Pasangan Asal Singapura Pre Wedding di Tengah Erupsi Gunung Bromo

534
Pasangan calon pengantin tengah melakukan sesi pemotretan pre wedding dengan latar Gunung Bromo yang tengah erupsi. WARTABROMO/Sundari A W

Sukapura (wartabromo) – Pesona Gunung Bromo tetap menawan meski tengah mengalami erupsi. Tak heran, jika kawasan wisata ini menjadi buruan wisatawan untuk diabadikan sebagai tempat pre wedding.

Di tengah erupsi yang terjadi, keelokan alam kawasan Gunung Bromo, tetap menyimpan sejuta pesona. Buktinya, kawasan wisata yang berada ketinggian 2.329 mdpl ini, masih menjadi favorit wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Bahkan tak sedikit yang mengabadikannya sebagai latar foto sebelum pernikahan atau pre wedding.

Seperti yang dilakukan pasangan Vincent (29) dan Hui Ting (25), warga negara Singapura.  Bagi pasangan ini, pesona kawasan wisata Bromo sangat mempesona. Sehingga ingin menyatukan keindahan Bromo dalam keabadian cinta mereka. Salah satu caranya adalah dengan melakukan pre wedding di kawasan ini.

“Karena saye rasa bromo sangat cantek, lepas ini ambil gambar for my pre wedding shooting, for my memori lah,” ujar Hui Ting dengan dialek Melayu bercampur bahasa Inggris khas negeri Singa, di kawasan wisata di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura.

Pasangan ini mengaku tidak takut dengan erupsi yang tengah melanda Gunung Bromo.  Malah semakin erupsi itu membuat Bromo semakin eksotis. Apalagi, kunjungan kali ini bukan yang pertama kalinya. “Sudah dua kali. Tak takut, Bromo bagus sekali,” kata keduanya dengan kompak.

Hingga saat ini, Senin (18/1/2016), erupsi Gunung Bromo terpantau fluktuatif. Kepulan asap membubung dengan ketinggian 1.200 mdpk atau 3.529 mdpl. Mengarah barat dan barat laut atau daerah Kabupaten Malang dan Kabupaten Pasuruan.

Tim Tanggap Darurat Bromo Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVBMG), kembali rutin melakukan pengamatan melalui alatelectronic distance measurement (EDM). Pasalnya, dari kawah Gunung Bromo terdengar suara gemuruh menerus bertekanan kuat. Suara gemuruh keras ini juga disertai gempa letusan dengan amplitudo maksimal mencapai 37 milimeter dengan durasi 20 hingga 80 detik.

“Rata-rata terjadi selama empat kali setiap 6 jam. Menandakan bahwa produksi magma dalam perut kawah merangksek naik menuju permukaan. Hal ini diperkuat dengan sinar api, yang juga intens memancar dari dalam kawah,” ujar Ketua Tim Iing Kusnadi. (saw/fyd)