Kitab Kuning dan Ejakulasi Dini

1563

IMG_20160126_123600-650x450Membaca sekilas kitab-kitab kuning milik istrinya, Firman kagum dengan para penulis kitab itu. Meski belum becus membaca kitab-kitab gundul, Firman ”bisa” merasakan kepadatan isinya. Paling tidak Firman ”tahu” jika kitab-kitab tersebut ditulis dengan metodologi tak banyak basa-basi. Prolognya tak terlalu panjang, tanpa rumusan masalah atau latar belakang penelitian yang sering hanya berfungsi sebagai penebal halaman. Bahasanya tidak bertele-tele dan setiap paragraf mengandung isi amat padat dan efisien. Tidak boros terori dan selalu to the point. Hampir setiap paragraf berisi permasalahan sekaligus pemecahannya. Tidak seperti buku-buku dari abad kita: baru bisa ditarik kesimpulan setelah kita rampung membaca beratus-ratus halaman berisi paragraf-paragrafmubaddzir. Deskripsi masalah tidak mbulet seperti buku tulisan profesor Bloceng. Memang ada catatan kaki, namun hanya berfungsi sebagai penguat pendapat penulis. Tidak seperti buku-buku di zaman kita yang hanya merangkum beberapa buku, ditulis kembali dan kita akui sebagai karya sendiri.

Ketakjuban Firman semakin berlipat ketika membuka tafsirJalalain. Kitab megabest seller itu memang ditulis Imam Jalaluddin Muhamammad dan imam Jalaluddin Abdurrahman dengan tingkat keseriusan ilmiah tak main-main. Referensinya amat melimpah : ribuan hadits ber-sanad kuat, asbabun nuzul ayat, asbabul wurudhadits dan keterangan nasikh mansukh. Belum lagi teknik penulisan yang ditunjang dengan penguasaan ilmu tata bahasa, logika, struktur kalimat dan asal kata, antonim-sinonim satu kata yang dalam bahasa Arab bisa terdapat puluhan, bahkan abstraksi sebuah kata yang kadang berhubungan dengan sebuah hadits tak terkenal—dan sering kita sebut maudlu’ itu.

Sebuah ayat saja dijelaskan latar belakang diturunkannya secara perinci menggunakan rumus 5W dan 1H. Siapa para pelaku sejarah, kapan, dimana, kenapa, apa dan bagaimana ayat itu diturunkan. Apa saja hadits pendukungnya meski hanya sebuah hadits dengan sedikit keterkaitan tema sedikit saja. Bahkan sebuah huruf pun, diteliti makna serta fungsinya.

Seperti kita tahu, bahasa Arab adalah bahasa paling sempurna struktur, keindahan serta maknanya. Satu huruf ba’ saja bisa memiliki lebih dari satu makna serta fungsi. Sebuah kata bisa bermakna universal sesuai konteks dan susunan kata sebelum serta sesudahnya. Dan bahkan, harokat atau tanda baca sebuah huruf pun, bisa membuat perbedaan makna amat jauh.

Kelebihan kitab-kitab kuno dibanding dengan buku-buku zaman sekarang juga terletak pada sportifitas para penulisnya yang anti plagiarisme.

Selanjutnya, jika saat ini kita tiba-tiba menyangsikan kualitas mahakarya para maestro masa lalu itu, menyangsikan ”kebenaran” teori beliau-beliau, apalagi menolak dengan mengatakan ”sangat naif jika kita memecahkan masalah dengan merujuk pada hasil penelitian beberapa abad lalu, dimana dialektika sosial, budaya serta perkembangan teknologi belum terlalu gawat” atau ”Islam akan konstan jika segenap permasalahan dipecahkan berdasarkan wasiat para almarhum”, maka pertama, kita mungkin termasuk prototipe manusia sok tahu. Kenapa begitu?, karena ternyata kitabelum mengerti benar gelegak budaya keilmuan yang berkembang pada masa lalu – terutama periode Abbasiyah—tapi buru-buru memberangus hasil ijtihad para maestro masa lalu itu. Kita terlalu nekat, terlalu berani menyangsikan kualitas keilmuan para megabrilian yang sportifitasnya tak hanya sebatas dalam pengawasan rektor penguji tesis tapi bahkan Sang Mahatahu, Allah sendiri, padahal kita baru menghapal satu dua matan (teks) hadits di kalender. Kedua, mungkin kita termasuk prototipe penggila tajdid, baru mengenal Islam setelah masuk perguruan tinggi, mendengar kultum dengan muqaddimah bahasa Arab belum fasih, membaca buku-buku Islam terbitan para orientalis, dicuci otak oleh seorang mentor yang belajar membaca Al Quran degan huruf latin serta segenap kegiatan berislam secara instan, tapi sudah ikut-ikutan menjastifikasi bahwa kitab-kitab kuno sudah tidak relevan karenakita masih buta dengan isi kitab-kitab tersebut. Ketiga, bisa juga kitaadalah orang iseng yang berideologi musiman.

Memang tidak salah jika kita kritis dan sedikit nyinyir. Paling tidak, itu menunjukkan jika kita memiliki kepedulian terhadap perkembagan pemikiran Islam dewasa ini. Memiliki ghirrah luar biasa untuk ”memasukakalkan” serta meng-up date Islam agar tak ketinggalam zaman. Sayangnya, kita kadang ceroboh memangkas semua peninggalan masa lalu. Pintu ijtihad memang masih terbuka hingga kini, tapi tak sembarang orang bisa memasukinya, menjadi pelaku. Ada kompetensi-kompetensi tertentu yang harus kita penuhi agar layak menjadi penerjemah bahasa Al Quran ke dalam bahasa bumi. Jika tidak, maka sebaiknya kita dalami dulu disertasi-disertasi karya para doktor masa lalu itu. Belum perlu membuka jalan sendiri karena jejak tersebut masih terlalu lapang. Kita sih, kurang jauh menapakinya.