Meneguk Segarnya Jamu Kebonagung Khas Kota Pasuruan

0
799
“Saya tidak berharap banyak dari pemerintah karena memang kurang bisa diandalkan. Beberapa kali ikut pameran yang diselenggarakan pemerintah hasilnya begitu-begitu saja dan tidak membantu apapun,”

Laporan: Ardiana Putri

MENGUNJUNGI Kota Pasuruan tak lengkap rasanya jika tak mencicipi seteguk minuman khasnya, jamu Kebonagung. Ya, jamu Kebonagung memang dikenal sebagai minuman khas dari kota Untung Suropati. Minuman terbuat dari rempah-rempah seperti kapulaga, lada, cabe jamu, pala, cengkeh, jahe, dan gula tebu ini sangat baik untuk kesehatan.

Minuman segar dan berkhasiat ini diturunkan secara turun temurun dari para leluhur. Letak geografis Pasuruan yang strategis, menjadikan daerah ini dulunya dikenal sebagai pelabuhan transit dan pasar perdagangan antar pulau bahkan antar negara. Banyak bangsawan dan saudagar kaya menetap di Pasuruan, untuk melakukan perdagangan. Salah satunya adalah perdagangan rempah. Nah, rempah-rempah itulah yang dimanfaatkan untuk membuat minuman.

Zulaikhah, pengusaha jamu Kebonagung.

Awal, warga Pasuruan menyebut jamu belik atau sumber mata air. Sebab jamu khas Kota Pasuruan ini menggunakan air yang keluar dari belik. Sekarang lebih dikenal sebagai jamu Kebonagung.

“Lantaran minuman ini awalnya hanya dijual di Pasar Kebonagung, Kota Pasuruan, maka dikenal dengan nama Jamu Bonagung,” terang Zulaikhah seorang pengusaha Jamu Kebonagung.

Merintis Usaha Jamu Kebonagung,
Zulaikhah bertekad untuk terus melestarikan warisan budaya nenek moyangnya. Dengan begitu, masyarakat tak akan lupa dengan kekayaan khas kotanya. Sejak tahun 1999 wanita dua anak ini berinovasi untuk membuat Jamu Kebonagung menjadi lebih awet dan dapat dibawa hingga keluar daerah. Minuman ini sebenarnya dikenal tak dapat bertahan lama.

“Dengan tetap menggunakan resep turun-temurun, saya olah menjadi sirup biar lebih awet,” tutur Zulaikhah. Sejak itulah minuman ini dapat lebih dikenal oleh masyarakat luas dan akhirnya ditetapkan sebagai oleh-oleh khas Kota Pasuruan.

Usaha yang dirintis Zulaikhah hingga kini masih memerlukan berbagai inovasi. Seperti mempercantik kemasan dan terus meningkatkan kualitas produk, tetap ia lakukan. Sembari terus berinovasi, tak lupa juga ia berjuang diri, mengurus legalitas usahanya agar lebih diakui.
Sayangnya usaha memajukan potensi lokal ini, kurang mendapat perhatian dari pemeritah daerah.

“Saya tidak berharap banyak dari pemerintah karena memang kurang bisa diandalkan. Beberapa kali ikut pameran yang diselenggarakan pemerintah hasilnya begitu-begitu saja dan tidak membantu apapun,” keluh ketua paguyuban jamu gendong se-Pasuruan ini.

Ia lebih memilih untuk tetap fokus mengembangkan usahanya dengan jalannya sendiri.
Setiap bulan Zulaikhah dapat memproduksi Jamu Bonagung minimal 200 botol. Kecuali saat menjelang lebaran omzetnya dapat meningkat tajam. Ia menjual sendiri ke pelanggan dengan harga Rp 25.000.

Ia berharap jika nantinya dapat memiliki sebuah toko oleh-oleh untuk mempermudah pemasaran Jamu Kebonagung. Dari situlah Zulaikhah memiliki tekad yang bulat untuk membawa nama Jamu Kebonagung agar bisa dikenal ke seluruh Nusantara sehingga dapat mengharumkan Kota Pasuruan. (*)