Ada Begal, Tekan Tombol Panic Button

546

Kraksaan (wartabromo.com) – Kasus pembegalan saat ini, kian marak terjadi di Indonesia, tak terkecuali Kabupateen Probolinggo. Bagi warga di wilayah hukum Polres Probolinggo, tak perlu panik ketika dibegal. Cukup tekan tombol Panic Button, polisi akan segara mendatangi lokasi dan menangkap penjahatnya.

Tombol Panic Button ini terdapat dalam aplikasi Polisi Progresif yang bisa didownload oleh pengguna smartphone Android dan Iphone. Pengguna cukup memencet tombol darurat saat berada dalam bahaya tindak kejahatan kriminal. Setelah itu akan ada sinyal alram langsung ke server Polres, Polsek, bahkan berdering di setiap smartphone yang dimiliki anggota polisi.

Pasalnya aplikasi darurat ini terkoneksi internet dan GPS, sehingga posisi pelapor bisa diketahui. “Namun sudah ada fitur keamanan yang menjaga server aman dari pembajakan. Melalui fitur itu bisa diketahui apakah pelapor hanya main-main atau memang serius,” jelas Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin, Jumat (3/3/2017).

IMG-20170303-WA0049

Selain Panic Button ada menu laporan, yang memungkinkan pengguna melaporkan foto dan video kejadian serta deskripsinya. Dia memisalkan kejadian kecelakaan yang bisa langsung diupload pada menu laporan pada aplikasi tersebut.

Selain itu ada menu pencarian lokasi misal lokasi RSUD terdekat, menu berita, call center misal untuk mencari nomor pemadam kebakaran dan informasi yang sejauh ini berisi info tentang BPKP, SIM, dan SKCK. Aplikasi itu merupakan satu kesatuan Program Bromo Perkasa.

“Dibanding dengan periode yang sama pada tahun 2016, untuk dua bulan diawal 2017 ini, tingkat kriminalitas di wilayah hukum Polres Probolinggo menurun hingga 50 persen.  Aplikasi ini terinspirasi dengan adanya perkembangan Teknologi Informasi Dan Komunikasi (TIK) dan upaya memberikan pelayanan yang cepat dan efektif,” ungkap mantan Kasubdit III Ditresnarkoba Polda Metro Jaya ini.

Aplikasi ini diciptakan oleh enam mahasiswa jurusan Informatika  STT Nurul Jadid Paiton selama dua bulan. Mereka yakni dirinya Rizal Sulton, Ahmad Supriadi, Isbatul Baitz, Muhammad Ulinuha, serta si kembar Dwi Hariyanto dan Dwi Evayanto. “Kesulitannya yakni ketika mengintegrasikan aplikasi dengan Google Maps dengan GPS (global positioning system). Kita mempelajari dulu dari awal program sinkronasi dan yang kaitannya dengan itu,” jelas Rizal Sulton, ketua tim. (saw/saw)