Parkir, Parkir, Parkir !

515

image

Cak Manap bukan orang kota. Maksudnya bukan warga kotamadya.Namun karena solidaritas kepada sesama pemilik warung kopi, Cak Manap sedikit menyesalkan kebijakan dinas terkait yang merelokasi warung-warung kopi di pasar Kebonagung. Niat baik dinas terkait membongkar lapak-lapak warung kopi di pinggir jalan depan Senkuko agak ke barat, lalu memindahnya ke lantai atas stand akik, membuat banyak pedagang sambat.

Pertama, percaya atau tidak, secara “gaib” tidak semua tempat di muka bumi ini cocok ditempati warung kopi.Sebab aktivitas minum kopi di warung adalah semacam rekreasi yang paling terjangkau namun begitu hebat efeknya.Orang Inggris suka melakukan ritual minum teh di sore hari, di Indonesia orang suka minum kopi.Keduanya sama-sama berfungsi sebagai ritual sakral.Saat minum teh atau kopi itulah biasanya digagas hal-hal cerdas, inspiratif bahkan kadang mistis-sufisme.

Nah, pemindahan lapak-lapak warung kopi ke lantai atas pasar Kebonagung, telah menghalangi usaha rakyat untuk menjernihkan pikiran dan mencerdaskan gagasan-gagasan dalam hidup mereka.Sebab lokasi baru stand-stand warung kopi –di stand akik—tak memungkinkan terserapnya energi positif karena terlalu pengap, saklek dan tidak nyaman.

Kedua, karena orang-orang melakukan ritual minum kopi rata-rata dari kalangan menengah ke bawah alias miskin, pemindahan lokasi itu bisa memberatkan karena beban tambahan berupa uang parkir motor.Bukannya mereka tidak ada itikad baik membantu pemasukan APBD, bukan. Setiap kali membayar pajak kendaraan bermotor mereka sudah membayar iuran, kok?.

Bukan pula mereka terlalu pelit terhadap pembangunan. Hanya saja mereka merasa begitu terbebani secara moral, karena alokasi dan aliran dana hasil parkir itu –sepertinya—belum begitu jelas. Bayangkan, jika Cak Manap kulakan ke Senkuko lalu ngopisebentar di pasar akik, Cak Manap sudah harus mengeluarkan 4.000 rupiah untuk dua kali parkir. Kalau mau membeli pakan burung, atau harus menservis HP di jalan Diponegoro sana, Cak Manap sudah harus merogoh 8.000 rupiah, hanya untuk parkir. Apalagi Cak Manap tak pernah mendapat lembaran berisi stempel dinas perparkiran sebagai jaminan bahwa hasil parkir untuk APBD. Lebih parah, jok motor Cak Manap sering “diamankan” isinya dan tak ada ganti rugi baik dari dinas perparkiran, apalagi pegawai parkir.

Dan, celaka!. Kebanyakan tukang parkir di kota ini dikuasai oleh etnik tertentu yang terkenal dengan kekurangsantunannya. Masalah uang kembalian seribu perak bisa berakhir dengan bogem mentah bahkan carok. Rakyat yang terjepit oleh berbagai masalah, apalagi kultur Pasuruan yang kota pesisir, kota khas dengan tempramen tinggi penduduknya, banyak menyebabkan percekocokan saat kita memarkir kendaraan.

Cak Manap itu orang sabar.Makanya pasrah setiap kali tukang parkir pura-pura lupa memberi uang kembalian. Ada ribuan orang sabar seperti Cak Manap di kota ini. Tapi orang-orang yang disiplin dalam menjaga haqqul adamy juga banyak. Bukan soal uang seribu perak atau pelit. Tapi kita kan tahu bagaimana hukumnya mengambil uang orang tanpa mendapat kerelaannya?. Kalau tarif “parkir” memang seribu rupiah, mohon berikan kembaliannya kalau pelanggan menyodorkan pecahan dua ribuan. Jangan pura-pura sibuk menata kendaraan lain atau ngeloyor begitu saja. Orang jadi sungkan menunggu kembalian seribu perak, meski itu haknya. Apalagi, uang sekecil itu belum cukup untuk biaya berangkat haji, semantara di akhirat kelak pasti ada pertanggungjawabannya.

Kenapa stand-stand warung kopi di pasar Poncol sepi, tidak seramai ketika direlokasi sementara di alun-alun?, alasannya adalah karena pelanggan harus membayar parkir.Dan bukan hanya soal biaya, tapi juga kesiapan mental untuk dibentak, di-pleroki, kehilangan helm bahkan diajak latihan tinju. Diajak akting main drama babak konflik antara protagonis dan antagonis. Diajak latihan silat seperti Bruce Lee. Kenapa bursa penjualan akik merosot?.Karena lokasi dipindah ke lantas atas dan pengunjung harus membayar parkir. Kenapa Giant angkat kaki ?. Bisa saja, Karena biaya “parkir” dan “pajak-pajak” terlalu tinggi di kota santri ini. Penulis | Abdur Rozaq