Cawet Wesi Anti Zina

2793

“Masa iya?” cibir Mas Bambang.

“Dulu saat kita hanya makan telo, anak muda lugu-lugu. Pacaran hanya lewat surat. Jangankan ketemu, melihat pagar rumahnya saja sudah girang. Jangankan longgoh jejer, sandalnya jejer saja sudah senang.”

“Kita harus bertindak, sedulur sedoyo! Kita minimalisir wabah zina, terutama di kalangan remaja. Sebab kalau masih anak-anak saja sudah berani berbuat cabul, bagaimana nanti kalau sudah jadi orang?” semprot Firman Murtado.

“Ndak mungkin, mas. Sudah terlalu kompleks penyakit ini.”

“Ya jangan pesimis dulu lah, Mas Bambang. Paling tidak kita awasi dulu anak dan keponakan masing-masing. Kita kontrol pergaulannya. Kita sekolahkan ke pesantren atau madrasah. Jangan terlalu bebas memberikan akses informasi. Kalau bisa jangan diberi gadget karena meski anak gadis kita tiduran di kamar, mereka masih bisa janjian di kebon pisang lewat berbagai aplikasi. Tiap malam chattingan melalui berbagai macam saluran informasi, lalu pamit belajar kelompok atau ikut ekstrakurikuler tapi malah main adu kelamin.”

Baca Juga :   Viral! Turis Banting Petugas di Bromo

“Betul kata Mas Bambang, wabah zina di kalangan pemuda ini memang rumit permasalahannya. Kalau mau kita kendalikan, mesti kerja keras, melibatkan semua orang, perlu analisa matang dan kemauan untuk menyelamatkan umat. Sebab rumitnya minta ampun. Seorang anak yang berani melakukan zina, kadang itu karena dosa orang tuanya. Kalau orang tuanya pernah perzina, memberinya makan barang haram dan ndak memberi benteng iman, pasti anaknya akan terjerumus.” Urai Gus Hafidz.

“Kita juga perlu kampanye terhadap anak-anak gadis atau keponakan masing-masing, bahwa mulut laki-laki itu, meski masih bau kencur, sangat beracun.  Kalau ndak percaya, suruh mereka buka mulut. Pasti lidahnya bercabang seperti lidah ular. Apalagi, para bajingan kelamin itu sudah kursus mempengaruhi pikiran para gadis yang kalau pacaran selalu menggunakan perasaan. Jadi klop, yang perempuan mengedeapankan perasaan, yang laki-laki mengandalkan logika untuk mempengaruhi alam bawah sadar.”

Baca Juga :   Beraksi dan Beraspirasi dalam Gebyar Forum Anak 2018

“Ya jangan menyalahkan bocah laki-laki saja, mas Firman Murtado. Bocah perempuan sekarang juga tak kalah kemenyeknya. Pameran paha sak dalan-dalan. Foto selfie ala suku pedalaman Afrika hampir tiap saat biar bocah laki-laki ngiler. Kadang sudah dari sononya doyan pil kucing. Pas ndak punya uang tapi pingin teler, kehormatannya dibarter lima butir pil kucing.” Benar juga Mas Bambang.

“Ya mungkin kata saya tadi. Begitu akil baligh, anak-anak perempuan kita pasangi cawet besi, gemboknya pakai nomor kombinasi.”

Penulis : Abdur Rozaq (wartabromo.com)