“Jagongan” di Gudel Coffe, Jujugan Para Perintis Bisnis Warung Kopi

0
573
Cahyono dan Wiwik saat meracik dan menyortir biji kopi di hadapan para pelanggan. Foto: Roziqin
Secara tak langsung, Gudel Coffe kini menjadi ikon, setelah menjadi jujugan “belajar” para perintis bisnis warung kopi.

Laporan: Ardiana Putri

BISNIS warung kopi dengan berbagai konsep kian menjamur. Tak terkecuali di Pasuruan. Mulai dari warung kopi dengan segmentasi pelanggan menengah ke bawah hingga kedai kopi berkonsep kafe, untuk kalangan menengah ke atas.

Cahyono Priambodo dan Wiwik adalah salah satu dari sekian pebisnis warung kopi yang ada di Pasuruan. Pasangan suami istri (pasutri) ini, sudah tiga tahun merintis bisnis kopi. Berawal dari kecintaannya terhadap segala hal yang berhubungan dengan kopi, sejoli ini bertekad untuk mendirikan sebuah kedai kopi dengan konsep rumahan.

“Kebetulan memang rumah saya di dalam gang dan tidak jauh dari jalan raya, jadi kenapa tidak mencoba berbisnis kedai kopi di rumah sendiri,” ungkap Cahyono.

Pasangan suami istri yang akrab disapa Om Cahyo dan Tante Wiwik ini menamai kedai kopi sederhana mereka, Gudel Coffe.

Tak sulit menemukan lokasi Gudel Coffe. Hanya perlu melewati jalan raya Palang 29 Lemahbang, Sukorejo, Kabupaten Pasuruan kedai ini, harus masuk ke dalam gang sejauh 50 meter terlebih dahulu, karena memang lokasinya, tak berada persis di pinggir jalan.

Gudel Coffee berdiri, berawal dari keinginan untuk membuat kedai kecil-kecilan dengan modal seminim mungkin. Prinsip suami istri yang telah dikaruniai tiga orang anak ini memang tak biasa. Tak melulu pusing perihal finansial, kemauan keras, menurut mereka adalah kunci utama.

Meski terlihat sederhana, namun peralatan membuat kopi di Gudel Coffee tergolong lengkap mulai dari rockpresso, alat membuat espresso manual, grinderr, syphon, french press plunger, vietnam drip, mokapot, dan beberapa peralatan barista lainnya.

Selain memberi kesan sederhana pada kedainya, Cahyono dan Wiwik sengaja mengusung konsep ngopi sembari belajar tentang kopi. Hal ini, selain untuk memberikan kesan nyaman, Gudel Coffe mencoba memberikan edukasi perihal perkopian pada setiap pelanggan yang datang. Mulai dari mengenalkan berbagai jenis kopi, mengajarkan cara meracik kopi, serta membeberkan rahasia tentang khasiat di balik kopi. Terbukti, setiap pelanggan yang datang ke Gudel selalu kembali lagi bahkan membawa teman.

“Meski tidak selalu ramai, tapi tiap harinya pasti ada saja yang datang, bahkan sering juga yang dari luar kota,” ungkap Cahyo.

Cahyono, terlihat lebih menggebu-gebu ketika berkenalan dengan orang baru yang datang ke kedainya. Seperti tak ada sekat, karena setiap pelanggan, ia anggap kawan lamanya.

Berbeda dengan sang suami, Wiwik terlihat lebih teduh dan santai. Tak banyak bicara memang, namun motivasi dan cerita-cerita yang ia lontarkan membuat siapapun yang datang seakan langsung terlecut semangatnya, untuk membulatkan tekad berbisnis kopi.

“Saya malah senang kalau ada yang ingin sharing tentang kopi, saya layani. Karena itulah banyak yang datang ke sini untuk saling belajar tentang kopi,” ungkap Cahyo.

Yonal dan Yahya, dua sekawan yang tengah merintis bisnis warung kopi di Kota Pasuruan, merupakan satu dari beberapa orang yang datang, untuk belajar tentang seluk-beluk berbisnis warung kopi. Mereka mengaku tercerahkan, setelah jagongan di Gudel Coffe.

“Ke sini dapat rekomendasi dari kawan. Tadi kami sharing banyak dengan Om Cahyo dan Tante Wiwik, ide yang kami konsultasikan jadi makin cerah, padahal sebelumnya hanya di awang-awang,” ungkap Yonal.

Menurut Yahya dan Yonal pula, Gudel Coffe dicari karena tempat ini menyediakan kopi Kapiten, kopi asli Kabupaten Pasuruan. Biji-biji kopi lokal yang ada di 8 Kecamatan di Kabupaten Pasuruan , seperti Kecamatan Tutur, Purwodadi, Pasrepan, Lumbang, Puspo, Prigen, Purwosari dan Tosari turut dikenalkan pula ke masyarakat luas oleh Cahyo.

Menjadi jujugan para perintis bisnis warung kopi, secara tak langsung Gudel Coffe, akhirnya menjadi ikon. Cahyono dan Wiwik mengaku sangat bersyukur dan bahagia menikmati hari-harinya berkutat di dunia perkopian. “Sebisa mungkin kita hidup, harus bisa bermanfaat untuk orang lain, batin kita tenteram dengan itu,” tutup Wiwik. (*)