Pemandu Sorak Persekabpas Dihajar Satpol PP

316
Ilustrasi

Pasuruan (wartabromo) – Para Sakeramania, penggemar Persekabpas, pasti mengenal sosok Indah Sang Pemandu Sorak. Dialah yang dulu membakar semangat ribuan suporter untuk memberikan dukungan pada tim pujaanya. Gerakannya yang lincah dan lambaian tangannya yang gemulai menghipnotis Sakeramania. Ya, kisah manis Persekabpas tentu tidak bisa dilepasnya sosok perempuan asal Grati ini.

Namun waktu berlalu dan nasib berubah. Indah kini harus menjalani hidup sebagai pengamen jalanan. Ia mengantungkan nafkah pada uang recehan yang diberikan para pengendara di traffic light maupun penumpang bus. Kehidupan keras tersebut dijalani ibu satu anak ini dengan tabah. Penghasilan Rp 30 ribu – Rp 50 ribu yang didapatnya dicukupkan untuk menghidupi diri dan anaknya yang masih berusia dua tahun.

Selama lima tahun mengamen, berbagai kejadian pahit dialami janda ini. dari dikejar-kejar petugas, tidak mendapatkan cukup uang dan yang terparah dan membuatnya sangat kecewa adalah pemukulan yang dilakukan anggota Satpol PP Kota Pasuruan saat melakukan razia. Mirisnya, aksi kasar itu dilakukan di depan anaknya yang tak berdosa.

“Kejadiannya di Perempatan Kebonagung. Saya nggak tahu namanya, orangnya tinggi besar,” kata Indah saat datang ke Kantor PWI Pasuruan, Jalan Alun-alun Utara 6, Kota Pasuruan, Kamis (21/11/2013).

Akibat pukulan itu, ia mengalami luka lebam di sekitar mata kanannya. Pukulan keras dari petugas membuat matanya kini tidak berfungsi maksimal. Di bola matanya juga tampak bekas luka. “Pas dipukul ini merah sekali, perih dan sakit,” imbuhnya.

Sambil menangis, ia bercerita pemukulan itu dialaminya pada Sabtu (16/11) pukul 09.30 WIB. “Saya sedang mengamen. Tiba-tiba ada razia dan lalu saya kabur. Namun petugas berhasil menangkap dan baju saya ditarik dari belakang, dia bilang, Koe wedok tapi koyok bajingan (kamu perempuan tapi kayak bajingan),” kisahnya.

Mendapat kata-kata kasar dan tidak pantas, Indah marah dan membalas dengan kata kasar pula. Namun kata kasarnya membuat si petugas semakin kalap dan memukulnya telak mengenai mata kanannya. “Saya dipukul lalu disuruh pergi. Anak saya langsung menangis,” ujarnya.

Indah sempat berniat melapor ke polisi, namun diurungkan karena tidak mau urusan menjadi panjang. Ia juga sudah mencoba berobat ke RSUD Bangil untuk mengobati matanya. “Kata dokter saya harus membeli obat, tapi nggak saya beli karena nggak punya uang,” ungkapnya.

Indah berharap mendapat keadilan. Meski demikian ia tidak tahu harus melakukan apa karena melapor polisi baginya tidak akan menyelesaikan masalah. Ia juga berharap mendapatkan rejeki cukup dari mengamen sehingga bisa menabung dan membuka toko kecil-kecilan. “Kasihan anak saya masih kecil sudah saya ajak mengamen,” pungkasnya. (fyd/fyd)