Karo, Sebuah Permohonan Suku Tengger akan Keselamatan dan Kedamaian Semesta

952
Sejumlah penari menampilkan tarian Sodor yang melambangkan pertambahan generasi masyarakat Karo dari waktu ke waktu. Tari Sodor menandakan dimulainya ritual adat Karo. WARTABROMO/Gesang Arif Subagyo

Tosari (wartabromo) – Suku Tengger Bromo kembali melaksanakan upacara adat Karo, sebuah upacara hari raya terbesar masyarakat Tengger yang konon masih memiliki darah keturunan dengan kerajaan Majapahit. Melalui upacara ini, warga Tengger memohon keselamatan, ketentraman dan kedamaian alam semesta.

Di Suku Tengger Kabupaten Pasuruan, pembukaan upacara adat Karo dilakukan di Pendopo AGung Wonokitri, Kecamatan Tosari, yang mulai digelar hari ini, Selasa (29/9/2015). Upacara Karo Karo berlangsung hingga tujuh hari ke depan.

Upacara Adat Karo dipimpin oleh beberapa orang yang dijuluki Ratu yang ditunjuk oleh warga. Bagi masyarakat Tengger julukan Ratu tidak berkonotasi perempuan sehingga ratu yang memimpin upacara adalah seorang pria yang ditokohkan.

Prosesi ritual Karo sendiri dimulai dengan sebuah pertunjukan yang menceritakan pertemuan kedua orang Ratu dalam sebuah tempat yang akan dipakai sebagai tempat berlangsungnya upacara. Perjumpaan tersebut melambangkan bersatunya roh leluhur atau cikal bakal manusia, yakni laki-laki dan perempuan.

Pertemuan tersebut menjadi tanda dimulainya Upacara Sodoran yakni salah satu bagian dari rangkaian Karo.

Jika para undangan dan tamu dipastikan telah hadir maka upacara karo dibuka dengan pembacaan mantera yang dilakukan oleh kedua Ratu setelah itu barulah diadakan upacara memandikan Jimat Kelontongan diiringi dengan tarian Sodor.

Jimat Kelontongan merupakan sekumpulan benda keramat. Sedangkan tarian Sodor adalah sebuah tarian yang dilakukan oleh 4 orang secara bergiliran. Tari Sodor awalnya hanya dimainkan satu penari kemudian secara simultan bertambah hingga kemudian genap menjadi 4 penari dan saling berpasangan satu sama lain. Tarian ini melambangkan pertambahan generasi masyarakat Karo dari waktu ke waktu.

Usai upacara Sodoran dilanjutkan dengan upacara Tumpeng Gede untuk mengungkapkan perasaan syukur mereka dangan hasil panen yang melimpah dan dianugerahi tanah yang subur.

Tumpeng-tumpeng tersebut dikumpulkan dari warga, lalu dimantrakan oleh dukun adat desa setempat dan dibagi-bagikan kepada warga untuk digunakan sebagai Sesandingan.

Keesokan harinya, warga menggelar upacara Sesandingan di rumah masing-masing yang bertujuan untuk memberikan makanan atau dedaharan kepada leluhur mereka. Para dukun adat desa berkeliling mendatangi rumah warganya satu persatu untuk memimpin upacara sesandingan. Ritual Sesandingan merupakan puncak upacara adat Karo.

Pada hari keempat dan kelima masyarakat Tengger berkeliling kampung untuk bersilaturahmi dengan sanak kerabat mereka layaknya hari lebaran pada umat Islam. Kemudian dilanjutkan kegiatan Nyadran ke kuburan untuk nyekar ke makam leluhur dan anggota keluarga mereka yang telah meninggal.

Makam pertama yang didatangi adalah makam kramat Sang Eyang Guru. Dukun adat melemparkan uang logam dan ayam yang telah dimanterakan sebelumnya, untuk diperebutkan anak-anak dan remaja yang hadir.

Pada hari ketujuh, dilakukan ritual Ujung yakni merupakan ungkapan rasa syukur mereka karena telah berhasil dan lancar melaksanakan upacara Karo. Para pemain saling pukul dan begitu permainan usai tak ada dendam sama sekali di hati mereka meski badan perih karena pukulan rotan.

Rangkaian upacara Karo ditutup dengan mendatangi rumah dukun adat sambil membawa kemenyan untuk dimantrakan oleh sang dukun. Kemenyan itu sendiri akan dipakai oleh keluarga masing-masing dalam upacara memulangkan arwah leluhur. Dengan ritual pemulangan roh leluhur atau biasa dikenal dengan istilah Mulehi Ping Pitu tersebut, maka rangkaian upacara Karo pun berakhir.  (*/fyd)