Geliat Kopi Madu Kalidandan

990
Kopi merupakan salah satu komiditi penting yang dihasilkan warga di wilayah Kecamatan Pakuniran, salah satunya di Desa Kalidandan. Sejak setahun terakhir, ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) Subur V, memproduksi bubuk kopi. Produksi kopi bubuk ini untuk mengantisipasi anjloknya harga kopi saat panen raya.

Sundari Adi Wardhana, Probolinggo

DAPUR rumah Diman (54), warga Desa Kalindandan, Kecamatan Pakuniran terlihat sibuk. Setiap hari, ibu-ibu rumah tangga menyangrai kopi robusta hasil hutan Pegunungan Hyang atau Argopuro. Ada 5 kilogram biji kopi kering yang disangrai saat itu. Dengam menggunakan tungku berbahan bakar kayu, perlahan-lahan, biji kopi itu diaduk. Setelah warnanya cokelat kehitaman, biji kopi diangkat dari perapian.

Setelah didinginkan, biji kopi itu ditumbuk halus dengan alat manual. Lantas ditimbang untuk dikemas dalam kemasan berukuran 200 gram.

Diman termasuk dalam Poktan Subur V. Ada 3 varian bubuk kopi diproduksi, yakni Kopi Robusta, Kopi Coklat, dan Kopi Madu.

Varian Kopi Robusta, merupakan bubuk kopi tanpa campuran apapun. Sementara Kopi Coklat adalah bubuk kopi yang dicampur dengan bubuk kakao dengan perbandingan 1:1/4. Terakhir, yakni Kopi Madu adalah bubuk kopi yang sebelum disangrai, difermentasi dalam balutan madu hutan. Permentasi itu dilakukan selama 24 jam, yang kemudian dilanjutkan dengan penjemuran sebelum disangrai.

Kopi madu inilah yang banyak dicari konsumen, karena rasanya berbeda. Sedikit kecut dengan aroma madu murni.

“Sejak awal tahun ini, kami memproduksi bubuk kopi. Sebagai pengembangan dari panen kopi petik merah kami. Sebelumnya, kami mengolah kopi ceri hasil panen dalam bentuk HS (hards Skin) alis biji kopi dengan kulit tindak. Ya, untuk mendapatkan nilai tambah, apalagi tren minum kopi sudah mewabah di kalangan kaum muda,” kata Sekretaris Poktan Subur V, Maria Ulfa.

Kemasan dalam ukuran 200 gram tersebut mempunyai harga bervariasi. Untuk jenis Kopi Robusta dijual Rp20 ribu, Kopi Coklat Rp23 ribu dan Kopi Madu dijual Rp25 ribu per bungkusanya. Dalam sebulan, tak kurang dari 500 bungkus berpindah tangan ke konsumen. Penjualannya sudah merambah ke Malang dan Surabaya.

“Penjualannya selain melalui getok tular, juga melalui sosial media (Sosmed). Semuanya merupakan produk asli hutan Kalidandan di Lereng Argopuro, tanpa sentuhan produk kimia. Sehingga benar-benar alami alias organik. Mungkin itulah, yang menjadi nilai tambah sehingga disukai konsumen,” kata mahasiswi Universitas Nurul Jadid ini.

Ketua Poktan Subur V, Diman menuturkan, tanaman kopi robusta di desanya tumbuh subur dan diusahakan sejak puluhan tahun silam. Meski begitu, keberadaannya kerap diabaikan oleh warga dan tidak menjadi komiditi utama. Sebab, pamornya kalah dengan pisang. “Tapi pada sekitar sepuluh tahun yang lalu, pohon pisang rusak diserang hama. Sehingga fokus warga beralih ke kopi,” tuturnya.

Setidaknya ada 100 hektar lahan dengan produksi mencapai 200 ton per tahun. Namun, seiring menuanya pohon, maka kini hanya mampu memproduksi separuhnya saja. “Kami di bawah bimbingan teknis penyuluh pertanian, melakukan peremajaan dengan teknik okulasi sejak 2 tahun lalu. Peremajaan itu berbuah manis pada tahun ini. Produksi cukup bagus, yang kemudian ditambah dengan inovasi pengolahan,” ungkap Diman.

Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Pakuniran, Endang Widayati, mengatakan areal perkebunan kopi di wilayahnya mencapai 257 hektar yang tersebar di lereng Argopuro. Dengan semakin ketatnya persaingan produk pertanian, maka mau tidak mau petani maupun pekebun harus berinovasi.

“Kami dorong untuk berinovasi agar ada nilai tambah. Yang tentunya juga akan berefek pada peningkatan ekonomi mereka juga. Di Desa Kalidandan, ada 5 poktan dengan speasilisasi tersendiri. Namun, mereka saling melengkapi satu sama lainnya,” terang Endang. (*)