Tragedi Tahu Bulat

2645

“Iya ya, ternyata kita ini belum merdeka secara ekonomi?” Arif manggut-manggut.

“Belum merdeka di segala bidang, Rif. Kemerdekaan dan tujuan kemerdekaan hanya bagi orang berkeki dan bersafari, rakyat jelata seperti kita masih terjajah.”

“Jangan asal jeplak mas. kena HAM nanti sampeyan.”

“He he he, pengesahan HAM itu memang dalam rangka melindungi kaum seperti itu. Jadi kalau punya akal bulus, diprotes, jurus silat lidah dan rompi antipeluru bernama HAM sudah tersedia.”

“Sudah, mas. Ndak ilok ngerasani mereka terus. Nanti dikira iri.”

“Ya, lagi pula kaum otot kawat balung wesi dan rai cor ndak akan rumongso meski kita pledingi.”

“Kalau menurut saya, Mas Firman, ekspansi tahu bulat itu adalah perintis waralaba lokal yang patut kita contoh. Bahwa mencari rejeki, tidak harus terus ngenger sama program-program ndak jelas pemerintah, ngenger sama pemilik pabrik apalagi makelari bongso dewe. Kalau setiap orang punya inisiatif membikin lapangan kerja sendiri, lambat laun roda perekonomian akan bergeser secara perlahan. Ini patut kita tularkan kepada anak-anak kita yang akan lulus dari SMA, biar ndak terbiasa menyebar lamaran kerja untuk menjual murah potensi diri mereka yang masih hot jos gandos.”

Baca Juga :   Penjual Bakso Gempol Diduga Meninggal Akibat 'Keslepek' Asap Kebakaran

“Itu bagi anak-anak yang saat sekolah serius, Rif. Tapi bagi mereka yang hanya rajin membolos, menelan pil buat kucing apalagi pernah njotosi guru, profesi yang cocok mungkin menjadi pengurus partai, bukan wiraswasta begitu.”

“Ah, sampeyan mas. Kok ndak omes temen sama anak-anak alay.”

“Lha bagaimana lagi, wong dieman ndak mau?”

“Lha menurut sampeyan, bagaimana cara menularkan semangat berwiraswasta seperti sedulur-sedulur penjual tahu bulat itu?”

“Sulit, Rif. Perlu adanya hidayah nasional untuk merubah mind set menjadi petarung begitu. Kita ini adalah bangsa yang suka mlungker di zona aman. Makanya, profesi idaman setiap manusia Indonesia adalah pegawai yang ada NIP nya. Aman dari pemecatan meski kerja sak enake dewe, ndak ada target, bisa ngopi atau ke swalayan kapan saja sementara bayaran rutin mundak. Tunjangan ini-itu, bahkan anak –istri yang ndak ikut “berkontribusi” apapu terhadap negara, kalau pilek dirawat negara. Mungkin, kita perlu gembar-gembor kalau wiraswasta itu asyik. Ndak dipisuhi keragan, targetnya hanya pada diri sendiri dan kalau untung, seratus persen kita kesak dewe.”

Baca Juga :   Terduga Teroris M. Lutfianto Dimakamkan

“He he,benar mas. Saya lihat sampeyan saja, kalau buka lapak potong rambut sak enake dewe. Kalau ndak mood dan semangat ingin keluyuran sedang tinggi, sampeyan bisa tutup sak enake dewe.”

“Na, ini yang ndak benar. Jangan ditiru cara saya mengelola lapak cukur rambut. Sebab itu hanya kamuflase agar mertua ndak rutin “khotbah Jum’at” karena masih saja berperan sebagai semacam IMF. Kita tiru ekspansi tahu bulat itu. Ya kerja kerasnya, mental bajanya, ya berani resikonya.”