Mengenal WTS Langganan Santri Ngalah

706
sawah
Warung milik Agus Mulyono saat dilihat dari kejauhan. Warung tengah sawah itu dulunya adalah bekas kandang sapi milik warga. WARTABROMO / Noval

Purwosari (wartabromo) – Sebuah gubuk berukuran 5×3 meter terletak di tengah – tengah sawah antara Dusun Kembangkuning dan Dusun Pandean Desa Sengonagung Kecamatan Purwosari, Pasuruan. Ups! Jangan punya pikiran ngeres dulu, gubuk itu adalah sebuah warung yang didirikan setahun yang lalu dan kini dijadikan sebuah warung kopi favorit oleh beragam kalangan mulai dari santri Ponpes Ngalah, Sengon Agung, petani maupun warga sekitar.

Ya, warung tengah sawah atau yang akrab dijuluki dengan sebutan WTS oleh warga sekitar itu adalah warung milik salah seorang santri Ngalah asal Kota Lawang Kabupaten Malang bernama Agus Mulyono (23) atau yang karib dipanggil Wak Mul. Sebutan WTS tentu saja untuk menyingkat frasa ‘warung tengah sawah’ agar lebih gampang diingat.

Tidak ada yang istimewa dari bangunan warung ini, selain, anda bisa menikmati seduhan kopi khas ala santri sekaligus bisa menikmati pemandangan alam yang masih segar dan sawah – sawah yang masih hijau.

Ide mendirikan WTS ini berawal saat Agus Mulyono ingin berjualan kopi di asrama Putra Ponpes Ngalah, namun tak di ijinkan oleh pengurus asrama. Alhasil, Mulyono pun berusaha mencari lokasi baru dan menemukan bekas kandang sapi yang terletak tepat ditengah sawah.

Tanpa pikir panjang dengan berbekal modal sewa Rp. 400.000/bulan, Wak Mul pun mendirikan sebuah warung kopi dengan dibantu teman-temanya. Ia merenovasi tempat yang dulunya bekas kandang sapi menjadi sebuah warung yang bersih dan asyik buat nongkrong.

“Menikmati kopi di warung wak mul ini akan terasa berbeda dengan warung yang lain, sembari menyeduh kopi kita akan dimanjakan oleh pemandangan hijau persawahan di sekelilingnya, “ ujar Bolang, salah seorang santri Ngalah yang menjadi langganan WTS.

Bagi pecinta kopi, lanjutnya, angin semilir persawahan akan membuat kita menjadi lebih terasa nyaman dan lebih fresh dibanding harus ngopi di pinggiran jalan yang ramai dengan kendaraan dan polusi udara. Tak ada hiruk pikuk, kecuali sesekali terdengar teriakan petani kehabisan butiran pupuk saat sedang bekerja ke  rah temannya di bantaran sawah.

Selain menyediakan kopi, WTS milik Wak Mul juga menyajikan menu makan khas santri yakni sepiring nasi putih dan telur mata sapi (ceplok) yang disirami kecap manis tanpa ada sambal dan lauk lainnya.

“Warung ini cocok bagi para santri yang telat ketika belum dapat kiriman dari orang tua, karena cukup bayar 3.500 rupiah perporsinya,” ujar Syauqi salah seorang pelanggan lainnya.

Sayangnya, jika tiba musim hujan, WTS justru sepi pelanggan. Pasalnya, lokasi warung yang berada di tengah sawah dan akses jalan yang ekstrim membuat warung dengan menu santri Ponpes ini pun menjadi sepi. Meski demikian sama sekali, tak membuat pemiliknya bersedih hati.

“Yang penting bisa buat nyambung hidup saya aja mas, Warung tengah sawah tanpa keluh kesah, hanya canda dan tawa,”Seloroh Wak Mul, Pemilik warung yang dikenal bersahaja dan memiliki racikan kopi yang khas. (nov/yog)