

Kata Ikhwan, biaya sekolah yang lebih banyak ini untuk beberapa hal, salah satunya membayar guru GTT. Namun, Rp 200 ribu yang dibayarkan katanya sia-sia, karena sampai sekarang fasilitas sekolah tetap itu-itu saja. Ya, tidak ada perubahan.

Kedua, masih tentang uang, biaya daftar ulang saat memasuki tahun ajaran baru terbilang fantastis. Mencapai Rp 1,8 juta. Lagi-lagi katanya tidak sama dengan sekolah lain yang mereka riset sebelumnya.

“Ruangan kelas banyak yang rusak, tapi tidak diperbaiki,” ujarnya lagi.

Sebenarnya, biaya SPP yang katanya fantastis itu sudah setahun diterapkan. Namun, mereka baru bisa mengutarakan uneg-unegnya hari ini.

Tapi rupanya, banyak yang gagal paham dengan unjuk rasa siswa ini. Gimana mau fokus ke satu titik kayak lagunya Via Vallen, lha siswa ini membawa spanduk dari kertas manila putih yang tulisannya cukup unik.

“Harga SPP Lebih Mahal dari pada Harga Villa di Songgoriti,” tulisnya.

Waduh!! Saya langsung suudzon. Mereka yang masih belasan tahun tahu darimana harga villa? Di Songgoriti lagi. Kok nggak di wilayah Pasuruan. Tretes misalnya. Dan banyak lagi prasangka buruk lain.

Ya sebenarnya bisa saja sih mereka pernah wisata bareng keluarga kesana. Tapi stigmanya sudah terlanjur negative kalau anak SMK tahu harga villa, meski sekarang teknologi sudah canggih.

Untuk pembuktiannya, saya akhirnya browsing dengan kata kunci “Harga villa di Songgoriti”. Muncul banyak artikel dan iklan. Mau tahu berapa harganya? Mereka benar, harganya ada yang mulai Rp 75 – 200 ribu per hari. Persis dibawah tarif SPP mereka tiap bulannya. Pinter nih anak-anak, bathinku.

Setelah itu saya coba menanyakan sama si siswa yang ikut demo. Rupanya Ia tidak ikut menyiapkan properti aksi. Saya tanya, Ide nulis harga villa lebih mahal itu darimana?

“Dari teman-teman itu. Ya kepikirannya itu mbak, ya ditulis,” katanya.

Saya menanggapi dengan tertawa kecil. Dari jawabannya sih, sepertinya agak polos-polos gimana gitu.

Prasangka buruk saya yang lain, ada udang dibalik perkedel. Jadi mereka ‘sepertinya’ sih ada yang menggerakkan. Ya rangkaian acara demo ini lah, termasuk tulisan viral itu. Entah siapapun oknum itu. Ntah firasat ini benar atau tidak. Karena saya tetap tidak sampai hati tulisan itu tercetus dengan sendirinya dari para siswa. Mungkin, ada yang memberi ide, terus si siswa ini yang menuliskan. Gitu.

Awalnya prasangka saya begitu. Tapi setelah saya tanya-tanya siswa SMA/SMK lain, yang seumuran mereka, katanya hal itu rumlah.

“Udah biasa kalau tahu harga villa. Kan emang sering ada wisata bareng temen yang nginepnya di Villa,” ujar salah seorang siswa SMK.

Oalah. Apa saya terlalu membandingkan masa sekarang sama dulu ya? Dulu saya dan orang yang se-leting sama saya ya gak paham harga villa, hotel. Atau bahkan tidak ada kepikiran mau membanding-bandingkan biaya sekolah dengan tarif sewa kamar. Soalnya kalau wisata, yang mengurus semua ya para Guru. Bukan siswa.

Balik lagi lah. Sudah tahu kalau warga net suka gagal fokus, ada saja yang menyulut seperti ini. Terlepas dari itu semua, semoga permasalahan adik-adik ini cepat berlalu lah. Biar sekolahnya tak terganggu. Belum waktunya bermain demo-demoan ini. Pengalaman mereka lah sebelum memasuki jenjang kuliah, yang lebih banyak lagi aktivitas unjuk rasanya.

Pengalaman juga, ada yang bisa menjadi perbandingan lain selain harga Villa. Atau cukup, tidak usah membanding-bandingkan. Tinggal ngomong SPP mahal, gitu saja udah pada paham.

Rehat dulu deh. Ada rekomendasi Villa di Songgoriti buat libur weekend? (*)

_______

Artikel berupa opini pribadi, disusun oleh jurnalis WartaBromo.