Ciptakan Kreasi Boneka Tangan dan Lagu Anak untuk Alternatif Pembelajaran

800
Hari Widyanto (51) dan Nurul Khoiriyah (50), sepasang suami istri pencipta boneka dan lagu anak. Foto : Ardiana Putri
“Tontonan yang kurang mendidik mau tidak mau pasti dikonsumsi anak-anak, apalagi ketika mendengar anak-anak sangat fasih menyanyikan lagu dewasa yang liriknya sangat tak mendidik, saya miris,”

Laporan: Ardiana Putri

ANAK-anak siswa sebuah TK di Pasuruan tengah fokus dan asyik sambil terlihat cekikikan menonton pertunjukan boneka tangan. Boneka tangan yang dipertontonkan itu dipanggil Siba-Sibu oleh anak-anak.

Boneka seukuran tangan dewasa, berbentuk koala dengan warna putih untuk Siba dan hitam untuk Sibu.

“Siba dan Sibu ini kepanjangannya sisi baik dan sisi buruk. Menjadi perlambang dua sisi kehidupan manusia. Sisi baik harus dicontoh, sedangkan sisi buruknya harus dihindari,” jelas Nurul Khoiriyah.

Hari Widyanto (51) dan Nurul Khoiriyah (50), sepasang suami istri ini memang telah berpuluh-puluh tahun bergulat dengan dunia anak-anak. Kepeduliannya terhadap dunia anak ini, mereka tuangkan dalam berbagai media untuk membantu anak-anak memperoleh pendidikan karakter alternatif.

Nurul Khoiriyah, atau yang akrab disapa Bunda Oi ini memang memiliki latar belakang sebagai guru TK semasa mudanya. Sedangkan suaminya, Hari Widyanto atau yang lebih akrab dipanggil Pak Wyn dikenal sebagai seorang senimanj. Jiwa seninya tumbuh secara alami sejak ia kecil.

Keresahan-keresahan yang dialami Bunda Oi semasa mengajar di TK, melecutkan semangat menciptakan kreasi boneka tangan untuk menghibur sekaligus memberikan nilai edukasi bagi anak-anak. Ditambah dukungan dari suaminya yang seniman itu.

Di era milenial dengan kecanggihan teknologi dan banjirnya informasi seperti saat ini menurut Wyn, anak-anak dapat dengan mudah mengakses apapun yang mereka inginkan. Termasuk tontonan dan lagu yang tidak pantas dinyanyikan oleh anak-anak.

“Tontonan yang kurang mendidik mau tidak mau pasti dikonsumsi anak-anak, apalagi ketika mendengar anak-anak sangat fasih menyanyikan lagu dewasa yang liriknya sangat tak mendidik, saya miris,” ungkap Wyn sambil mengelus dada.

Beberapa lagu dengan lirik yang mudah diserap anak-anak juga diciptakan. Lagu-lagu itu tak jarang dilantunkan anak-anak saat belajar dan senam bersama.

Siba dan Sibu, tak seperti cerita dongeng yang mengusung cerita fantasi. Mereka datang dengan cerita keseharian yang diharapkan dapat dengan mudah dipahami oleh anak-anak sehingga mereka dapat meniru nilai-nilai kebaikannya.

Batin Oi dan Wyn puas dan tenteram setiap kali ada wali murid yang bilang, anak-anak mereka belajar lebih mandiri dan memahami hal-hal baik dan buruk saat mengingat Siba dan Sibu.

“Kalau bangunnya malas, mereka langsung diingatkan dengan cerita Siba-Sibu, sang anak langsung bangun dan malah lebih rajin,” kata Oi menirukan apa yang disampaikan wali murid.

Sayangnya, pemerintah daerah seakan kurang mendukung dengan upaya yang dilakukan suami istri ini.

Wyn, pernah mengusulkan lagu-lagu yang mereka ciptakan untuk dipatenkan kepada pemerintah. Namun, pemerintah seakan tak memberi respon positif untuk ini. Kecewa dengan sikap yang dilakukan pemerintah, Wyn dan Oi pun mendaftarkan lagu-lagu anak yang mereka ciptakan ini secara mandiri tanpa bantuan pemerintah.(*)