Misteri Kematian Saeri dan Potret Susahnya Orang Kecil Mencari Keadilan

452
Ismawati, istri Saeri/dok.wartabromo.com

Pasuruan – Sebulan lebih keluarga Saeri (35), perangkat Desa Cubanjoyo Kecamatan Kejayan yang tewas ditembak polisi, mencari keadilan. Mereka sudah mengadu ke DPRD hingga ke Propam Polda Jatim. Namun kasus ini tetap menjadi misteri. Semua perwira di Polres Pasuruan bungkam.

Dalam sebuah keterangan tertulis dari Humas Polres Pasuruan, Saeri merupakan DPO beberapa kasus perampokan. Ia terpaksa ditembak karena mencoba melawan dengan bondet dan celurit saat akan ditangkap di rumahnya, Dusun Benculuk Kulon Desa Cubanjoyo Kecamatan Kejayan Kabupaten Pasuruan, Selasa (21/1) sekitar pukul 22.00 WIB. Menurut keterangan tersebut, dalam drama penangkapan tersebut Saeri tewas di lokasi.

Namun, seluruh keterangan ini dibantah keluarga. Istri Saeri dan beberapa tetangga yang berada di lokasi saat penangkapan menyatakan polisi berbohong. Dari pengakuan mereka, Saeri tidak ditembak di tempat. Saeri juga tak melawan baik dengan bondet maupun celurit. Malam itu Saeri dibekuk dan dibawa masuk ke mobil Avanza warga hitam oleh sejumlah polisi berpakaian preman.

“Saya di lokasi saat suami saya dibawa. Tanyakan pada mereka yang bersama suami saya malam itu. Mereka semua menjadi saksi bahwa suami saya tidak melawan, tidak membawa celurit apalagi bondet,” ujar Ismawati saat mengadu ke DPRD Kaupaten Pasuruan bersama sejumlah kerabatnya pada Kamis (23/1/2014) lalu.

Pasca dibawa dengan mobil, seharian kelurga Saeri kebingungan memikirkan nasib Kepala Urusan Pemerintaha Desa Cobanjoyo tersebut. Hingga pada Rabu (22/2) malam, datang sebuah mobil ambulan milik Rumah Sakit Bhayangkara membawa jenazah Saeri. Di tubuh Saeri terdapat dua luka tembakan di bagian dada kiri dan kaki kanan. Wajah Saeri juga penuh luka pukulan benda tumpul.

Beberapa saat sebelum ambulan datang, salah seorang kelurga Saeri menerima pesan dari seseorang yang meminta menyipkan kuburan karena Saeri sudah tewas.

“Jenazah ditutup pakai plastik kemudian dibungkus kain kafan. Darahnya masih sangat banyak,” ujar  Hasan (50), tetangga Saeri, Selasa (28/1/2014).

Mendapati kenyataan itu, keluarga Saeri terutama istrinya Ismawati tak terima dan menuntut keadilan. Mereka mengadu ke DPRD hingga ke Propam Polda Jatim. Ibu satu anak yang saat ini tengah hamil 4 bulan ini menyatakan jika suaminya benar seorang penjahat, seharusnya ada proses hukum, bukan dibantai seperti binatang.

“Jika suami saya bersalah, kenapa ditembak. Kan bisa diproses hukum. Anak saya masih kecil, Pak. Siapa nanti yang membiayai,” ujar Ismawati.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pasuruan, Sutar, usai menerima pengaduan Ismawati pada waktu itu bernjanji akan mengkonfirmasi pihak kepolisian resor Pasuruan. Namun, janji tersebut tak diketahui ujung-pangkalnya.

Merasa tak mendapat dukungan, Ismawati kemudian mengadu ke Propam Polda Jatim hingga pada Petugas Propam datang menindaklanjuti laporan tersebut dengan datang ke rumah Saeri. Namun saat itu Tim Propam tak mau berkomentar.

Demikian juga Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf, sebagai atasan Saeri tak melakukan pembelaan apapun. Ia hanya mengucapkan keprihatinan dan memberikan santunan ala kadarnya kepada keluarga korban.

Alhasil, kasus ini semakin kabur apalagi sejak kasus dugaan salah prosedur penangkapan yang berujung kematian ini mencuat, tak ada satupun polisi yang angkat bicara. Seluruh perwira di Polres Pasuruan bungkam saat dikonfirmasi kasus ini.

Dan… Ismawati, istri Saeri hanya bisa pasrah. Ia menambah daftar panjang orang-orang lemah susah mendapatkan keadilan…

(fyd/fyd)