Cetak Hafidz, Rutan Kraksaan Gandeng Pesantren

0
688

Probolinggo (wartabromo.com) – Menjadi narapidana bukan berarti harus mengubur mimpi menjadi penghafal Al-Quran (Hafidz). Di rumah Tahanan (Rutan) kelas 2B Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, mimpi itu akan menjadi kenyataan. Rutan ini mengandeng Pondok Pesantren (ponpes) Nurul Quran Kelurahan Patokan untuk mencetak para Hafidz.

Kepala Rutan kelas 2B Kraksaan, Mohamad Kafi, menuturkan sebagai warga binaan, keinginan untuk menjadi manusia yang lebih baik pasti ada. Sebagian dari mereka bahkan memiliki niat yang lebih tebal untuk hidup lebih baik saat berada di balik jeruji penjara. Sehingga kemudian pihaknya mendirikan pondok Nurut Taubah, sebagai sarana untuk menjembatani keinginan warga binaan itu.

“Konsepnya sama persis dengan di Ponpes Nurul Quran, karena tenaga pengajar dan kurikulumnya dari mereka. Sistem pengajaran dan evaluasinya, mengikuti yang dipakai oleh pondok tersebut. Kami memfasilitasi tempat untuk proses belajar mengajar tersebut,” ujar Kafi seusai peresmian ponpes Nurut Taubah, Selasa (23/10/2018).

Saat ini, setidaknya ada 30 narapidana yang terpilih menjadi santri calon hafidz. Mereka adalah bagian dari 300 penghuni Rutan Kelas 2B Kraksaan. Tak mudah menjadi bagian dari kelompok kecil ini. Sebab untuk menjadi calon hafidz, mereka terlebih dahulu di tes oleh para ustadz Ponpes Nurul Quran, yang selama ini dikenal sebagai pesantren penghasil hafidz. Selain itu, mereka yang ikut program ini adalah narapidana dengan hukuman diatas 2 tahun penjara.

Targetnya dalam 6 bulan, setiap santri-narapidana ini mampu menghafal 5 juz Alquran. Dalam 1 semester, mereka akan diuji hafalannya oleh para asatidz.

“Itu target minimal, tentunya bisa lebih dari itu sesuai dengan kemampuan individu. Harapan kami, setelah keluar dari sini, mereka bisa merubah diri sendiri. Kemudian menyebarkan luaskan ilmunya kepada keluarga, bahkan masyarakat luas. Sehingga nantinya, pelaku kriminalitas semakin berkurang,” kata pria asal Pulau Madura ini.

Menurut Habib Anis Al-Habsyi selaku pembina Pondok Nurut Taubah, pengajaran bagi ke 30 santri-napi itu, sama dengan di pondoknya. Yakni sejak pagi hingga malam, mereka diajari tentang Al-quran, seperti tajwid. Setelah faham tajwid, mereka akan di dril untuk menghafal Al-quran.

“Jadi isinya betul-betul Al-quran, yakni untuk membina spiritual mereka. Waktu belajarnya setiap hari dengan pengajar yang berbeda dari pondok kami. Mungkin nanti kami selingi dengan pembuatan kaligrafi agar mereka tidak jenuh. Supaya ada tidak kaget, karena mereka pemula. Proses penghafalannya untuk awal-awal adalah ayat-ayat pendek,” terang salah satu pengasuh Ponpes Nurul Quran ini.

Salah satu narapidan yang ikut Muhamad Faisal Syahroni Adnan, narapidana asal Kraksaan Wetan, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, mengaku termotivasi ikut program hafalan Al-quran itu.

“Saya sendiri kurang fasih dalam membaca Al-quran. Tentunya dengan adanya program ini, membuat kami tertarik untuk lebih mendalaminya. Apalagi pengajarnya dari luar rutan. Saya merasa sangat beruntung ikut program ini,” tutur pria kelahiran NTB ini. (saw/saw)