Derita Bocah Probolinggo Penderita Hidrosefalus, Tak Ada Biaya Berobat

993
Bocah penderita hidrosefalus tak bisa berobat karena tak ada biaya. (Foto: Sundari AW)

Kraksaan (wartabromo) – Senyum Siti Hayati (42), tetap tersenyum mengembang ketika didatangi Wartabromo.com, Rabu (16/11/2016). Ia seolah tak ingin kepedihan hatinya terlihat orang lain. Bagaimana ia tidak bersedih, putra satu-satunya Risky Firmasnyah (8), tak kunjung sembuh dari penyakit hidrosefalus.

Siti Hayati menuturkan, penyakit hidrosefalus itu dideritanya sejak lahir dan tak kunjung diobati karena keterbatasan ekonomi keluarga. Meski, beberapa tahun lalu Risky pernah menjalani operasi di Surabaya, namun usaha itu tak cukup untuk memberi kesembuhan bagi buah hatinya.

“Risky lahir dengan berat 1 kilo tujuh ons, ketika usia kandungan masih tujuh bulan. Dia lahir secara normal, namun ketika berusia tiga bulan, dia sakit. Oleh dokter didiagnosa penyakit hidrossefalus, dan ketika berumur 1,6 tahun ia di operasi,” tutur wanita yang tinggal di Jalan Taruna RT 03 RW 04, Kelurahan Kraksaan Wetan, Kecamatan Kraksaan ini.

Layaknya bocah normal seusianya, Risky tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Jangankan bermain, untuk mengangkat kepalanya saja putra pasangan Siti Hayati dan Junaidi (43) ini harus menahankan sakit. Tak jarang dia menangis seharian ketika menahankan rasa sakit itu selama bertahun-tahun. Belum lagi asupan gizi yang didapatkannya tidak sebaik balita lainnya, karena setiap harinya ia hanya minum susu dan bubur.

Sebenarnya usaha sebagai ibu kandung yang memperjuangkan kesembuhan anaknya ini layaknya bayi normal lainnya sudah ia lakukan. Namun, karena pendapatan suaminya sebagai tukang bangunan tak memadai untuk membiayai pengobatannya.

“Akan tetapi sebagai seorang ibu, saya berusaha tegar dan tabah.Ini ujian dan cobaan dari Allah SWT,” ujarnya. (saw/fyd)